RSS
 

Archive for August, 2011

Kesombongan Intelektual

22 Aug

Pertama kali datang ke masjid itu, ia melihat kondisi yang menyedihkan. Beberapa sajadah seperti berbulan-bulan tidak terkena air. Beberapa ruangan masjid tampak kotor. Pojok eternit sudah dikuasai laba-laba. Toiletnya sudah jarang digunakan kecuali terpaksa. Bukan apa-apa. Baunya sungguh luar biasa.

Hari itu juga, ia menemui pengurus masjid dan mengutarakan maksudnya. Ia ingin mengabdikan diri sebagai Merbot di masjid itu. Tanpa perlu digaji. Sebagai lulusan sebuah pondok pesantren besar di Jawa Timur, yang masih diselimuti idealisme, ia tergerak untuk membereskan kondisi masjid itu.

Hari itu juga, jadilah ia merbot di masjid itu. Ia pun mulai bersih-bersih. Sajadah-sajadah dicuci bersih. Tikar-tikar dibersihkan. Sarang laba-laba diberangus. Toilet pun disikat bersih. Semuanya menggunakan alat yang sederhana.

Siang itu ia makan dengan menggunakan uang sisa bekalnya. Hari-hari berikutnya, ia berupaya untuk mencari makan dari warung-warung makan yang tidak jauh dari masjid. Ia tidak meminta-minta. Ia menawarkan jasa jadi pencuci piring di warung-warung itu, untuk sekedar mendapatkan makan sehari-hari.

Masjid pun jadi lebih rapi. Tidak ada lagi sarang laba-laba di pojok dinding. Sajadah berbau harum ketika dicium orang bersujud. Toilet bersih dan wangi. Ia pun semakin disukai pengurus masjid.

Sekali waktu, petugas pelantun adzan di masjid berhalangan. Dengan sukarela, ia bertugas sebagai muadzin pengganti. Dan suaranya ternyata lebih merdu dibandingkan dengan petugas sebenarnya. Akhirnya, setelah beberapa kali bertugas, ia pun ‘naik pangkat’ menjadi pelantun adzan. Meski begitu, tugas sebagai merbot tetap dijalankan.

Suatu ketika, Imam Masjid yang biasa memimpin shalat berjama’ah tidak hadir. Para jama’ah saling menunjuk untuk menjadi imam. Dan atas kesepakatan, ia pun memimpin shalat. Suaranya mengalun merdu membawakan ayat-ayat suci. Ujung-ujungnya, ia menjadi cadangan tetap jika imam yang rutin berhalangan hadir.

Kini, di masjid yang sama, ia sudah menjadi imam shalat jama’ah secara rutin. Dengan posisinya itu, ia mengorganisir masjid dengan baik. Petugas kebersihan betul-betul menjaga kebersihan lingkungan masjid. Paling tidak, satu yang yang saya kagumi. Ia meniti ‘karir’ dari level paling bawah, sekalipun dari sisi kompetensi, ia mungkin mampu memulai dari level yang lebih tinggi.

Ini yang sulit dijalani banyak sahabat kita, yang merasa akan sarjana atau sudah sarjana, dan punya kompetensi jauh di atas memadai. Mereka menolak pekerjaan-pekerjaan yang dianggap ‘hina’. Mereka bahkan memilih lebih baik menganggur dari pada jadi tukang pel atau office boy. Mereka meletakkan gengsinya di posisi paling depan. Inilah kesombongan intelektual.

Padahal, berkaca dari kasus merbot masjid di atas, ia bisa mencapai ‘karir’ puncak dari level paling bawah. Ia bersihkan toilet. Ia berangus sarang laba-laba. Ia cuci sajadah-sajadah dan tikar alas shalat. Dan ketika kesempatan datang, ia menunjukkan kompetensi yang sebenarnya.

Wahai adik-adikku para calon sarjana atau para sarjana di Indonesia, yang sampai saat ini masih memilih jadi penganggur. Tanggalkan kesombongan intelektual Anda. Bersediakah anda mengikuti jejak sang merbot masjid, meniti karir dari bawah dan ketika kesempatan tiba, baru menunjukkan kompetensi anda yang sebenarnya? Berani coba?

Sumber: Mas Zainal Abidin

 
5 Comments

Posted in Motivasi

 
 
Skip to toolbar