“Setiap Pengajar Harus Berkarakteristik”

Tulisan yang sangat menggugah : Sumber –> https://www.duniadosen.com/profesionalisme-membuat-karya-ilmiah/
Di antara kritik yang sering dilontarkan terkait kualitas dosen perguruan tinggi di Indonesia adalah: Pertama, sekarang ini minat sebagian dosen untuk terus membaca dan mengerjakan karya ilmiah di bidang keilmuannya sudah menurun. Mereka tampak sudah merasa puas dengan gelar doktor atau Ph.D. yang diraihnya. Mereka sudah tidak lagi sibuk dengan karya ilmiah yang menjadi tugas pokok mereka untuk menyumbangkan hal-hal baru dalam bidang keilmuannya. Kalaupun mereka melakukan sebuah penelitian, biasanya itu tidak dimaksudkan untuk menemukan hal baru atau menyumbang sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat, tetapi untuk meraih kenaikan pangkat atau mencapai posisi guru besar .

Kedua, tidak sedikit para dosen yang beranggapan bahwa tugas utamanya hanya menyampaikan pengetahuan atau menugaskan karya ilmiah kepada para mahasiswa. Mereka sering alpa bahwa mereka adalah pendidik dalam pengertian seluas-luasnya. Di pundak mereka terpikul tanggung jawab yang melampaui tembok kampus, yaitu untuk mendidik mahasiswa, baik dari sisi keilmuan, mental, cara berpikir, perilaku, dan sebagainya.

Ketiga, banyak dosen yang menghindarkan diri dari tugas utamanya sebagai pendidik dengan berbagai cara untuk menutupi kekurangannya. Misalnya dengan menerapkan “despotisme ilmiah” karena tidak mampu mengatasi dialog kritis dengan mahasiswa, lari dari topik utama perkuliahan untuk menghabiskan waktu karena tidak menguasai materi, atau memberi penugasan kemudian membiarkan para mahasiswa berdebat sendiri dengan alasan melatih mereka berdiskusi, dan sebagainya.

Data yang dimiliki Litbang Depdiknas menunjukkan, dari 120.000 dosen tetap PTS dan PTN di Indonesia, masih ada 50,65 persen atau sekitar 60.000 di antaranya belum berpendidikan S2 atau baru S1. Menurut data lain, jumlah seluruh dosen di PTN sebanyak 240.000 orang, 50% di antaranya belum memiliki kualifikasi pendidikan setara S2.

Di antara jumlah tersebut, baru 15% dosen yang bergelar doktor. Sementara itu, di perguruan tinggi di Malaysia, Singapura, dan Filipina jumlah doktornya sudah mencapai angka 60% lebih. Jika dibandingkan dengan Indonesia, maka tampak bahwa dosen di perguruan tinggi Indonesia masih jauh ketinggalan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa masih ada jurang yang lebar antara cita-cita ideal, dan  kondisi riil para dosen perguruan tinggi di Indonesia saat ini. Kondisi tersebut tentu saja dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti manajemen pendidikan, ekonomi, realitas sosial, dan lain-lain. Oleh karena itu, untuk membenahinya juga diperlukan sebuah program pengembangan profesionalisme dosen yang komprehensif serta melibatkan berbagai pihak, mulai dari perguruan tinggi, pemerintah, hingga masyarakat.

Menurut Permendiknas No.16 tahun 2007, dijelaskan bahwa seorang dosen harus memiliki empat jenis kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Merujuk pada gagasan Spencer (Learning and Teaching in The Clinical Environment, 2003),  bahwa kompetensi terdiri dari 5 (Lima) Karakteristik.

dst

Review : Setelah membaca artikel ini, bertanya kembali di cermin besar apakah sudah diri ini berstatus DOSEN atau Pengajar sebagaimana mestinya..? Jawabannya adalah masih HARUS BELAJAR Terus..

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar
Man Jadda Wa Jadda :)