Sekolah

Kata ‘sekolah’ sebenarnya berasal dari bahasa Yunani ‘skhole’ yang artinya ‘waktu luang’. Jadi pada saat itu, orang-orang Yunani di tengah segala kesibukan mereka dalam bekerja, apabila mereka memiliki waktu luang maka mereka akan mengantar anak-anak menuju tempat yang namanya skhole ini untuk berdiskusi, belajar dan sebagainya. Dengan cara demikian saya membayangkan skhole adalah tempat yang sangat menyenangkan, tempat pertemuan yang ditunggu-tunggu disela-sela kesibukan sehari-hari.

Tapi mengapa ‘sekolah’ pada jaman ini menjadi sesuatu yang menakutkan dan membosankan? Sekolah (termasuk kuliah) saat ini menjadi semacam tempat penyiksaan dalam penjara yang tidak tahu kapan berakhir, sekolah saat ini menjadi semacam kewajiban tanpa tahu untuk siapa dan untuk apa dilakukan, bahkan bisa dikatakan sekolah adalah sebuah keterpaksaan. Tidak heran Roem Topatimasang menyebut dalam bukunya ‘sekolah itu candu’.

Lihatlah para orangtua dengan semangat 45 mendaftarkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah terbaik. Itupun dirasa belum cukup. Bagi mereka yang punya penghasilan lebih setelah pulang sekolah anak-anak mereka diwajibkan untuk mengikuti les matematika, les bahasa Inggris, les membaca, les berenang, les piano, de-es-be de-es-be. Sehingga jadwal putra-putri mereka dalam satu minggu pun penuh sebagaimana layaknya orang bekerja. Dan semua itu tadi harus ditambahi lagi dengan syarat bahwa semua harus ‘memperoleh nilai di atas rata-rata, kalau tidak AWAS!”.

Lalu dengan bangganya para orang tua menepuk dada ‘lihat tuh kesibukan anak saya luar biasa’ padahal dalam hati mereka berkata ‘sekarang mereka tidak lagi mengganggu aktifitas saya’. Alasan absurd lain lagi adalah dengan banyaknya keterampilan dan ilmu yang didapat sejak dari masa muda semua itu akan memperlengkapi mereka jika dewasa kelak untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, kaya, dan berpendidikan tinggi. Bukankah itu semua harapan orangtua? Sebuah harapan yang wajar-wajar saja, tidak aneh, toh semua juga berlomba-lomba seperti itu. Bahkan sampai-sampai menentukan jurusan dalam kuliah pun digariskan oleh orang tua sebagai penyandang dana.

Kita baca di koran-koran bahwa pada tahun 2010 saja ada terdapat sekitar 1 juta sarjana pengangguran, padahal jumlah siswa yang mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi di Indonesia ini hanya 4,6 juta orang. Lalu kita semua (orang tua, guru, dosen, siswa, mahasiswa) saling berpandang-pandangan dan bertanya satu sama lain “sekolah itu untuk apa?”

3 comments to Sekolah

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  

  

  

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.