Media Sosial dan Curhat

Hingga pagi ini saat saya menulis tulisan ini dari sebuah penginapan di Jogja :), halaman beranda FB tidak berhenti bergeser, begitu juga dengan TW yang saya miliki. Kebanyakan sih masih berisi status yang terkait dengan linkungan sekitar pemiliknya, sampai keresahan nasional. Ada yang menggunakannya untuk mendapat bahkan membentuk opini dari sebuah isu :), buat saya sih ok, selama hal tersebut dilakukan dengan kesadaran dan tanggung jawab penuh dari penulis/pemilik akun tersebut.

courtesy http://www.bee-health.com

Yang menarik ternyata, dari sekian status tersebut kalo “dirasakan” isinya, kebanyakan tentang curhat :p. Bagaimanapun sampai hari ini meskipun teknologi informasi (TI) begitu dahsyat 🙂 tetap manusia memiliki kodrat sebagai mahluk sosial, tanpa memperdebatkan maksud dari mahluk sosial itu sendiri. Banyak celotehan atau diatas saya menyebutnya curhat, yang – sekali lagi bagi saya, Anda boleh tidak sependapat – merupakan hal-hal yang tidak penting bahka sebagiannya adalah masalah yang menyangkut pribadi orang tersebut. Media sosial ternyata mampu menggeser yang tadinya “sesuatu” ada di area pribadi, bergeser ke “sesuatu” tersebut menjadi ada di area publik, entah apa motof dibalik itu. Bisa saja hal tersebut karena sekedar pengen eksis :), menyenggol “sesuatu”, dan entah apa lagi :D. Dari curhat-curhat tersebut bisa juga dirasakan keresahan-keresahan penulisnya, kadang saya pun begitu :D. Hanya saja mengapa itu yang bersifat pribadi lebih ter-expose. Menurut saya lagi, bisa jadi salah, hal-hal tersebut cukup berhenti pada diri kita saja atau setidaknya pada satu orang yang cukup kita percaya bisa menjaga hal tersebut, tidak perlu “diumbar” sampai ke ranah publik melalui media sosial. Bahkan ada hasil survei yang saya kutip dari bee-health, media sosial bisa mengubah ritme tidur penggunanya :D. Kutipannya saya sertakan berikut ini

“Sebanyak 38 persen masyarakat Amerika ngetwit dulu menjelang tidur. Aktivitas ini disinyalir telah meningkatkan cedera leher atau tengkuk sehingga menimbulkan kekakuan otot leher, dan menimbulkan nyeri saat menggangguk atau menggerakkan kepala. Sementara 22 persen membiarkan gadgetnya tetap aktif ketimbang mengubahnya menjadi silent mode atau nada getar. Sehingga sebanyak 10 persen di antaranya terbangun tengah malam karena dering telepon, sms dan e-mail. Kabar baiknya adalah, sekitar 65 persen, meletakkan gadget-nya di luar jangkauan kamar tidur atau mematikannya sama sekali.”

Rasanya sayang, apabila media sosial hanya dipenuhi oleh “curhat-curhat” pribadi yang kadang mengganggu orang lain, bagaimana pun status yang kita upload akan dibaca banyak “teman”. Apakah tidak sebaiknya kita mulai memanfaatkan media sosial ke arah yang lebih baik atau positif ?, mungkin apa yang ditulis oleh bundakonicare bisa “menyegarkan” otak kita :D. Apabila ingin yang lebih serius bisa  jadi apa yang ditulis oleh Riri Resa sangat bisa menginspirasi kita, sekalipun agak serius, tapi bagus juga … 🙂

5 Responses to Media Sosial dan Curhat

  1. tempat tidur says:

    buat tersenyum aja 🙂

  2. sunu puguh says:

    wah benar sekali pak, saya setuju. media sosial sekarang sudah menjadi tempat orang-orang untuk curhat masalah pribadi, kadang malah ada yeng mengeluarkan sumpah serapah mencaci orang lain di media sosial sehingga kita yang membacanya yang malah malu membaca sumpah serapah ataupun cerita pribadi seseorang yang diumbar di media sosial yang seharusnya cukup dia simpan sendiri atau ceritakan kepada teman2 dekatnya, bukan di ranah umum.

    Sunu Puguh, IT Support staff Institut Manajemen Telkom
    hhtp://www.imtelkom.ac.id

  3. Profile photo of diah diah says:

    ini bukan curhat juga kan, Pak? 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar