RSS
 

Archive for the ‘Resensi’ Category

Objektivitas Film 212

13 May

Aksi damai 212 di Tugu Monas Jakarta pada tanggal 2 Desember 2016 lalu, menginspirasi Helvy  Tiana Rosa untuk membuat film adaptasi dengan judul 212 the Power of Love. Helvy, penggagas utama film ini, mengatakan bahwa film 212 tak ada kaitannya dengan kepentingan politik tertentu. Film ini murni terinspirasi dari aksi damai 212  yang telah memutihkan Jakarta.

Film yang disutradarai oleh Jastis Arimba ini dibangun dari kisah ketidakharmonisan antara seorang ayah dan anaknya. Melalui kisah tersebut, Film 212 ingin menunjukkan bahwa Islam bukanlah agama yang keras dan radikal sebagaimana dipahami oleh sebagian masyarakat. Kekhawatiran – atau lebih tepatnya kecurigaan – masyarakat selama ini dijawab dengan gamblang melalui tuturan cerita yang dikemas secara dramatis dan apik.

Sebuah kisah tentang perjalanan hidup seorang jurnalis majalah Republik, alumnus terbaik Harvard University bernama Rahmat (Fauzi Baadillah). Dia dikenal sebagai penulis cerdas dan idealis. Namun kali ini, tulisannya tentang rencana aksi damai 212 dianggap dapat menyinggung umat Islam dan  mengadu domba masyarakat.

Dalam tulisannya, Rahmat menyebut rencana aksi 212 ditunggangi oleh kepentingan politik tertentu. Agama dijadikan alat untuk mencapai tujuan-tujuan politik. Tentu saja, pemimpin redaksi dan sejumlah temannya khawatir jika tulisan ini dilempar ke ranah publik akan mengancam kelangsungan bisnis media mereka, bahkan pihak redaksi harus siap berhadapan dengan jutaan umat Islam.

Rahmat lahir dari keluarga santri. Dia adalah putra Ki Zainal (Humaidi Abbas), seorang kiyai kampung dari Ciamis. Hubungan Rahmat dengan ayahnya tidak harmonis. Bahkan Rahmat tidak pernah pulang ke rumah sejak 10 tahun terakhir. Namun karena mendapat kabar ibunya meninggal, Rahmat terpaksa pulang kampung. Di sinilah konflik cerita bermula.

Rahmat memiliki hubungan buruk  dengan ayahnya sejak kecil, yaitu sejak ia dipondokkan di sebuah pesantren. Dia menganggap ayahnya kurang peduli dengannya saat di pesantren. Dia tidak pernah dijenguk, kecuali oleh ibunya. Saat mendapat beasiswa kuliah di Harvard pun, ayah Rahmat tak menunjukkan kebanggaannya sebagaimana umumnya seorang ayah yang bangga terhadap anaknya yang berprestasi. Inilah yang membuat Rahmat berontak dan berkali-kali membuat ulah. Namun ayahnya berdalih bahwa ketidakpeduliannya karena kenakalan Rahmat sejak kecil. Bahkan kematian dua saudara Rahmat dianggap bagian dari ulahnya.

Rahmat semakin tidak simpati dengan ayahnya karena menjadi penggerak masyarakat untuk melakukan aksi 212 di Monas Jakarta. Dia yang sejak awal membenci aksi tersebut, berulang kali mencegah ayahnya agar membatalkan rencana konyolnya. Tapi sia-sia. Ki Zainal, yang bermain sangat bagus dalam film ini, keukeuh melanjutkan perjalanan aksi bersama para pemuda dan warga kampung. Meski begitu, Rahmat selalu berada disamping ayahnya saat melakukan perjalanan ke Jakarta. Dia menuntun ayahnya saat terjatuh, bahkan memandikan saat kaki ayahnya sulit bergerak. Meskipun sebenarnya dada Rahmat bergemuruh dan kesal terhadap ayahnya yang keras kepala itu.

Film ini sedikit dari film nasional yang berani mengangkat persoalan masyarakat secara kritis, terutama kaitannya dengan isu sosial, agama, dan politik. Sekalipun demikian, film yang  didukung oleh pemain Adhin Abdul Hakim, Hamas Syahid, Meyda Safira, dan Asma Nadia ini cukup objektif. Cerita film dikemas secara cover both sides dalam menarasikan realitas di masyarakat. Ini yang banyak diabaikan oleh film-film bertema Islam lainnya.

Objektivitas pembingkaian ini tampak dalam menyikapi kasus hujatan, cibiran, atau cemoohan sebagian masyarakat terkait isu agama. Misalnya, saat sejumlah peserta aksi 212 mengecam Rahmat dengan sebutan munafik, maka melalui tuturan Yasna (Meyda Sefira), seorang umat Islam tidak boleh dengan mudah menyebut orang munafik atau mengkafirkan saudara sesama Muslim. Karena Tuhanlah yang berhak menyebut seseorang itu kafir atau munafik. Tugas seorang Muslim adalah memberitahu dan mengajak pada yang ma’ruf bagi mereka yang belum mengetahui. Bukan sebaliknya, menghujat mereka yang berujung pada permusuhan.

Adegan ini sekaligus membantah bahwa semua para peserta aksi 212 adalah mereka yang mudah menghujat dan berpotensi melakukan aksi kekerasan. Di sinilah objektivitas film terlihat jelas. Di satu sisi, film 212 tak menafikkan bahwa memang ada sejumlah peserta aksi 212 yang mudah menghujat atau mengkafirkan sesama saudara Muslim. Namun di  sisi lain, perbuatan tersebut tidak dibenarkan dalam Islam sebagaimana yang dituturkan oleh peserta aksi 212 lainnya, yaitu Yasna. Bahkan seorang nonmuslim pun harus diperlakukan sama dalam hal kemanusiaan.

Sayang, alur cerita yang dikemas dengan menarik  justru kurang “nendang” pada klimaksnya. Jika saja Ki Zaenal meninggal saat shalat berjamaah di depan Monas, maka penonton akan semakin diharu biru. Di situlah puncak klimaksnya. Hal lain yang cukup mengganggu adalah dandanan Yasna – yang diperankan Meyda Sefira dengan cukup baik. Polesan wajahnya terlalu menor untuk ukuran gadis kampung. Namun demikian, kisah cinta Yasna dan Rahmat sebagai bumbu dalam film ini cukup dapat, tanpa harus disampaikan secara vulgar.  Secara teknis, editing (cutway) gambar dalam film ini kurang mulus. Terutama ketika memasukkan gambar peristiwa aksi 212 di Monas Jakarta (dokumentasi asli) ke dalam adegan masyarakat Ciamis yang telah sampai di Jakarta.

Lepas dari kelemahan teknis tersebut, film ini sangat layak ditonton. Tidak hanya bagi alumni 212 sebagai ajang reuni, tapi juga bagi masyarakat umum yang selama ini hanya menyimak pemaparan dari media mainstream dan online. Pesan persaudaraannya cukup terasa. Ada tiga kata yang pantas untuk film 212 the Power of Love yaitu berani, damai, dan objektif!

 
No Comments

Posted in Resensi

 

Cinta Habibie: Ilona atau Indonesia?

02 Jul

 

Ini bukan spoiler, tapi review! Awalnya saya kurang berminat menonton film prekuel Rudy Habibie yang diputar serentak pada 30 Juni 2016. Apalagi film pertamanya (Habibie dan Ainun) yang tembus 4,5 juta penonton itu bagi saya kurang “Nendang”.

Yang mendorong saya untuk tetap berangkat adalah pertama, film ini terlalu “muluk” untuk menarget penonton hingga 10 juta mengingat film pertamanya bisa tembus 4,5 juta. Kedua, dalam launchingnya, film ini telah ditunggu oleh masyarakat berbagai strata, mulai dari masyarakat biasa, artis, hingga pejabat politik. Ketiga, saya mempunyai kepentingan untuk melakukan observasi film-film Indonesia guna mendukung peminatan dan penelitian saya. Maka saya putuskan: harus nonton!

Karakter Habibie di film ini dieksplorasi dengan detail sehingga setiap keputusan yang diambil oleh Habibie dalam menyelesaikan masalah bisa diduga oleh penonton, sekalipun tidak tahu persis langkah yang apa yang akan dilakukan. Idealismenya yang mendarah daging membuat setiap keputusan yang diambil lebih mirip dengan sifat egoisme. Karakter inilah yang membuat penonton spot jantung. Kemampuan Reza Rahardian dalam menduplikat Habibie cukup berhasil untuk membuat penonton menangis, tertawa, dan marah. Praktis, selama drama dimainkan, emosi penonton berhasil diaduk-aduk.

Plot cerita maju mundur yang dibangun dalam film Rudy Habibie juga mampu menenggelamkan penonton dalam haru biru masa lalu. Sekalipun film ini adalah prekuel, tetapi penonton tidak harus mengetahui film lainnya (Habibie dan Ainun). Tokoh Ainun justru tidak ditampilkan. Penonton diajak untuk mendefinisikan cinta melalui karakter Ilona, gadis polandia yang cantik, cerdas, dan mengundang romantisme. Pengalaman pahitnya selama tinggal di tempat persembunyian bawah tanah di Ambon, Indonesia, membentuk tokoh yang dimainkan oleh Chelsea Islan ini menjadi gadis optimis dan selalu mendukung mimpi-mimpi Habibie yang sulit dilogika. Kelebihan yang tak dimiliki oleh perempuan lain ini membuat Habibie Dilema. Pilih Ilona atau Indonesia?

Dalam menyampaikan pesan komunikasi, film ini juga cukup berhasil memilih dan menerjemahkan simbol-simbol agama, suku, dan toleransi, tanpa melukai hati penonton, apapun latar belakangnya. Ini tentu berbeda dengan film-film semacam “Tanda Tanya” dalam menggambarkan karakter umat Islam atau “Perempuan Berkalung Surban” yang menggambarkan pesantren dan budayanya. Dua film ini mengundang polemik di masyarakat karena simbol-simbol yang dikomunikasikan dianggap terlalu kasar.

Film yang diprediksi menjadi salah satu film box office Indonesia 2016 ini memiliki genre drama yang komplit. Film dibumbui drama, kepahlawanan, nasionalisme, romantisme, sosial, dan religius. Meski demikian, bukan berarti film ini tanpa cacat. Hanung Bramantyo dan kawan-kawan kurang mempersiapkan wardrob secara detail sehingga menggangu suasana yang telah dibangun. Misalnya, model mukena terpisah (two pieces) dan berwarna-warni yang dipakai ibu dan saudara perempuan Habibe waktu kecil. Padahal model mukena zaman dulu sebagian besar adalah terusan (one piece) dan hampir semuanya berwarna putih. Mungkin ini bagian sangat kecil dari persiapan besar untuk sebuah film unggulan seperti Rudy Habibie. Tapi mesti perlu mendapat perhatian agar film ini menjadi lebih sempurna.

Overall, film Rudy Habibie tidak saja sangat inspiratif, tetapi juga mengajarkan toleransi, nasionalisme, perjuangan, cinta, dan iman.

Sekalipun saya tidak yakin film ini bakal menembus 10 juta penonton sebagaimana harapan produser dan kru film, tapi saya tetap yakin bahwa film ini akan mengikuti kesuksesan skuel Ada Apa dengan Cinta tahun ini.. Selamat menonton!

 

Meraih Kebahagiaan dengan Dhuha

18 Aug

THE POWER OF DHUHA

Resensi ini dimuat Majalah Peduli Umat Edisi September 2010

 
1 Comment

Posted in Resensi

 
 
Skip to toolbar