RSS
 

Archive for the ‘Jurnalistik’ Category

Saeni dan Bingkai Media

17 Jun

Ilustrasi-www.suaranews.com

 

Akhir-akhir ini kita dihebohkan oleh sejumlah berita yang ditayangkan oleh media, khususnya televisi. Yang paling baru adalah isu tentang razia warung nasi milik Saeni yang dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Serang. Isu ini kemudian ditangkap oleh sebuah media televisi. Selanjutnya  menjadi berita yang bercabang di banyak media seperti koran, majalah, radio, dan online. Isu semakin meruncing manakala menjadi viral di media-media sosial. Tangis dan kesedihan Saeni dibingkai dan diulang-ulang melalui media. Sebaliknya, perlakuan kasar Satpol PP memberikan tontonan yang kejam dan tirani pada masyarakat lemah. Pembingkain isu ini kemudian melahirkan saling kecam di media sosial. Terjadi konflik verbal pada tingkat horisontal, terutama di media online.

Isu tentang Saeni benar-benar menjadi komoditas menggiurkan bagi media. Tayangan tentang Saeni menjadi massif. Bahkan talkshow-talkshow di televisi telah merembet ke masalah peraturan daerah, khususnya perda syariah. Debat publik di media-media sosial sulit dikendalikan. Saling menghujat antarkelompok, agama, dan perbedaan politik. Puncaknya, drama tentang Saeni yang dibingkai media dengan apik, memantik simpati dari masyarakat luas hingga pejabat politik, bahkan presiden. Mereka tak segan menyumbang dan menggalang dana untuk Saeni. Terakhir, donasi untuk Saeni ditutup di posisi 265 juta rupiah dari 2.427 donasi.

Dalam analisis framing, media dipahami sebagai agen konstruksi berita. Artinya, bagaimana cara pandang yang digunakan wartawan atau media ketika menyeleksi dan menayangkan berita. Setiap media memiliki kekuatan untuk menonjolkan berita tertentu dan memojokkan berita lainnya. Pada level ini, masyarakat hanya dipertontonkan kulit luarnya saja. Tentang apa yang terjadi sebenarnya di balik peristiwa, media memiliki keperkasaan untuk memangkasnya. Kita tidak tahu permasalahan sebenarnya tentang konflik Saeni dan Satpol PP. Yang kita tahu di media, Saeni adalah masyarakat kecil, lemah, miskin, dan menjadi korban kesewenang-wenangan penguasa (melalui Satpol PP).

Ada dua faktor menonjol yang melatarbelakangi pembingkaian berita yaitu kepentingan politik dan kepentingan komersial. Pada kepentingan politik, media menayangkan berita berdasarkan relasi politik yang dijalin, entah dengan pemilik media atau afiliasi politik lain. Sedangkan kepentingan komersial didasarkan pada kecenderungan peminatan pasar. Artinya, berita yang ditayangkan dianggap mampu menarik minat pasar sehingga mampu menarik iklan. Di sini uang menjadi tujuan utamanya.

Maka tidak heran bila berita-berita yang sengaja dipotong, seperti penjelasan Satpol PP tentang makanan yang dirazia dan akan dikembalikan pada sore hari, serta peringatan kepada masyarakat tentang peraturan larangan membuka warung makanan (termasuk warung makanan di mal) di bulan Ramadhan di siang hari, ditiadakan media atau hanya dijadikan sebagai berita kecil dan diapit oleh berita tentang keberingasan Satpol PP.

Drama telah dimainkan media dengan menampilkan tokoh protagonis dan antagonis. Media menempatkan Saeni sebagai tokoh protagonis. Sedangkan Satpol PP sebagai aktor antagonis. Ada pahlawan dan ada musuh. Media tentu tidak menganggap Saeni sebagai orang yang melanggar, tetapi dia diposisikan sebagai masyarakat miskin, lemah dan butuh mengais rezeki di warungnya yang kecil, meski belakangan Saeni dikabarkan sebagai salah satu masyarakat kaya di kampungnya. Bahkan memiliki tiga cabang warung di nasi di tempat yang berbeda.

Dalam etika jurnalistik, mestinya media tetap menyebut bahwa Saeni melanggar perda tentang larangan menjual makanan di siang hari. Karena setiap daerah memiliki peraturan sendiri-sendiri atas dasar karakteristik masyarakat daerah masing-masing, seperti Nyepi di Bali yang menutup semua perdagangan, termasuk bandara. Sekalipun apa yang dilakukan Satpol PP tetap menyalahi prosedur karena menyita makanan atau barang dagangan – seharusnya warungnya ditutup sehingga sore hari bisa buka kembali – sebagaimana  yang disampaikan oleh walikota Serang, Tubagus Haeral Jaman.

Tugas media seharusnya adalah menempatkan dua sisi yang bersebrangan secara proporsional (cover both side) sehingga tidak memihak antarkeduanya. Apalagi sampai menghakimi salah satu sumber (trial by the press). Etika jurnalistik harus tetap dikedepankan. Biarlah masyarakat yang menilai peristiwa sebenarnya. Sebagai pilar demokrasi, media seharusnya mencerdaskan, bukan mengadu domba masyarakat.

 

 

 

Eksotisme Destinasi Halal Gili Trawangan

11 Jan

Gili Trawangan (http://disbudpar.ntbprov.go.id)

 

Pagi itu (19/12), gerimis di Pelabuhan Mentigi cukup rapat. Awan putih di langit hampir merata. Beberapa pedagang menawarkan jas hujan dan payung. Sebagian  yang lain menawarkan tas plastik guna melindungi barang bawaan para wisatawan. Sementara sejumlah nakhoda perahu motor cepat (speed boat) segera menginstruksikan para wisatawan agar menaiki perahu. Hujan semakin lebat. Tapi tak sidikit pun menyurutkan semangat para wisatawan untuk menuju Gili Trawangan. Sebuah pulu kecil yang terletak di sebelah utara Pulau Lombok. Jarak yang ditempuh dari Pelabuhan Mentigi ke Gili Trawangan hanya memakan waktu kurang lebih 10 menit.

Gili Terawangan menawarkan eksotisme wisata yang berbeda dengan yang lain, khususnya bagi wisatawan muslim. Tempat wisata ini menawarankan kenyamanan bagi wisatawan muslim, terutama dalam menyediakan makanan halal dan tempat ibadah. Latar belakang masyarakat pulau Lombok yang dihuni oleh mayoritas penduduk beragama Islam menjadikan bagian dari pulau Nusa Tenggara Barat ini  sebagai alternatif baru bagi wisatawan muslim. Laut yang membentang di antara Gili Meno dan Gili Air ini menjadikan Gili Trawangan sebagai destinasi favorit bagi wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara.

“Saya lebih betah di sini daripada di tempat lain. Di sini saya mudah mencari masjid untuk salat dan tidak khawatir setiap kali saya mau makan,” kata Nurhesti Esa Dwirini (38), Kepala Bagian Kemahasiswaan Institut Bisnis Stikom Surabaya yang mengisi liburannya bersama teman-teman kantornya.

Perempuan berjilbab ini mengaku baru pertama kali berkunjung ke Pulau Lombok. Dalam perjalanan wisatanya, Gili Terawangan adalah tujuan ketiga setelah sebelumnya berkunjung ke Kampung Sade suku Sasak dan Tanjung Aan. Kekagumannya terhadap Gili Terawangan tampak dari ekspresi mukanya dan ucapan syukurnya atas keindahan yang dianugerakan Tuhan.

“Subhanallah, ini indah sekali! Mirip dengan Bali. Tapi saya lebih betah di sini,” ucapnya takjub.

Kekaguman Hesti, demikian perempuan itu akrab disapa, cukup beralasan karena selain di area wisata, di tempat-tempat penginapan seperti hotel juga disediakan tempat ibadah dengan kondisi ruangan yang representatif. Setiap kamar hotel juga dilengkapi penunjuk arah kiblat. Hal ini memudahkan para wisatawan muslim yang ingin melaksanakan salat.  Demikian pula, di tempat-tempat umum seperti di pasar, pusat-pusat perbelanjaan, atau pusat oleh-oleh, selalu dilengkapi tempat ibadah umat Islam yang nyaman, bersih, dan kondusif.

Suasana Pantai Gili Trawangan (champ-stikom)

Gili Trawangan adalah salah satu dari destinasi halal Lombok. Pulau kecil ini dianggap menawarkan panorama yang indah dan eksotis. Keindahannya dianggap melebihi dua gili (pulau kecil) lain yaitu Gili Meno dan Gili Air yang mengapit pulau tersebut.  Selain menebarkan pesona keindahan, Gili Trawangan juga terkenal bersih. Sepanjang pantai Gili Trawangan, tak terlihat kotoran atau sampah yang mengotori pasir putih sebagaimana yang sering dijumpai di tempat-tempat wisata pantai. Air laut yang tampak biru dan sebagian berwarna hijau seolah menegaskan bahwa kawasan ini sangat jernih dan bersih.

Di pulau seluas enam kilometer ini wisatawan sekaligus bisa menikmati keindahan Gili Meno dan Gili Air dengan mengendarai kapal motor yang banyak disewakan di sekitar pantai. Hanya memakan waktu kurang lebih 15 menit saja. Saat perjalanan menuju Gili Meno dan Gili Air, wisatawan sekaligus bisa menikmati keindahan laut seperti terumbu karang dan berbagai jenis biota laut melalui glass bottom  yang tersedia di kapal motor.  Bagi wisatawan yang lebih menyukai tantangan, bisa memilih snorkeling di permukaan air laut atau scuba diving (menyelam)  untuk mengeksplorasi keindahan laut sehingga bisa bersentuhan langsung dengan satwa laut.

“Kalau ombaknya bersahabat, wisatawan yang snorkeling semakin banyak,” kata salah seorang penjual kelapa pemuda, dekat pesisir pantai. Menurutnya, di Gili Trawangan hampir tidak pernah sepi, terutama wisatawan mancanegara. Kegiatan paling favorit bagi mereka adalah snorkeling dan scuba diving.

Glass Bottom dalam Perahu Motor (champ-stikom)

Di luar pantai, wisatawan bisa melihat keindahan Gili Trawangan secara utuh. Wisatawan bisa berkeliling pulau sejauh tiga kilometer dengan mengendarai sepeda atau naik cidomo (sejenis kereta kuda). Tarif sepeda yang disewakan sekitar 25 ribu rupiah per jam. Sedangkan cidomo berada pada kisaran 125 ribu untuk tiga orang. Dengan menggunakan alat transportasi tersebut, wisatawan bisa mengeksplorasi keindahan Gili Trawangan sepuasnya. Total waktu yang ditempuh untuk berkeliling di pulau ini kurang lebih 45 menit.

“Tak ada kendaraan bermotor di kawasan ini sehingga dijamin bebas polusi,” kata pemandu wisata Muhammad Zulkarnain, berpromosi.  Menurut Zul, demikian dia biasa disapa, udara yang dihirup di Gili Trawangan ini relatif bersih karena tidak tercemar oleh kendaraan bermotor. Wisatawan yang mengayuh sepeda, tidak hanya mendapatkan sisi lain keindahan Gili Trawangan tapi juga dapat menghirup udara segar. Apalagi segala kebutuhan wisatawan di kawasan pantai cukup lengkap.  Ada café, bar, hotel, restoran, mini market, dan tentu saja masjid, semua tersedia secara memadai di sekitar pantai.

Cidomo (i made asdiana-travel.kompas.com)

Keseriusan pemerintah propinsi Nusa Tenggara Barat untuk menjadikan Lombok sebagai destinasi halal ini tak pelak menuai hasil yang menggembirakan. Pada 20 Oktober 2015 lalu, Pulau Lombok berhasil menyebet penghargaan sebagai destinasi halal tingkat dunia yang digelar di Uni Emirat Arab dalam program The World’s Halal Travel Awards. Pulau seribu masjid ini memenangkan  penghargaan World’s Best Halal Tourism Destination dan World’s Best Honeymoon Destination.

Kenyamanan, kebersihan, dan keindahan Gili Trawangan ini tentu menjadi bekal Pulau Lombok untuk mempertahankan prestasinya, khususnya sebagai destinasi halal. Pencanangan branding Pesona Lombok Sumbawa yang di-launching di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona Jakarta, kantor Kementerian Pariwisata, Senin 14 Desember 2015 lalu diharapkan tidak hanya sebagai bentuk euforia dan kepuasan sesaat saja tetapi menjadi bagian dari keseriusan pemerintah dalam menggarap pulau Lombok sebagai destinasi Halal. Tentu keberhasilan ini menjadi modal besar untuk mendukung country branding pariwisata nasional Pesona Indonesia dan Wonder Indonesia (bah).

 
 

Membangun Civil Society Melalui Citizen Journalism

01 Nov

foto: ericonsearch.com

Keluarnya bangsa Indonesia dari tekanan rezim orde baru melahirkan kebebasan di hampir seluruh aspek hakiki individu, khususnya dalam hal mengeluarkan pendapat, menyebarkan informasi, dan mendirikan perusahaan media tanpa SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers). Bahkan pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid, Departemen Penerangan yang sebelumnya menjadi lembaga kontrol negara terhadap pers telah dibubarkan dengan alasan memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada masyarakat sebagai bagian dari demokrasi. Hal ini semakin menegaskan bahwa kekuasaan informasi ada di tangan masyarakat.

Pada tingkatan ini istilah civil society hangat diperbincangkan oleh para ahli, pakar sosial, atau akademisi. Konsep civil society diniscayakan mampu menata kehidupan bermasyarakat. Pertanyaannya adalah bagaimana membangun civil society dalam konteks kebebasan pers yang notabene telah dikendalikan masyarakat (citizen journalism)?

Read the rest of this entry »

 
 
 
Skip to toolbar