RSS
 

Archive for the ‘Inspirasi’ Category

Balada Tugas akhir

16 Jan

foto: pameran tugas akhir dkv stikom

Di tengah pernak pernik kisah asmara dan romantisme anak kuliahan, barangkali saya tidak sendiri ketika mengalami stress tingkat dewa (hehehe) saat harus berhadapan dengan tugas akhir. Nyaris semua mahasiswa mengalami hal serupa. Tapi itu akan menjadi bagian dari warna hidup yang cukup menyenangkan untuk diceritakan pada anak cucu kita kala kita sudah jadi kakek2 atau nenek2 (anak baru sekolah TK, sdh ngomong cucu hihi).

Banyak kejadian yang menyakitkan, mengharukan, kesal, linglung, dan nyaris down saat kita berhadapan dengan tigas akhir: skripsi, tesis, maupun disertasi. Mahasiswa yang tak mampu survive sudah pasti memutus hubungan alias DO. Kelar deh hidup loe.. wkwkwk.

Saat garap skripsi, pembimbing utama saya bilang: “Kamu mau nyelesaikan skripsi atau organisasi?” pertanyaan yang menampar saya karena saat itu masa kuliah saya nyaris habis, semester 8.
“Emm.. organisasi deh Pak,” jawab saya sambil merunduk.
“Ya sudah terserah kamu!” dosen pembimbing saya mulai putus asa (Lho ga kebalik ta?? hihi). Betapa tidak, jika saya lulus smster 8, mungkin saya akan ditaboki teman2 karena pada saat yang sama, saya masih menjabat ketua di salah satu organisasi di kampus. Tentu saja bukan hanya karena itu, tapi garap skripsinya itu yang tambah mumet. Ribet banget hidup loe.. (minjem kalimat dosen saya yang sering disampaikan di kelas hehe).

Berbeda saat saya garap tesis (S2). Saya harus mengejar-ngejar dosen pembimbing hingga ke rumahnya. Saat di seminar dan sidang pun tak luput dari “pembantaian”, terutama dari para penguji. Nangis galon deh…

Namun yang masih selalu ingat dan sering terjadi saat itu adalah ketika otak sudah ga konsen, spaneng, dan melakukan sesuatu yang ga ada hubungannya di tengah mengerjakan tesis. Ini juga terjadi pada teman2 saya.

Seorang teman curhat,
“Kadang tiba-tiba aku mengambil piring dan memasukkan ke dalam lemari pakaian,”.
Teman yang lain menimpali, ” Sama. Kalau aku sih sering tiba-tiba bawa sendok ke kamar mandi,”. Hehe..
“Ngapain aja bawa sendok ke kamar mandi? Dasar!,” kelakarku .

“Kalau aku paling sering pake kaos kaki sintingan. Seperti sekarang kayaknya,” kami sama2 melihat ke bawah. Ya Allah beneran. Semua tertawa .. haha..

Nah, yang lebih menggelikan dan memalukan, terjadi sekitar 2 bulan lalu. Beberapa saat setelah bimbingan ke dua dosen untuk keberlangsungan nasib disertasiku. Saat aku menunggu taksi online, sambil makan di warteg pinggir jalan. Beberapa saat selesai makan, taksi datang. Aku langsung bayar makan, pamitan ke penjual, dan segera masuk taksi. Saat hendak masuk taksi, tiba-tiba si bapak penjual nasi teriak-teriak,

“Mas, Mas, ituuu…” teriaknya.
Apa sih orang ini. Ga jelas juga ngomongnya. Makan juga sudah aku bayar. “Ya Pak, apa?” tanyaku agak kesal sekaligus ingin menenangkan.
“Itu Mas, ituuu..” si penjual beringsut mendekat sambil menunjuk tangan kiri saya.
“Ya Allah..” teriakku reflek.
“Ya Mas.. kursinya jangan dibawa…” penjual dan sopir taksi pun tertawa ngakak..

😂😂😂

 
1 Comment

Posted in Inspirasi

 

Menulis: Mengubah Dunia Tanpa Darah

16 Jan

Saya baru menyadari bila tulisan saya yang dipublish di portal media online (detik.com) 5 hari lalu sangat cepat direspon oleh masyarakat. Telah dibagikan sebanyak 515 kali.

Untuk kategori media online, baru pertama kali ini saya mengirim opini. Bersyukur langsung dimuat, setelah menunggu 2 hari pasca pengiriman. Sebelumnya saya lebih suka mengirim opini di koran dan majalah komunitas. Memang sebagian dari media cetak itu juga mempublish di media online. Tapi saya tak pernah ambil pusing untuk mengecek, berapa banyak yang membaca apalagi membagikan. Bahkan tulisan berita ringan saya yang kerap dimuat di koran Surya selama 2 tahun terakhir ini tak pernah saya lihat seberapa banyak “reader”nya di versi online-nya: tribunnews (suryaonline). Saya justru lebih suka menimang-nimang bentuk cetak dan menyimpan file versi pdf nya di folder khusus karya tulis saya.

Namun pagi ini saya tak menyangka bila tulisan opini saya yang dimuat detik.com lalu itu telah dibagikan sebanyak itu. Untuk ukuran opini atau artikel (bukan berita, apalagi gosip dan hoax), share sejumlah itu bagi saya cukup besar. Apalagi saya bukan penulis besar, bukan pejabat publik. Juga bukan potongan artis.

Tulisan tentang sesuatu yg sedang marak memang berpotensi mengundang pembaca. Seperti yang saya tulis ini. Kata kunci khofifah, gus ipul, atau pilgub jatim sedang banyak dicari orang. Tapi ini tentu berbeda dengan umpan klik (click bait), yang sengaja mengunggah tulisan untuk mendatangkan iklan daring dengan mengorbankan kualitas dan akurasi serta bergantung pada isu sensasional atau gambar-gambar yang menarik mata guna mengundang klik tayang, seperti gosip, hoax, ujaran kebencian, dan sejenisnya. Makanya harus hati-hati bila menuliskannya karena siap dibaca kepala yang berbeda. Artikel yang dibagikan lebih dari 500 dlm waktu singkat ini menunjukkan bahwa “reader”nya bisa berkali-kali lipat.

Pikir saya, di tengah jutaan atau milyaran artikel dan berita yang disebar secara serentak di portal media online (dan media sosial), dibaca puluhan orang saja sudah bersyukur, apalagi sampai dibagikan sebegitu banyak. Ternyata prediksi saya ini keliru.

Keterserapan yang sangat cepat dan masif inilah yang membuat sebagian besar media cetak merepost artikel dan beritanya ke media online. Sebab, jika hanya bertengger di kertas saja, bisa jadi yang menikmati hanya pembaca (pembeli) saja. Paling banter dipinjam sama kerabat, teman, dan tetangga.

Fakta ini semakin meyakinkan saya bahwa menulis mampu mengubah dunia tanpa darah. Kalimat ini selalu saya tanamkan sejak pertama kali tulisan saya dimuat Jawa Pos pada semester awal saat kuliah S1 di Unitomo. Kemudian berturut-turut dimuat di Radar Surabaya, Kompas, dan sejumlah majalah komunitas. Tentu di tengah perjuangan untuk bisa tembus ke berbagai media massa.

Konsekuensi menulis memang kerap melahirkan pro kontra. Karena memang kita tak bisa mengakomodir harapan semua orang, yang memiliki perspektif berbeda. Karena latar belakang kita memang tak sama: ekonomi, suku, agama, budaya, pendidikan, dan lainnya. Namun, sebagai penulis kita harus punya niat untuk seminimal mungkin tak menyakiti hati orang lain sehingga kita selalu cermat dalam memilih kata dan bahasa, tanpa meninggalkan sikap kritis kita. Apalagi di era teknologi media dan komunikasi saat ini mudah sekali tulisan kita direspon secara cepat, tapi dengan perspektif yang berbeda, sengaja diplintir, digoreng, atau apapun namanya.

Menulislah sekecil apapun. Kalau tak mampu menumbus media besar, tulislah di media sosial atau blog pribadi. Syukur-syukur jika tulisan kita mampu menginspirasi dan mengubah perilaku pembaca, apalagi dunia!

Keep the spirit of writing!

 
 

Penantian Panjang

01 Jan

 

Bisa dibilang, usia pernikahanku relatif terlambat. Aku menikah di usia 31 tahun dan istriku berusia 26 tahun. Aku berpikir, keterlambatanku ini bisa aku tebus dengan cara memiliki anak dua atau tiga dalam waktu relatif cepat. Sebab jika tidak, usiaku semakin merangkak naik. Aku tak ingin, kelak anak-anakku melihat bapaknya seperti kakek-kakek.Tapi sayang usahaku berbeda dengan ketentuan Tuhan. Hampir satu tahun istriku belum juga hamil. Aku sudah berkali-kali ke sejumlah dokter, bidan, bahkan tukang pijat agar kami segera punya momongan.Tapi hasilnya nihil. Aku semakin cemas ketika mendapat informasi dari koran dan internet yang mengatakan bahwa pasangan yang belum dikaruniai momongan dalam waktu satu tahun sejak menikah, bisa dikatakan mandul.

Read the rest of this entry »

 
 
 
Skip to toolbar