RSS
 

Archive for the ‘Culture Studies’ Category

Bid’ah Cinta dan Eksistensi Islam Kultural

14 Mar

Gambar: Screen Bid’ah Cinta, Sutradara, dan Para Pemain Film

Di tengah ramainya isu Islam radikal di Indonesia, Selasa (13/3) lalu saya nonton film bertema islami “Bid’ah Cinta” yang digelar oleh kineforum. Sebuah komunitas film Dewan Kesenian Jakarta. Film ini dirilis 2017 lalu. Yang menarik, film Bid’ah cinta cukup berani memotret realitas masyarakat yang selama ini takut disuarakan. Utamanya dalam film-film bertema Islam.

Latar belakang pendidikan pesantren dari seorang Nurman Hakim, penulis sekaligus sutradara, memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam mendefinisikan identitas Islam di film ini.

Situasi masyarakat yang pro kontra soal bid’ah, hadirnya transgender di masyarakat, penyanyi dangdut jalanan, dan sub-subordinat lainnya adalah sederet sang liyan yang dinarasikan secara “vulgar” oleh Nurman.

Gambar: Tiga Tokoh Bid’ah Cinta (Hasan, Khalidah, dan Kamal)


Film ini menjadi antitesis dari film-film islami mainstream. Kendati demikian, Nurman cukup pintar dalam mencover dua sisi yang bersebrangan. Ini yang tak banyak dilakukan oleh sutradara lain.

Dia cukup khawatir dengan paham-paham Islam radikal yang belakangan semakin masif di tengah masyarakat. Tapi dia juga tak mau mereka disebut sebagai bagian dari peristiwa-peristiwa terorisme.

Nurman juga mengkritisi umat Islam kultural yang tidak peduli dan kurang mampu memberdayakan masjid sehingga jangan salahkan jika kekosongan itu diisi oleh Islam radikal. Mereka yang memahami Islam secara skriptual.

Banyak faktor yang ditampilkan Nurman dalam melihat gejala Islam radikal di masyarakat. Mulai dari kelemahan srcara finansial hingga masalah psikologis dan politik. Faktor-faktor inilah yg kerap mengantarkan seseorang untuk bergabung dalam kelompok Islam radikal.

Gambar: Salah Satu Adegan Bid’ah Cinta


Namun sekali lagi, sebagaimana film-film Nurman sebelumnya, Dia selalu membawa pesan damai, melindungi sang liyan, dan mencoba mengembalikan Islam Indonesia yang sebenarnya. Identitas Islam yang berbasis kultural.

Sayang, hampir semua film Nurman Hakim selalu tidak mampu menyedot khalayak banyak untuk menonton, termasuk Bid’ah Cinta. Barangkali Nurman harus sedikit berdamai dengan selera khalayak, mulai jadi penggunaan judul yang cenderung menimbulkan konfrontasi, hingga durasi film yang terlalu panjang. Karena lamanya durasi film yang tidak diimbangi dengan ketegangan atau konflik yang masif akan membosankan bagi penonton. Karena bagaimanapun bagusnya sebuah film jika hanya sedikit menerpa khalayak, maka menjadi hal yang percuma. Apalagi jika film Islam mainstream kian produktif dan digandrungi banyak penonton.

 

 

 

 

Hijab, Antisesis dari Film Islami

11 Mar

 

Gambar: Poster Film Hijab

 

Sabtu sore, 10 Maret 2018 pukul 14.30,  saya menonton film Hijab. Bukan di XXI atau CGV tapi di Kineforum, Dewan Kesenian Jakarta. Film yang dirilis pada 2015 lalu itu menuai kontroversi di sebagian masyarakat karena dianggap  melecehkan agama dan jauh dari nilai-nilai Islam, khususnya simbol Islam (hijab). Meskipun ketua MUI (saat itu), Din Syamsudin menyatakan bahwa film ini tidak mengandung unsur pelecehan agama, bahkan memberikan pesan moral dan dakwah sehingga layak untuk ditonton bagi masyarakat luas, tapi tetap saja tak bisa membendung pro kontra di masyarakat.

Bagi saya, boleh dikata film ini sangat jujur sekalipun bercerita tentang ketidakjujuran perempuan-perempuan berhijab kepada suaminya karena melakukan bisnis secara sembunyi-sembunyi. Film ini sebagai antitesis dari film-film Islami mainstream.

Saya tak akan membahas bisnis mereka karena sejatinya ada yang lebih menarik dari itu, yaitu dibalik hijab para perempuan. Karena memang itulah tujuan utama film ini.

Kenapa saya bilang jujur, karena film ini mengeksplorasi beragam latar belakang perempuan berhijab, jauh dari dasar hati yang selama ini ditutupi dengan kata “hidayah”.

Kisah diawali dengan cerita tiga mamah-mamah muda yang mengalami proses hijab dengan latar belakang yang beragam. Ada yang merasa terjebak, malu karena botak, atau karena paksaan suami. Mereka bertiga berteman karib dengan Anin, satu-satunya perempuan yang belum bersuami dan tak berhijab.

Film ini membantah bahwa setiap orang yang berhijab selalu disebabkan oleh peristiwa spiritual sehingga dianggap sebagai orang yang mendapat hidayah dari Allah. Perempuan suci dan jauh dari dosa. Padahal realitasnya tidak selalu. Inilah yang kerap ditutupi para perempuan di hadapan publik. Termasuk di film-film bertema islami.

Gambar : Artis Pemeran Film Hijab

 

Awalnya film ini tampak menyudutkan pengguna hijab, seolah hijab yang dipakai tak ada hubungannya dengan kedekatan dengan Tuhan. Bagi yang mengalami proses spiritual itu, tentu film ini cukup menyakitkan. Karena realitasnya memang ada yang mengalami pengalaman itu sehingga memutuskan untuk berhijab.

Tapi begitulah salah satu ciri film Hanung Bramantyo. Selalu mengangkat realitas tertentu tapi sekaligus meniadakan realitas yang lain. Tidak cover both sides dalam bahasa jurnalistik. Tapi bukankah film-film Islami selama ini hanya mengcover proses berhijab yang “baik-baik” saja? Artinya, film Hijab ini sebagai penyeimbang dari film-film Islami selama ini.

Sekalipun film ini bertema islami tapi dikemas dalam genre komedi. Cerita yang diangkat selalu serba kebetulan dan berbarengan antara satu tokoh dengan tokoh lainnya. Kisah empat tokoh utama yang diangkat selalu mengalami problem yang sama persis. Ini yang membuat film hijab justru menjauhkan dari realitas.

Beruntung di akhir cerita, film ini cukup cerdik dalam “mengedukasi” penonton. Meskipun pengalaman berhijab dialami secara beragam dan jauh dari kesan dapat hidayah, tapi ketiga tokoh digambarkan sebagai perempuan Muslim yang nyaman dan menikmati penutup kepala mereka sebagai bagian dari ketaatan pada suami, juga pada Ilahi.

Bahkan, Anin yang awalnya tak berhijab tertular ikut berhijab meski dengan sebab yang berbeda dengan tiga temannya. Anin ingin mempersembahkan perubahannya itu kepada calon suaminya yang sangat dicintai dan akan menikah tiga bulan lagi.

Hanung cukup sadar bahwa masyarakat Indonesia mayoritas Muslim sehingga di akhir cerita, dia menekankan bahwa hijab tetap menjadi salah satu syariat Islam yang harus dijalankan oleh pemeluknya, terlepas dari pengalaman masing-masing.

Tokoh-tokoh perempuan Muslim yang terpaksa berbohong kepada suaminya karena melakukan bisnis secara sembunyi-sembunyi juga “dipaksa” untuk bertaubat karena terbukti mengakibatkan keburukan bagi kehidupan keluarga mereka. Apalagi mereka adalah perempuan berhijab.

Toh akhirnya para suami juga menyadari kesalahannya karena selama ini merasa mengekang kebebasan istrinya dan hanya boleh sebagai ibu rumah tangga saja.

Aktor dan Aktris dalam Film Hijab (muvila.com)

Film yang dibintangi oleh artis papan atas Zaskia Adya Mecca, Carissa Puteri, Tika Bravani, Natasha Rizky, Nino Fernandez, Mike Lucock, Ananda Omesh, dan Dion Wiyoko ini mungkin menjadi tidak nyaman bagi mereka yang terbiasa mengedepankan Islam dengan simbol-simbol agamanya. Juga bagi mereka yang berhijab karena pengalaman spiritualitasnya. Tapi akan sangat menghibur bagi mereka yang memperoleh pengalaman serupa dengan sang tokoh. Juga bagi mereka yang berpikiran terbuka, termasuk soal agama.

 

Masifnya Budaya Barat dan Lahirnya Budaya Ketiga

22 Nov

Masifnya budaya Barat (Global Culture) di belahan dunia, terutama di negara-negara seperti di Indonesia menciptakan budaya baru (third culture). Budaya lokal yang semakin terdesak, kemudian menyesuaikan dengan budaya Barat yang dianggap memiliki nilai (common cultural values)/ citra dan patut ditiru itu. Seperti makan di west restaurant, pakaian jeans, pergi ke mal, dan lain sebagainya.

Di sinilah kemudian muncul budaya ketiga yang berdiri di antara keduanya. Dan agama, menjadi salah satu lokomotif dalam penciptaan budaya baru ini. Tidak hanya soal bagaimana menggunakan pakaian,model busana, atau larangan dan anjuran dalam transaksi bisnis, serta soal makanan, tapi juga bagaimana memilih pemimpin politik.

Kelompok-kelompok yang selama ini terpinggirkan secara politik maupun ekonomi, kemudian menciptakan sub-sub kelompok atau komunitas untuk melakukan perlawanan sambil mensosialisasikan cara berpakaian yang benar, model busana yang seharusnya, dan mengganti budaya lain (Barat) yang dianggap jahiliyah. Demikian juga kiblat-kiblat mode, pengetahuan, dan teknologi yang selama ini didominasi oleh negara-negara center seperti Prancis, Amerika dan lainnya berangsur-angsur diubah ke arah negara-negara lain yang dianggap lebih beradab, seperti Timur Tengah dan belahan dunia lainnya.

Di sinilah kemudian muncul sub-subkelompok di masyarakat. Misalnya, subkelompok yang sama sekali menolak budaya Barat, subkelompok yang mengintegrasikan budaya lokal dan budaya Barat, subkelompok yang menjaga kepatuhannya terhadap agama tapi tampil modern (Barat), dan masih banyak sub-subkelompok lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

 
 
Skip to toolbar