RSS
 

Archive for January, 2018

Media Cetak dan Generasi Milenial

20 Jan

Foto: Majalah HAI

 

Ini adalah cover majalah HAI edisi cetak terakhir, Juni 2017. Meski tak mau disebut gulung tikar, karena HAI sesekali mengemas dengan versi online dan aktivitas lainnya di waktu-waktu tertentu, HAI mau ga mau harus terus mengikuti perkembangan anak muda.

HAI juga ga mau dianggap tua sekalipun usianya sudah 40 tahun. Ya iyalah, namanya juga majalah anak muda hehe..

HAI adalah majalah remaja laki-laki tanggung, brondong. Waktu muda, saya termasuk ikut merasakan bagaimana gaharnya majalah ini.

Kesimpulan saya saat itu, HAI mampu merepresentasikan anak muda kreatif. Bukan sekedar majalah anak muda yang gemar mengumbar model dan cover majalah yang show ke sana kemari, seperti majalah anak muda sejenis. Majalah HAI selalu menampilkan sudut pandang musik, kritik film, hingga memberi ruang pembaca untuk menulis.

Hampir tiap bulan saya melanggan. Saya harus mengumpulkan uang dengan bekerja keras saat pulang sekolah (SMA). Selain saya harus melanggankan majalah Aneka buat adik keponakan saya yang perempuan.

Majalah Aneka adalah majalah remaja paling laris di zamannya. Yeah.. enak banget adik saya itu….

Selain dua majalah itu, di rumah juga berlangganan majalah Aula, majalahnya orang NU yang dilanggan kakak keempat saya. Sementara Jawa Pos dilanggan sama kakak kedua saya. Saudara saya total 7 orang (termasuk saya). Eh, aslinya 11 orang ding, yang meninggal 4 orang. Uih.. banyak banget hehe..

Eh, satu lagi, saya tak pernah absen buat pinjam majalah MPA, punya tetangga yang sekaligus salah satu guru ngaji kitab kuno saya. Beliau menjadi guru PNS bidang agama. Dan selalu dapat gratisan majalah MPA dari depag.

Anyway, sekalipun keluarga saya, secara ekonomi pas-pasan tapi saya bersyukur setiap hari bisa melahap berbagai jenis media cetak. Bahkan selalu habis saya baca. Beda dengan sekarang, satu majalah saja kadang ga habis saya baca dalam 2 bulan. Parah..:)

Banyak pengamat memprediksi bahwa tak lama lagi media cetak akan bertumbangan. Sudah banyak contohnya yang lebih dulu berguguran.

Kalaupun ada yang masih merasakan nikmat aroma kertas, dijamin itu generasi zaman old. Sementara generasi kids zaman now sudah melintasi jagad maya, berselancar untuk mencari informasi bahkan menjadi content media online ke berbagai negara dengan mudah.

Prediksi Marshall McLuhan tentang global village telah menemui kesempurnaannya. Konsep borderless world sudah kita nikmati saat ini, minimal dimulai sejak akhir tahun 90-an. Gerak generasi milenial melesat tanpa bisa dibatasi.

Lalu bagaimana nasib kertas? Saat ini sejumlah pabrik kertas sudah mengalami kebangkrutan. Sementara yang sadar disrupsi segera mengimprovisasi produknya ke level kertas yang digunakan pada bidang-bidang desain dan iklan.

Tapi saya yakin, perusahaan-perusahaan ini akan mengalami penyesuaian-penyesuaian sesuai dengan karakter online dan karakter generasi millenial. Dan pada akhiranya bertumbangan. Minimal untuk kebutuhan media massa cetaknya. Sampai kapan? Kita nikmati saja proses ini..

 
1 Comment

Posted in Media

 

Balada Tugas akhir

16 Jan

foto: pameran tugas akhir dkv stikom

Di tengah pernak pernik kisah asmara dan romantisme anak kuliahan, barangkali saya tidak sendiri ketika mengalami stress tingkat dewa (hehehe) saat harus berhadapan dengan tugas akhir. Nyaris semua mahasiswa mengalami hal serupa. Tapi itu akan menjadi bagian dari warna hidup yang cukup menyenangkan untuk diceritakan pada anak cucu kita kala kita sudah jadi kakek2 atau nenek2 (anak baru sekolah TK, sdh ngomong cucu hihi).

Banyak kejadian yang menyakitkan, mengharukan, kesal, linglung, dan nyaris down saat kita berhadapan dengan tigas akhir: skripsi, tesis, maupun disertasi. Mahasiswa yang tak mampu survive sudah pasti memutus hubungan alias DO. Kelar deh hidup loe.. wkwkwk.

Saat garap skripsi, pembimbing utama saya bilang: “Kamu mau nyelesaikan skripsi atau organisasi?” pertanyaan yang menampar saya karena saat itu masa kuliah saya nyaris habis, semester 8.
“Emm.. organisasi deh Pak,” jawab saya sambil merunduk.
“Ya sudah terserah kamu!” dosen pembimbing saya mulai putus asa (Lho ga kebalik ta?? hihi). Betapa tidak, jika saya lulus smster 8, mungkin saya akan ditaboki teman2 karena pada saat yang sama, saya masih menjabat ketua di salah satu organisasi di kampus. Tentu saja bukan hanya karena itu, tapi garap skripsinya itu yang tambah mumet. Ribet banget hidup loe.. (minjem kalimat dosen saya yang sering disampaikan di kelas hehe).

Berbeda saat saya garap tesis (S2). Saya harus mengejar-ngejar dosen pembimbing hingga ke rumahnya. Saat di seminar dan sidang pun tak luput dari “pembantaian”, terutama dari para penguji. Nangis galon deh…

Namun yang masih selalu ingat dan sering terjadi saat itu adalah ketika otak sudah ga konsen, spaneng, dan melakukan sesuatu yang ga ada hubungannya di tengah mengerjakan tesis. Ini juga terjadi pada teman2 saya.

Seorang teman curhat,
“Kadang tiba-tiba aku mengambil piring dan memasukkan ke dalam lemari pakaian,”.
Teman yang lain menimpali, ” Sama. Kalau aku sih sering tiba-tiba bawa sendok ke kamar mandi,”. Hehe..
“Ngapain aja bawa sendok ke kamar mandi? Dasar!,” kelakarku .

“Kalau aku paling sering pake kaos kaki sintingan. Seperti sekarang kayaknya,” kami sama2 melihat ke bawah. Ya Allah beneran. Semua tertawa .. haha..

Nah, yang lebih menggelikan dan memalukan, terjadi sekitar 2 bulan lalu. Beberapa saat setelah bimbingan ke dua dosen untuk keberlangsungan nasib disertasiku. Saat aku menunggu taksi online, sambil makan di warteg pinggir jalan. Beberapa saat selesai makan, taksi datang. Aku langsung bayar makan, pamitan ke penjual, dan segera masuk taksi. Saat hendak masuk taksi, tiba-tiba si bapak penjual nasi teriak-teriak,

“Mas, Mas, ituuu…” teriaknya.
Apa sih orang ini. Ga jelas juga ngomongnya. Makan juga sudah aku bayar. “Ya Pak, apa?” tanyaku agak kesal sekaligus ingin menenangkan.
“Itu Mas, ituuu..” si penjual beringsut mendekat sambil menunjuk tangan kiri saya.
“Ya Allah..” teriakku reflek.
“Ya Mas.. kursinya jangan dibawa…” penjual dan sopir taksi pun tertawa ngakak..

😂😂😂

 
1 Comment

Posted in Inspirasi

 

Dosen Jaman Now

16 Jan

Foto: dokumentasi pribadi

Belakangan banyak beredar keluhan sejumlah dosen yang merasa tidak di-wong-ke sama mahasiswanya. Mulai cara bertanya, janjian, layaknya menghadapi teman sendiri. Khususnya dalam penggunaan media komunikasi WA atau Line.

Nah, kalau ditelisik lebih jauh sebenarnya
persoalan ini karena faktor usia yg cukup jauh antara dosen dengan mahasiswa. Persoalan ini menjadi rumit ketika komunikasi yang dilakukan menggunakan teknologi, seperti WA dan Line. Perbedaan usia memang menimbulkan perbedaan komunikasi yang signifikan. Jadi wajar jika terjadi misskomunikasi antar keduanya. Meski begitu, kita juga tak bisa menyalahkan sepenuhnya para mahasiswa. Apalagi jika yang mengeluh adalah generasi dosen jaman now. Nah, kalau dosen generasi ini memang lain lagi persoalannya.

Sedikit saya ulas tentang generasi jaman now. Generasi ini kerap juga disebut sebagai generasi milenial. Sebuah generasi yang dibesarkan oleh teknologi dan seperangkat gadget super canggih. Nyaris setiap aktivitas tak lepas dari gadget. Sejumlah penelitian menyebut generasi ini lahir setelah tahun 1980, bahkan tak sedikit yang menyatakan 5 tahun sebelum 1980 pun (kelahiran 1975) masih termasuk generasi jaman now.

Oke, kembali ke laptop. Kebiasaan dosen jaman now adalah selfie2 bersama mahasiswa, hangout bareng, ngupi2 di warung atau kafe, nongkrong rame-rame sehingga kadang lupa jika yang diajak ngobrol adalah mahasiswa. Nyaris tak ada bedanya antara dosen dan mahasiswa. Semua model komunikasi sang dosen persis dengan mahasiswanya. (Saya termasuk dosen model ini hihihi…)

Inilah yang membuat para mahasiswa juga lupa kalau yang diajak chating via WA atau Line adalah dosennya. Seseorang yang notabene sebagai orang yang pantas dihormati karena memberikan banyak ilmu selama kuliah. Misalnya, “Pak, ada di kampus nggak? Saya sudah otw nih..” tanya mahasiswa.
“Ya” jawab dosen singkat.
“Posisi?” balas mahasiswa lagi.
Dosen yang suka berkelakar akan jawab “Sedang nungging,” 😀

Waktu saya kuliah S1 komunikasi, jargon yang ditanamkan oleh jurusan dan fakultas adalah “Antara dosen dan mahasiawa tak boleh ada jarak tapi harus ada batas”. Rupanya jargon itu sangat relevan untuk saat ini.

So, kalau masih ada dosen jaman now yang mengeluh karena mahasiswanya kurang ajar, ngelunjak, itu adalah konsekuensi dari apa yang kita lakukan. Atau bisa jadi karena kita sendiri yang tak mampu membedakan antara jarak dan batas.

Keep spirit and happy!!

 
 
 
Skip to toolbar