RSS
 

Masifnya Budaya Barat dan Lahirnya Budaya Ketiga

22 Nov

Masifnya budaya Barat (Global Culture) di belahan dunia, terutama di negara-negara seperti di Indonesia menciptakan budaya baru (third culture). Budaya lokal yang semakin terdesak, kemudian menyesuaikan dengan budaya Barat yang dianggap memiliki nilai (common cultural values)/ citra dan patut ditiru itu. Seperti makan di west restaurant, pakaian jeans, pergi ke mal, dan lain sebagainya.

Di sinilah kemudian muncul budaya ketiga yang berdiri di antara keduanya. Dan agama, menjadi salah satu lokomotif dalam penciptaan budaya baru ini. Tidak hanya soal bagaimana menggunakan pakaian,model busana, atau larangan dan anjuran dalam transaksi bisnis, serta soal makanan, tapi juga bagaimana memilih pemimpin politik.

Kelompok-kelompok yang selama ini terpinggirkan secara politik maupun ekonomi, kemudian menciptakan sub-sub kelompok atau komunitas untuk melakukan perlawanan sambil mensosialisasikan cara berpakaian yang benar, model busana yang seharusnya, dan mengganti budaya lain (Barat) yang dianggap jahiliyah. Demikian juga kiblat-kiblat mode, pengetahuan, dan teknologi yang selama ini didominasi oleh negara-negara center seperti Prancis, Amerika dan lainnya berangsur-angsur diubah ke arah negara-negara lain yang dianggap lebih beradab, seperti Timur Tengah dan belahan dunia lainnya.

Di sinilah kemudian muncul sub-subkelompok di masyarakat. Misalnya, subkelompok yang sama sekali menolak budaya Barat, subkelompok yang mengintegrasikan budaya lokal dan budaya Barat, subkelompok yang menjaga kepatuhannya terhadap agama tapi tampil modern (Barat), dan masih banyak sub-subkelompok lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan Gojek, WOM, dan Keterkejutan Saya

22 Nov

Foto: style.tribunnews.com

Kurang lebih seminggu ini, iklan gojek di perempatan Kuningan Jakarta menjadi viral di media online, medsos, maupun grup-grup WA.

Dalam wacana yang berkembang, iklan ini melahirkan pro dan kontra. Sebagian ahli komunikasi dan desain menganggap iklan ini jauh dari prinsip iklan. Apa yang dikomunikasikan? Prinsip desain macam apa ini? Dan masih banyak lainnya.

Sementara sebagian yang lain, termasuk saya, justru menganggap iklan ini adalah brilliant ad!

Seminggu ini saya cukup sering memberi penjelasan di kolom komentar medsos; terutama facebook dan LinkedIn. Gara-gara hal itu, saya kebanjiran permintaan pertemanan di LinkedIn. Tak sedikit yg mengucap terimakasih atas penjelasan saya.

Di medsos, saya selalu menjelaskan bahwa iklan ini bergerak di luar mainstream. Gojek tidak memaksa orang untuk membaca. Medium is the message. Media adalah pesan itu sendiri. Demikian kata McLuhan. .

Iklan ini dipasang di areal kemacetan: perempatan Kuningan Jakarta. Bagi sebagian orang yang sempat baca, dia mendapat hiburan di tengah suntuk kemacetan yang sangat. Apalagi copywritenya sangat menggelitik. Org bilang, ini iklan atau novel?

Sedangkan sebagian org yg tak sempat baca, dia akan kepikiran: ini iklan apa? Kemudian menjadi bahan diskusi baik off maupun online. .

Sederhananya, sebagian besar yg mengkonsumsi adalah orang awam, bukan desainer. Apalagi di Jakarta, org sudah bosan dijejali iklan dg berbagai macam model dan rumit. Itulah yg ditangkap Gojek. Masyarakat jakarta butuh yg sederhana untuk dicerna, dan beda. Apalagi saat pulang kerja. Membuat iklan tak sekedar butuh kemampuan desain, tapi kemampuan menggali insight yang mendalam sehingga melahirkan ide dan konsep yang brilian.

Dan Berhasil! Gojek telah menciptakan diskusi publik di masyarakat. Publik telah membicarakan iklan gojek di mana-mana. Inilah yg dalam marketing communication disebut efek WOM (Word of Mouth). Iklan ini menjadi viral sekaligus wacana publik. Secara tidak sadar, brand gojek menancap di pikiran publik. Ketika banyak brand/iklan susah payah meraih WOM, Gojek berhasil meraih ekspektasinya.

Yang mengejutkan, siang tadi, komen saya di-like dan dikomentari oleh seseorang yg sangat aku kenal. Dia bilang: “Konsep ini yang mengerjakan adalah salah satu anak bapak di MM (Multimedia Stikom Surabaya, pen)”.
.
Whatttt????

 
No Comments

Posted in IMC

 

Bahasa, Kelas, dan Kekuasaan

22 Nov

Foto: www.kejadiananeh.com

Apa yang membedakan bahasa Jawa, Jakarta (Betawi), Indonesia, Inggris, Perancis, Jepang, dan lainnya? Semua lahir dari budaya masa lalu, bahkan primitif. Namun blok kekuasaan membuat setiap bahasa memiliki kelas. Bahasa Inggris memiliki kasta paling tinggi dalam dunia internasional sehingga menjadi prasyarat yang harus dilalui oleh siapa saja yang ingin kuliah. Tak hanya kuliah di luar negeri, tapi juga dalam negeri. Paling buruk memiliki Toefl sekitar 500 jika ingin kuliah pascasarjana dalam negeri, terlebih jika melalui jalur beasiswa. Sementara untuk ke luar negeri minimal 550 atau sekitar 6.0 untuk skor Ielts. Tak sedikit yang mensyaratkan di atas itu. kampus NTU Singapura bahkan mensyaratkan skor Ielts 7.0 untuk jurusan komunikasi.

Kekuasaan Inggris yang mengkoloni ke banyak negara jajahan meninggalkan kolonisasi bahasa secara masif dan terstruktur. Bahkan untuk negara dg bahasa non-Inggris seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, dan negara asia tenggara lainnya, bahasa Inggris menjadi menu utama dalam urusan pendidikan dan pekerjaan.

Begitu pula bahasa Jakarta (Betawi) yang berhasil menaikkan kastanya di atas bahasa daerah lain, khususnya bagi anak muda. Menggunakan bahasa Jakarta serasa lebih keren. Giliran nonton Pojok Kampung JTV, kita akan terpingkal2 karena bahasa Jawa Surabaya tak biasa diakomodasi oleh kekuasaan melalui media sehingga membuat bahasa ini terkesan tertinggal dan “ndeso”. Ini karena selama puluhan tahun, nyaris semua film atau sinetron di media didominasi oleh bahasa Jakarta.

Bahasa adalah produk budaya. Tapi kekuasaan (pemerintah atau pemilik modal) memiliki kekuatan untuk mendominasi bahasa, yang sejatinya memiliki keunikan tersendiri sesuai dengan karakter masyarakat itu. Kekuasaanlah yang membuat bahasa menjadi tersekat-sekat dan melahirkan kelas-kelas yang berbeda: kelas utama atau kedua, elit atau ndesit, bergengsi atau kampungan.

 
 
Page 1 of 3412345...102030...Last »
 
Skip to toolbar