10 Karakter Generasi Millenials

Generasi ini adalah generasi yang tumbuh pada abad millenium 2000, seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang secara signifikan mengubah wajah dunia. Populasi Generasi Millenials Indonesia, sangat menggiurkan para pelaku bisnis dan pemasar di Indonesia, karena itulah penting bagi pemasar dan pelaku bisnis untuk memahami karakter dan perilaku generasi digital ini. Berikut ini merupakan 10 karakter dari Generasi Millenials tersebut :

1. Melek Digital

Mereka adalah pengguna terbesar media sosial, karena melek digital Generasi Millenials mudah mengekspresikan diri di akun sosial media mereka.

2. Konsumtif

Mereka menempatkan berbelanja, traveling, membeli tiket konser dan film sebagai prioritas. Sifat konsumtif ini terbentuk karena kemudahan mereka dalam mendapatkan pinjaman melalui kartu kredit dan kemudahan berbelanja secara online. Perilaku konsumtif Generasi Millenials, juga dipicu oleh sosial media yang menuntut mereka untuk selalu mengupdate dan memposting apa yang sudah mereka belanjakan pada akun sosial media mereka. “Tingkat konsumtif mereka bahkan melebihi penghasilan mereka setiap bulan. Dalam satu bulan mereka dapat membeli dua snicker”, kata Anton Wirjono Founder Retail Fashion The Goods Dept. Anton menceritakan bagaimana Generasi Millenials memperjuangkan sepatu Nike limited edition dari Kanye West yang hanya dijual 35 pasang. “Pada program itu, Generasi Millenials yang berminat mencapai 1.200 orang. Mereka memiliki kebanggann tersendiri kalau bisa mendapatkan sesuatu yang tidak bisa didapatkan peers mereka, untuk kemudian dipamerkan melalui akun sosial media mereka”.

3. Saving untuk Sesuatu yang Diimpikan

Meski Generasi Millenials tergolong segmen konsumtif, mereka suka menabung. Jika generasi sebelumnya menabung untuk berjaga-jaga, dalam arti uang yang ditabung digunakan sebagai cadangan untuk semua keperluan yang tidak pasti atau tidak terduga di masa depan, maka Generasi Millenials menabung untuk keperluan yang sudah pasti. Tipe menabung Generasi Millenials adalah easy come easy go, jadi mereka lebih mudah membelanjakan uang tabungan untuk membeli sesuatu yang ingin mereka miliki atau lakukan. Contoh, tabungan mereka untuk anggaran traveling di akhir tahun atau untuk membeli produk yang mereka idam-idamkan setiap bulannya. Mereka cenderung tidak siap untuk tabungan masa depan, tetapi positifnya mereka tahu apa yang mereka mau dan berusaha keras mewujudkannya.

4. Knowledgeable

Generasi Millenials adalah generasi kritis yang memiliki keingintahuan tinggi. Dengan kemudahan mencari informasi lewat internet maka mereka tahu betul apa yang mereka mau. Mereka akan mencari tahu terlebih dahulu informasi sebelum mereka melakukan pembelian.

5. Digital sebagai Media Komunikasi

Generasi Millenials lebih senang berlama-lama di sosial media dan digital. Oleh karena itu berkomunikasi dengan Generasi Millenials lebih efektif menggunakan media digital dan sosial media. Generasi Millenials juga menuntut dalam berkomunikasi di media sosial dan digital dengan cara-cara yang kreatif dan interaktif yang dapat melibatkan mereka. Oleh karena itu, mereka menyukai konten kreatif yang sifatnya newness atau kekinian, coolness dan otentik. Bahkan Generasi Millenials memilih menjadikan influencer sebagai “Hero-nya”, contohnya influencer di sosial media Instagram.

6. Menjadi Entrepreneur tanpa Persiapan

Gaji tinggi dan menjadi karyawan di perusahaan yang mentereng, tidak lagi menjadi daya tarik Generasi Millenials, sebab kemudahan terutama di dunia digital dan dijejali dengan cerita-cerita suskes para start up, menjadikan Generasi Millenials lebih tertarik menjadi entrepreneur. Sayangnya, obsesi menjadi entrepreneur ini kadang dilakukan tanpa persiapan, yang pada akhirnya berujung pada kegagalan. Generasi Millenials ini hanya bersemangat di awal, mereka juga sudah punya karakter hard working, tetapi how to nya tidak dipikirkan. Padahal sudah ada kemudahan di era digital dalam mencari tahu how to. Selain itu, kemampuan pendukung atau skillnya kurang. Kemalasan itulah yang menghambat kesuksesan mereka. Menjadi entrepreneur saat ini memang lebih mudah, karena bisa berpromosi tanpa keluar banyak biaya, cukup melalui medsos. Namun, data menunjukkan bahwa 90% start up gagal. Hal ini karena mereka hanya membayangkan hasil akhir dan melupakan proses. Contohnya, semua orang melihat Google yang sukses, tetapi jatuh bangunnya Google tidak dilihat.

7. Mengutamakan Fasilitas dan Apresiasi di Dunia Kerja

Generasi Millenials lebih memilih fasilitas dan diapresiasi, serta tidak menempatkan gaji besar sebagai poin yang utama. Contohnya saja, karyawan Generasi Millenials ingin suasana kantor yang tidak terlalu serius, menyerupai play ground layaknya kantor Google. Mereka juga ingin diperlakukan berbeda, misal dengan memberikan apresiasi berupa tiket perjalanan bisnis ke luar negeri yang limited atau hanya dia sendiri yang memperolehnya.

8. Rise of The Experiential

Bagi generasi sebelum Generasi Millenials, kesuksesan seseorang amat dilihat dari keberhasilan mereka dalam memiliki hal-hal berbau materi. Indikator kesuksesan pada Generasi Millenials dinilai dari seberapa banyak materi yang dimiliki.  Namun, hal ini telah berubah pada Generasi Millenials, kesuksesan mereka dinilai dari seberapa banyak pengalaman hidup mereka. Semakin banyak mereka melakukan kegiatan-kegiatan unik maka mereka merasa dirinya semakin sukses pula. Maka dari itu, kini mereka menghargai pengalaman-pengalaman dibandingkan sekedar material, baik itu berupa uang maupun benda. Hal ini dapat dimanfaatkan oleh pemasar atau pengiklan, berdasarkan survei Eventbrite pada 2014, ada beberapa fakta unik memperkuat argumen mereka, bahwa Generasi Millenials sangat menghargai pengalaman. Sebesar 78% dari Generasi Millenials mengeluarkan uang untuk membeli pengalaman baru dibandingkan untuk membeli benda-benda yang mereka inginkan. Sebesar 82% dari mereka mengikuti berbagai pengalaman langsung dalam setahun baik itu konser, lomba dll. 72% ingin meningkatkan pengeluaran mereka untuk pengalaman langsung daripada membeli barang fisik. Pengalaman akan membentuk identitas diri mereka dan menghasilkan memori yang tidak mudah dilupakan dalam hidup mereka.

Singkatnya, Generasi Millenials ingin menjadi seseorang yang berguna dan berpengaruh, mereka ingin didengar oleh banyak orang dan pada akhirnya ingin dijadikan sebagai role model yang selalu jadi panutan bagi lingkungan sekitar. Dalam melihat generasi ini, pemasar harus berhenti melihat dari “vertical silos” karena mereka tidak membutuhkan kesuksesan yang dilihat secara vertikal.

9. Radical Transparency

Generasi Millenials sangat mengapresiasi otentisitas dari suatu produk atau bahkan suatu iklan. Mereka membutuhkan transparansi akan semua hal yang terjadi di sekitarnya. Generasi ini cenderung berbagi segala momen kehidupannya melalui medsos, namun konten yang mereka suka adalah konten yang life time dan otentik. Gerakan-gerakan yang terkini dan otentik tadi bisa menghasilkan WOM yang amat viral di dunia maya. Dengan begitu, brand harus berhati-hati dalam bertindak, baik di dunia nyata maupun digital. Dari sifat tersebut, kini tercipta istilah The Web Esteem, yakni istilah yang merujuk pada kepercayaan diri seseorang di dunia digital. Semakin otentik, jujur dan unik konten yang mereka bagikan di media sosial, maka semakin tinggi pula kepercayaan diri mereka di dunia digital. Kepercayaan ini bisa meningkat apabila engagement dengan para followernya semakin tinggi pula. Semakin unik konten, maka jumlah orang yang menyukai (memberi love, like, comment dll) semakin banyak pula. Hal itu menjadikan indikator untuk kepercayaan diri di dunia digital atau web esteem seseorang. Generasi Millenials lebih mengapresiasi brand yang dengan cepat mengakui kesalahannya daripada brand yang menutup-nutupi kesalahannya. Sekali saja brand buruk maka loyalitas dari Generasi Millenials akan dengan mudah hilang. Tidak masalah apakah kontennya baik atau buruk, tetapi selama konten dikemas dengan otentik dan menarik, maka Generasi Millenials akan menyukainya.

10. Fear of Missing Out (FOMO)

Generasi ini takut tertinggal informasi tentang peristiwa-peristiwa menarik disekitarnya. Mereka amat sering mengechek perangkat selulernya, hanya untuk mengetahui aktivitas apa yang sedang dilakukan oleh teman-temannya, dengan membuka Twitter, Instagram, Path, Facebook dll. Ketakutan yang mereka rasakan adalah ketakutan jika kelompok bermain mereka pergi ke suatu acara maupun tempat, namun tidak mengajaknya ke acara tersebut. Hal tersebut dapat dibuktikan dari sebuah riset mengatakan bahwa 83% dari Generasi Millenials tidur dengan perangkat seluler berada tepat disamping mereka. Hal ini terjadi karena mereka tidak ingin ketinggalan informasi dari lingkungan mereka.

Dari sifat ini brand harusnya bisa memanfaatkan ketakutan mereka, dengan cara membuat acara-acara langsung (live event) yang unik  sehingga tercipta efek viral pada generasi ini. Jika anggota bermain mereka, telah datang ke acara tersebut maka mereka pun akan cenderung untuk ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Selalu ciptakan sebuah acara yang justru meningkatkan tingkat kecemasan akan ditinggal tadi, namun bantu pula mereka agar mereka bisa mengikuti acara tersebut dan menghilangkan kecemasan yang mereka rasakan.

Dikutip dari : MIX Marketing Communication, 2016. Hasil Kompilasi Dosen Fakultas Psikologi UI Ivan Sudjana, M.Psi dan Founder Brightspot Market and The Goods Dept. Anton Wirjono.

categories Bisnis | comments Comments (14)

Model WOW Leadership

Waktu memang menjadi hal yang mahal bagi para pemimpin, begitu juga yang dialami Retno Marsudi, Duta Besar Indonesia untuk Belanda sebelum ia diangkat menjadi Menteri Luar Negeri RI. Namun, kesibukannya tidak membuat Retno mengabaikan kesehatan fisiknya. Disela-sela aktivitasnya di dunia internasional Retno selalu berusaha meluangkan waktu untuk melakukan olahraga. Selain olahraga, Retno juga menjaga istirahat yang cukup, ia memahami benar pentingnya menjaga aspek fisik bagi seorang pemimpin. Tanpa FISIK yang prima, tugas-tugas berat seorang pemimpin tidak akan bisa dijalankan dengan optimal.

Saat lulus sebagai wisudawati termuda di Fisipol UGM, Retno telah mulai menunjukkan keistimewaannya secara INTELEKTUAL. Perjalanan kariernya bertahun-tahun kemudian semakin menegaskan bahwa ia bukan sekadar tokoh intelektual yang pandai menjawab soal ujian diatas kertas, namun juga piawai dalam memecahkan masalah-masalah praktis di lapangan. Srikandi satu ini berperan besar dalam perundingan yang menghasilkan keputusan diizinkannya maskapai penerbangan Indonesia terbang kembali di langit Uni Eropa dan Amerika Serikat. Diplomasi tingkat tinggi semacam ini tentu membutuhkan kreativitas dalam berdiplomasi.

Ada persepsi umum bahwa negosiasi adalah pekerjaan kaum laki-laki. Dunia dianggap serba rasional, apalagi jika kita berbicara tentang negosiasi antara dua negara, yang terbayang di dalam benak kita pastilah tawar-menawar yang didasari oleh logika. Namun, pengalaman Retno membantah hal ini. Retno sangat percaya pada kekuatan personal relationship di dalam negosiasi. Meskipun negosiasi terjadi antara dua negara, namun negosiatornya tetaplah seorang manusia. Sebelum melakukan negosiasi, persiapan-persiapan khusus akan dilakukannya yaitu mempelajari karakter dari mitra negosiasinya, data personal ia pelajari untuk memahami karakter mereka, tidak hanya itu ia juga berusaha menempatkan diri di posisi mitra negosiasi untuk memahami tawaran minimal yang akan mereka terima. Inilah contoh kemampuan EMOTIONALITY dari seorang WOW leader. Agar bisa menyebarkan pengaruh secara efektif kepada orang lain, seorang pemimpin harus bisa melakukan olah rasa, tidak sekadar olah rasio.

Selama ini persepsi di kalangan pemerintah bahwa bekerja sama dengan LSM itu sulit. Namun, pengalaman Retno membantah persepsi tersebut. Kemampuan untuk menjalin hubungan dengan pihak yang beragam (SOCIABILITY) adalah salah satu atribut kepemimpinan yang dibutuhkan oleh seorang WOW leader. Pemimpin semacam ini bisa mengatasi dua jebakan yang lazim dihadapi saat seseorang melakukan networking : jebakan kesamaan (similarity trap) dan jebakan kedekatan (proximity trap).

Pengalaman hidup yang penuh lika – liku serta tanjakan dalam mencapai tujuan menjadikan Retno terbiasa dengan situasi sulit. Sebagai seorang pemimpin, ia tidak mudah patah arang dan mundur ke belakang saat menghadapi tantangan. Kemampuan memotivasi diri sendiri (SELF – MOTIVATION) memang merupakan salah satu atribut kepemimpinan yang harus dimiliki seorang leader.

Rasa RESPONSIBILITY yang besar pula yang dapat menjadikan kariernya menanjak tajam, selain itu pemimpin juga mutlak memiliki INTEGRITY yaitu tidak boleh ada kesenjangan antara kata dan perbuatan.

 

 

categories What's Up | comments Comments (11)

Belajar dari Korea Selatan

Korea Selatan kini telah menjadi perhatian dunia dan menjelma menjadi satu dari lima belas negara dengan ekonomi terkuat di dunia, dilihat dari nominal GDPnya. Jika melihat Korea Selatan saat ini, sulit rasanya untuk percaya bahwa pada tahun 1970 an kehidupan di Seoul, Korea Selatan dan Pyongyang, Korea Utara sulit dibedakan. Sebagai negara agraris yang miskin dengan keterbatasan sumber daya alam, satu-satunya modal yang dapat digunakan untuk mengubah ekonomi dan masyarakat Korea Selatan adalah masyarakat Korea Selatan itu sendiri, dan mereka menyadari pentingnya peran pemerintah untuk mengoptimalkan potensi masyarakat di negaranya.

Korea Selatan mengawali perubahan besar ketika presiden pada saat itu Kim Dae Jung, melihat bahwa krisis Asia 1997 telah meluluhlantahkan Korea dan menyisakan sedikit modal yang dapat digunakan untuk memperbaiki keadaan. Melihat hal itu, Presiden Kim Dae Jung memutuskan untuk menjadikan Korea Selatan sebagai eksportir berkelas dunia untuk budaya mereka sendiri yang disebut “Hallyu”. Rencana presiden saat itu terdengar aneh, tetapi siapa sangka hampir dua dekade kemudian Korea Selatan telah berhasil mewujudkan hal tersebut. Saat ini Hallyu telah menghasilkan miliaran US Dollar bagi Korea Selatan.

Dengan hallyu, yang saat ini lebih dikenal dengan istilah Korean Wave, Korea Selatan telah menjelma menjadi negara dengan industri populer (industri pop) yang mendunia. Korean Wave terus tersebar sehingga menjadikan negara ini semakin dikenal dunia. Budaya, pakaian, makanan dan apa saja tentang Korea Selatan cepat sekali menjadi tren yang sangat digemari dunia, termasuk Indonesia. Tak hanya sampai situ, ambisi pemerintah Korea Selatan untuk menjadi negara eksportir Hallyu bagi seluruh dunia juga terlihat dari komitmen pemerintah yang mengalokasikan  APBNnya sebesar 1% untuk subsidi dan pinjaman dengan bunga rendah kepada sektor industri pop di negeri tersebut.

Mendapat dukungan dari pemerintah, dunia bisnis Korea khususnya industri pop Korea mulai bergeliat dan terus tumbuh. Tiga besar perusahaan agensi disana SM, YG dan JYP berperan penting  dalam mengekspor artis-artis Korea Selatan ke berbagai negara. Perusahaan-perusahaan agensi di Korea Selatan biasanya menggunakan Youtube untuk memperkenalkan musik baru dan artis-artis mereka.

Industri pop telah mengubah mental masyarakat di Korea Selatan. Saat ini mimpi terbesar masyarakat negeri itu adalah menjadi artis dan bagian dari industri pop yang terus berkembang dan menjanjikan kehidupan yang lebih baik, tetapi tentu saja hal itu tidaklah mudah. Persaingan yang keras menuntut perusahaan agensi menetapkan standar yang sangat tinggi bagi artisnya. Sifat kompetitif, disiplin tinggi, kerja keras dan pantang menyerah merupakan syarat yang harus dimiliki oleh pelaku di dunia pop Korea, dan tanpa disadari hal tersebut telah menjadi nilai dan dianut oleh masyarakat Korea Selatan.

 

categories What's Up | comments Comments (7)

From Government (G) to Business (B) to People (P)

Diberlakukannya MEA pada akhir 2015 akan mengakibatkan globalisasi bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Globalisasi akan membawa perubahan yang terus menerus dan sering kali tak terduga. Globalisasi adalah tentang perubahan dari masyarakat homogen ke masyarakat yang semakin heterogen dan dari ekonomi tertutup ke ekonomi pasar bebas. Pada saat yang sama, perubahan yang dibawa oleh globalisasi tidak selalu memberikan hasil yang diingankan. Dengan demikian, memahami perubahan dan dampaknya menjadi hal penting untuk dilakukan.

Era pertama dari globalisasi (globalisasi 1.0) dimulai pada tahun 1400 an ketika Cheng Ho berlayar di bagian timur bumi dan Christopher Columbus berlayar di bagian barat bumi dengan tujuan untuk pencarian lahan baru, bahan baku dan perdagangan. Pada saat itu, kekuasaan berada di tangan-tangan orang yang memiliki kendali atas orang lain (kekuatan otot).

Era kedua (globalisasi 2.0) muncul pada tahun 1800 an, dimulai dengan era mesin uap yang menyebabkan industrialisasi dan urbanisasi. Pada era ini, pabrik-pabrik mulai bermunculan dan eksplorasi wilayah berubah menjadi penjajahan, perdagangan berubah dari kepemilikan oleh negara menjadi bisnis perorangan, dan kekuasaan bergeser dari mereka yang memiliki sumber daya kepada mereka yang tahu bagaimana memanfaatkan penggunaan sumber daya tersebut.

Era ketiga (globalisasi 3.0) dimulai setelah PD II di pertengahan 1940 an, ketika komputer hadir. lainnya berpendapat bahwa globalisasi 3.0 dimulai pada akhir perang dingin dan dengan dimulainya era internet pada awal 1990 an. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa periode baru globalisasi dipengaruhi secara fundamental oleh perubahan teknologi dan politik.

Di masa lalu, kekuatan dan daya saing sebuah negara dalam aspek ekonomi dan perdagangan global sangat ditentukan oleh keunggulan sumber daya alam yang dimiliki oleh negara tersebut. Keunggulan inilah yang sering disebut sebagai Comparative Advantage. Tetapi pada akhirnya, konsep dan keyakinan tersebut terpatahkan ketika pada pertengahan tahun 1985, Prof. Michael Porter dari Harvard University menyajikan suatu ide dan teori baru, yaitu Competitive Advantage Theory sebagai sumber daya saing menggantikan Comparative Advantage.

Berdasarkan Competitive Advantage Theory tersebut, tinggi rendahnya daya saing suatu negara bukan ditentukan oleh keunggulan kekayaan alam dari negara tersebut, tetapi ditentukan oleh daya saing manusianya. Inilah alasan negara-negara miskin sumber daya alam seperti jepang, Singapura dan Korea Selatan menjadi negara maju dalam hal ekonomi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa saat ini, kunci dalam memenangkan persaingan di era globalisasi adalah terletak pada PEOPLE nya.

 

Dikutip dari : Kartajaya H., Indonesia WOW Markplus WOW We Are WOW, 2015.

 

categories Bisnis | comments Comments (1)

WOW is Productivity and Creativity

Perkembangan teknologi komunikasi tidak dapat disangkal telah mengubah budaya pasar secara umum dan perilaku konsumen secara khusus, karena terkoneksi antara satu dengan lainnya (connectivity era), pasar menjadi semakin terdidik dan konsumen menjadi semakin cerdas dalam mengambil keputusan pembelian. Dulu konsumen melalui tahap : mengenali produk (AWARE), menentukan sikap suka atau tidak (ATTITUDE), memutuskan untuk membeli produk (ACT), kemudian jika puas konsumen akan kembali membeli produk tersebut (ACT AGAIN). Tahapan ini dikenal dengan sebutan 4A. Namun, tahapan ini kemudian mengalami perubahan menjadi 5A dimana urutannya adalah : konsumen mengenali produk (AWARE), merasa tertarik namun belum yakin (APPEAL), bertanya-tanya ke teman, keluarga atau komunitas (ASK), jika teman, keluarga bilang bagus baru memutuskan untuk membeli (ACT), kemudian jika puas konsumen akan merekomendasikan produk kepada konsumen lain (ADVOCATE).

Apakah advokasi dari konsumen kepada konsumen lain dapat dengan mudah diraih oleh produk / perusahaan tertentu? Tentu tidak.

Untuk menggapai itu, produk/perusahaan harus terlebih dahulu membuat konsumen merasakan WOW, yaitu sebuah perasaan terikat (engagement) dengan produk/perusahaan. Lalu, bagaimana cara untuk menciptakan WOW? terdapat dua hal yang harus dilakukan perusahaan untuk mewujudkan WOW yaitu Productivity dan Creativity. Produktif saja tidak cukup jika tidak didukung dengan kreatif, sebaliknya kreatif yang tidak produktif juga percuma. Sebagai sebuah konsep filosofis, produktivitas memiliki arti sebagai pandangan hidup dan sikap mental yang selalu berusaha untuk meningkatkan mutu kehidupan dimana keadaan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan mutu kehidupan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Seluruhnya sangat dipengaruhi oleh faktor : knowledge, skills, abilities, attitudes dan behaviours dari para pekerja yang ada dalam organisasi.

Saat ini, konsep pemasaran telah berkembang sedemikian pesatnya dari yang hanya berorientasi pada harga dan produk menjadi konsep pemasaran yang berorientasi pada pemenuhan “nilai-nilai spiritual (human spiritual)”. Disini, produktivitas perusahaan diukur bukan hanya pada pencapaian laba untuk perusahaan atau pemegang saham melainkan juga pada kemampuannya menyejahterakan konsumen, karyawan, maupun masyarakat sekitar dan bangsa secara umum, dimana pencapaian itu semua tetap memperhatikan dan menjunjung tinggi kelestarian dan kesinambungan lingkungan hidup. Konsep pemasaran yang sangat menjunjung tinggi nilai kejujuran dan kebaikan universal ini dikenal dengan istilah “Marketing 3.0”.

Dengan kondisi Indonesia yang sedang menghadapi MEA ini, selain memaksa prasyarat WOW yaitu produktivitas, perusahaan harus juga memiliki kreativitas. Seorang sales person harus mengoptimalkan waktu yang ia miliki se efektif mungkin untuk prospecting dan approaching pelanggan. Sales person harus kreatif dalam mengelola hubungannya dengan pelanggan dan menjaga kepercayaan yang diberikan, mengingat hari-hari spesial bagi pelanggan serta secara kreatif menggali hasrat dan kegundahan pelanggan yang terdalam.

 

Dikutip dari : Kartajaya, H.., Markplus, 2015.

categories Bisnis | comments Comments (2)

The Success Indicator By Mary Ellen Tribby

Have a sense of gratitude : Memiliki rasa syukur

Give other people credit for their victories : Berilah orang lain penghargaan untuk kemenangannya

Read everyday : membaca setiap hari

Talk about ideas : Bicara tentang ide-ide

Share information and data : Membagikan informasi dan data

Exude joy : memancarkan suka cita

Embrace change : Merangkul perubahan

Keep a to do project / list : Konsisten mengerjakan project / list

Compliment : saling melengkapi

Forgive others : memaafkan orang lain

Accept responsibility for their failures : Menerima tanggung jawa atas kegagalannya

Keep a journal : Membuat jurnal

Want others to succed : menginginkan orang lain untuk sukses

Keep a to be list : Membuat jadwal /list

Set goals and develop life plans : Mengatur tujuan dan mengembangkan rencana hidup

Continuously learn : Belajar terus-menerus

Operate from a transformational perspective : menjalankan dari perspektif transformasi

categories Quotes | comments Comments (0)

FROM “OK” TO “AHA” TO “WOW”

Dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat saat ini, ditambah lagi dengan mulai diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) semakin banyak perusahaan asing yang berinvestasi dan melakukan kegiatan bisnisnya di Indonesia. Hal ini tentu akan berdampak pada semakin banyaknya alternatif merek produk atau layanan bagi konsumen di Indonesia. Ketika fokus anda saat ini masih menciptakan produk yang berkualitas untuk mengatasi kendala atau kebutuhan konsumen saat ini sebagai diferensiasi merek dari pesaing, maka ekspresi yang kami gambarkan keluar dari konsumen adalah “OK”. Kata “OK” artinya konsumen tidak merasa kecewa tetapi juga tidak merasa puas sekali. Mereka hanya terpuaskan dari sisi produk dan layanan utama saja, mereka tidak merasakan pengalaman pelayanan ketika menggunakan produk anda apalagi values merek anda. Oleh karena itu, “OK” saja tidak cukup. Namun, untuk memenuhi standar fairness dari konsumen anda, mau tidak mau konsumen harus merasa “OK” terlebih dahulu, karena apa yang mereka bayar harus sesuai dengan apa yang mereka dapatkan.

Dalam menghasilkan “OK”, anda harus menciptakan Enjoyment. Enjoyment adalah ketika konsumen merasa needs and wants nya sudah terpenuhi melalui produk atau layanan yang anda berikan. Fokus utama dalam menciptakan Enjoyment tersebut antara lain kualitas dari produk dan layanan, menentukan bagaimana cara untuk mengkomunikasikan keunggulan kualitas tersebut kepada konsumen dan pastikan dapat dinikmati secara konsisten oleh konsumen ketika mereka mengonsumsi produk dan layanan anda kapanpun dan dimanapun.

Dengan berkembangnya waktu, semakin banyak perusahaan yang mulai menyadari bahwa menawarkan produk yang berkualitas saja tidak cukup, karena hal itu mudah ditiru pesaing. Konsumen menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar needs and wants saja, yaitu adanya experience dimana hal tersebut merupakan suatu pengalaman yang memberikan kesan tersendiri bagi konsumen saat menggunakan suatu produk atau jasa perusahaan anda. Untuk membangun sebuah experience diperlukan interaksi yang superior pula, konsumen tidak lagi hanya dipuaskan dengan penawaran utama anda saja, melainkan anda harus bisa memahami expectation and perception konsumen untuk menciptakan hasil “AHA” dari konsumen.

Pada dasarnya experience lebih berdampak panjang daripada enjoyment, karena konsumen akan mengingat pengalaman positif tersebut dan sesuatu yang membekas diingatan seseorang akan bertahan lebih lama. Namun, apakah experience saja cukup untuk menjadi lebih unggul di pasar? Tentu saja jawabannya tidak. Anda memerlukan hal lain, yaitu Engagement, karena ternyata tidak semua memorable experience akan menciptakan engagement. Engagement lebih akan diingat oleh konsumen dalam waktu yang lebih panjang, untuk menciptakan suatu engagement dibutuhkan pengenalan diri konsumen luar dan dalam, anda harus memahami apa yang menjadi anxiety and desire konsumen anda, baru setelah itu terjadi akan tercipta ungkapan “WOW” dari konsumen anda tersebut.

Dikutip dari : Kertajaya. H., Markplus, 2015.

 

categories Bisnis | comments Comments (0)

DICARI (SELALU) CEO YANG MEMBUMI

Survei yang digelar SWA bekerja sama dengan Ipsos dan Dunamis Intermaster untuk memilih The Best CEO bertujuan untuk mengungkapkan best practice para pemimpin bisnis terbaik, agar perusahaan di negeri ini bisa saling belajar bagaimana mempersiapkan pemimpin bisnis di masa depan. Pada tahap awal CEO diseleksi berdasarkan kinerja perusahaan yang mereka pimpin selama beberapa tahun terakhir. Selanjutnya, penilaian bukan berdasarkan popularitas para CEO tersebut di mata orang lain atau publik melainkan, penilaian yang dilakukan oleh para karyawan sang CEO sendiri. Dasar pemikirannya, setenar apapun mereka di mata publik, tugas sesungguhnya seorang CEO adalah berjuang bersama karyawannya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama.  Para karyawanlah yang sehari-hari menjadi mitra sang CEO untuk meraih mimpinya. Karena itu, penilaian karyawan menjadi sentral untuk mengukur sejauh mana kualitas seorang pemimpin.

Untuk mencari sekaligus menemukan pemimpin yang ideal di mata karyawannya, survei ini mengungkap empat peran kepemimpinan di mata para karyawan yang berada di lapisan satu dan dua dibawah sang CEO yang disurvei. Keempat peran kepemimpinan tersebut adalah

  1. Peran pemimpin sebagai perintis (pioneer).
  2. Peran pemimpin sebagai penyelaras (alignment) atas seluruh kekuatan dan sumber daya yang ada di dalam organisasi.
  3. Peran pemimpin sebagai pemberdaya (empowerment).
  4. Peran pemimpin sebagai panutan (role model) karyawannya.

Indikator lain untuk menilai fungsi kepemimpinan dalam survei ini adalah kepercayaan (trust) dan eksekusi (execution).

Indikator kepercayaan mencakup : kemampuan seorang pemimpin menciptakan transparansi dalam lingkungan kerja, memegang teguh akuntabilitas diri sendiri atau anggota tim, mau mendengarkan lebih dulu sebelum mengambil keputusan, memberikan kepercayaan kepada orang lain.

Indikator eksekusi mencakup : kemampuan sang pemimpin menciptakan sistem dan proses yang membantu anggota tim dalam menyelesaikan pekerjaannya dengan lebih baik, secara jelas mendefinisikan tujuan yang sangat penting dan menetapkan pengukurannya untuk memantau perkembangannya, bertemu secara teratur untuk mendiskusikan kemajuan dari tujuan yang sangat penting, memberikan pengakuan dan penghargaan kepada anggota tim yang berprestasi.

Selain itu, masih ditambah satu indikator lagi, yakni komitmen karyawan. Asumsinya, kepemimpinan seorang CEO juga berpengaruh pada komitmen karyawan terhadap perusahaan dan pekerjaannya.

Survei ini memang menekankan kemampuan CEO untuk mengeksekusi strategi dengan dukungan para karyawannya. Terdengar sederhana, memang. Namun tidak demikian praktiknya. Pasalnya, jauh lebih mudah menemukan para pemimpin yang jago mengumandangkan visi dahsyat tapi loyo di tingkat eksekusi, ketimbang menjumpai pemimpin bersahaja tetapi berkinerja prima. Apalagi di era digital saat ini, betapa mudahnya para pemimpin mencari referensi visi hebat dan supercanggih yang dilontarkan orang besar dari seantero jagat. Hanya dibutuhkan waktu beberapa menit di depan laptop, tab atau bahkan poonsel untuk melahap beragam pemikiran baru di bidang kepemimpinan beserta visi besarnya.

Survei ini berusaha mencari sekaligus menemukan para CEO “membumi” : para nahkoda bisnis yang betul-betul fokus membereskan segala urusan di bumi bukan sekadar fasih berbicara tentang visi bisnis yang muluk dengan bahasa langit. Urusan di bumi itu antara lain, menyusun strategi bisnis yang hebat sekaligus piawai mengeksekusinya sehingga memberikan maslahat sebesar-besarnya bagi seluruh pemangku kepentingan perusahaan; pemegang saham, karyawan, pelanggan, pemasok, pemerintah dan masyarakat luas.

 

Dikutip dari : Djatmiko, SWA/XXXII/2016

categories What's Up | comments Comments (4)

DATA SCIENTIST : Makin Dilirik Pebisnis

“Seminggu sebelum badai menerjang, Linda Dillman (CIO Wal-Mart) mengontak staffnya untuk memaparkan apa yang harus dilakuakn Wal-Mart dengan stok penjualan. Berdasarkan data saat badai Charley menyerang beberapa waktu sebelumnya, ternyata penjualan Pop Tarts rasa strawbery meningkat tujuh kali, selain itu juga ada bir dan senter. Berbekal informasi ini, gerai Wal-Mart yang berada di daerah yang diperkirakan akan dilalui badai, menambah stok tiga jenis produk tersebut. Hasilnya, ketiga jenis barang ini ludes terjual dalam beberapa hari sebelum badai menerjang”.

Itulah sepintas kegunaan dari Data Science dan khususnya peran Data Scientist. Dengan Data Scientist perusahaan bisa memperkirakan apa yang akan terjadi dan melakukan apa yang dianggap perlu, bukan lagi sekadar menunggu apa yang akan terjadi dan baru bertindak belakangan.

  •  Menceritakan Angka

Sebagaimana halnya pengembang software, pakar SEO, desain grafis serta manajer media sosial yang telah meramaikan dunia bisnis selama bertahun-tahun sebelumnya, TI kini juga diramaikan oleh satu jenis profesi baru, yakni Data Scientist. Apa sih Data Scientist itu? Data Scientist bertugas menafsirkan dan mengubah data menjadi sebuah paparan yang mengisahkan sesuatu. Ketika orang awam hanya menganggap tabel-tabel tidak lebih sebagai sekumpulan angka, Data Scientist akan mengkombinasikan aneka angka ini menjadi sebuah paparan utuh, yang menceritakan sebuah informasi. Mereka lalu akan menggunakan informasi ini untuk membantu bisnis mencapai target dan tujuannya. Dengan melihat berbagai sumber data dan hasil dari pengolahan data ini, Data Scientist mampu menghubungkan aneka informasi untuk membantu perusahaan memahami situasi tertentu dan mengambil keputusan bisnis yang sesuai dengan situasi tersebut.

Data Scientist merupakan kombinasi dari “kemampuan matematika dan pengetahuan analitis” dan bukan sekadar orang yang bisa menjalankan spreadsheet. Oleh sebab itu Data Scientist membutuhkan pendidikan tinggi yang memang berkaitan dengan hal ini. Para pengamat menyatakan bahwa kemampuan yang dimiliki para Data Scientist ini membuatnya sangat dibutuhkan tapi sekaligus sulit di dapat. Keberadaan Data Scientist tergolong langka. Para Data Scientist ibarat “produk” yang banyak dicari pada momen tertentu dan semua orang berlomba mendapatkannya serta bersedia membayar berapapun untuk mendapatkannya.

  • Masih Langka

Data Science merupakan cabang ilmu yang relatif baru, dimana istilah ini baru digulirkan pada sekitar tahun 2001. Di masa kini, penerapan Data Science umumnya  dan Data Scientist khususnya telah berkembang di berbagai industri termasuk keuangan, energi, travel, pemerintahan serta universitas. Profesi Data Scientist lambat laun kian diburu perusahaan diseluruh dunia. Di AS sendiri, permintaan akan Data Scientist tergolong besar namun, tenaga yang bisa mengisi posisi ini tergolong jarang. Tingginya permintaan terhadap Data Scientist ini disebabkan karena industri melihat pentingnya analisis data untuk mendukung pertumbuhan bisnis. Kemampuan untuk memungut data (memahaminya, mengolahnya, mengambil manfaat darinya, memvisualkannya dan mengkomunikasikannya) merupakan keahlian penting dalam dekade mendatang.

  • Siap Memanfaatkan Data Scientist?

Tantangan terbesar dalam mencari dan memperkerjakan Data Scientist adalah memahami apakah bisnis atau usaha anda memang sungguh-sungguh membutuhkan keberadaan Data Scientist ini? Berikut merupakan poin-poin dalam menentukan apakah perusahaan membutuhkan keberadaan Data Scientist atau tidak :

  1. Apakah perusahaan memiliki ekosistem yang tepat?
  2. Apakah budaya perusahaan siap untuk menampung Data Scientist?
  3. Mulailah menjadi seorang Data Scientist
  4. Memanfaatkan mitra

Data Scientist dibagi menjadi dua kategori, yakni Vertical Data Scientist (yaitu orang teknis yang menguasai suatu teknik atau penggunaan aplikasi secara mendalam) serta Horizontal Data Scientist (yaitu orang yang menguasai bisnis atau data driven)

categories Bisnis | comments Comments (8)

DATA FABRIC : Merangkai Data di Awan Hibrida

Image result for hybrid cloud

Hybrid Cloud diprediksi akan menjadi the norm bagi organisasi di masa depan. Namun ada satu tantangan dikemukakan para CIO mengenai awan hibrida ini : mengkoneksikan dan mengelola data di berbagai lingkungan di bawah payung Hybrid Cloud.

Infrastruktur Teknologi Informasi (TI) tidak lagi bersifat statis dengan kehadiran cloud. Implementasi cloud telah diagendakan di banyak organisasi tetapi ada beberapa tantangan di tahap eksekusi. Apa yang menjadi kendala untuk memulai cloud deployment? Survei oleh IDG Research Service dan NetApp ini menemukan sebuah alasan : perusahaan tidak mampu mengelola data di lingkungan on-premise dan cloud. Sebanyak 78% responden menempatkan pengelolaan data di berbagai lingkungan cloud pada kategori sangat penting. Tetapi hanya sebanyak 29% responden yakin mereka bisa melakukannya dengan baik.

“Anda dapat meng-outsource aspek komputasi atau aplikasi. Tetapi begitu data tercipta, anda akan terikat padanya selama data itu masih ada. Mengontrol data di data center milik sendiri adalah satu hal, tetapi ketika data tersimpan di berbagai lingkungan yang berbeda, itu masalah lainnya”.

Menurut responden, ada beberapa area data management yang cukup sulit, seperti data protection, application performance dan data governance, dan kendala-kendala itu mengerucut pada satu hal : kurang kontrol. Ketika data tidak lagi berada di data center perusahaan, organisasi TI memiliki sedikit kontrol atau visibilitas terhadap data. Masalah ini kian pelik karena setiap penyedia layanan cloud menggunakan platform, protokol dan sistem yang berbeda. Padahal organisasi TI harus mampu mengelola itu semua demi data. Tantangannya tidak terletak pada penyimpanan data saja tetapi juga bagaimana data berpindah-pindah antar cloud, bagaimana mengakomodasi kebutuhan yang berbeda-beda dan bagaimana mengoptimalkan manfaat elastisitas dan skalabilitas cloud.

Untuk “merangkai” data yang ada di lingkungan hybrid cloud ke dalam satu infrastruktur tunggal dan terintegrasi, NetApp menawarkan solusi data fabric. Ada beberapa elemen kunci yang harus dimiliki pada solusi data fabric untuk mengelola data enterprise secara mulus di lingkungan hybrid cloud :

  • Common Data Management

Sistem pengelolaan data yang bersifat umum akan membantu perusahaan menjaga kinerja bisnis dan operasional di setiap titik cloud.

  • Common Data Transport

Kemampuan ini akan memudahkan perpindahan data dari satu cloud ke cloud lain. Tim TI juga dapat memastikan data berada di tempat dan waktu yang tepat sehingga bisa di akses aplikasi dengan lebih efisien dan efektif biaya.

  • Common Data Format

Format data yang bersifat umum akan mengeliminasi keharusan menulis ulang aplikasi untuk cloud. Organisasi TI juga bisa lebih cepat dan mudah menaruh aplikasi di cloud atau memindahkannya ke lingkungan cloud yang berbeda.

 

Dikutip dari : Threestayanti, L., Infokomputer, 2016

categories Technology | comments Comments (2)