Dinamika Mencari Talenta

Dinamika Mencari Talenta

Ketika gerak dunia digital kian cepat, kebutuhan talenta pun kian banyak. Sayangnya, tenaga kerja Indonesia yang mumpuni di area ini masih sangat terbatas. Tak heran jika talent war antar perusahaan Indonesia kini kian gencar.

Berikut adalah sedikit gambaran strategi Telkomsel dan DBS Indonesia, dua perusahaan yang sangat serius di era digital dalam mengakuisisi sekaligus mempertahankan talenta di dunia digital.

 

categories Bisnis | comments Comments (0)

Menjual Ide Disruptive Ala WeWork

Pengalaman WeWork ketika menjual ide tentang berbagi tempat kerja. Tak banyak yang bisa menerima ide itu karena aneh dan mungkin tidak akan berhasil. Siapa sangka, saat ini perusahaan co-working space itu tumbuh demikian pesat? Bahkan baru-baru ini, mereka dinilai memiliki valuasi US$ 20 miliar!.

WeWork pun menjadi perusahaan startup ketiga paling berharga di AS setelah Uber dan Airbnb. Dengan valuasi setinggi itu WeWork yang merambah bidang real estate, hospitality dan teknologi, saat ini bernilai sama dengan operator hotel internasional Hilton Worldwide. Bagaimana sebuah perusahaan co-workingspace bisa mencapai nilai yang sedemikian fantastis?

Perkembangan Bisnis Fantastis

Dalam waktu tujuh tahun, jumlah karyawannya tumbuh dari hanya dua orang menjadi lebih dari 2000 karyawan. Dikutip dari situs webnya, WeWork kini memiliki 275 kantor di 59 kota. Pada tahun 2017, jumlah anggotanya membengkak lebih dari 15 kali angka di tahun pertama. Saat ini WeWork telah memiliki 20.000 perusahaan dalam daftar kliennya. Segmen pelanggan yang paling cepat bertumbuh justru perusahaan dengan karyawan lebih dari seribu orang, seperti GE, Samsung, Microsoft, IBM, Starbuck dan lainnya.

Tak Hanya Tawarkan Kenyamanan

Namun, bukan semata-mata layanan co-working space yang membuat WeWork demikian berharga. CEO dan Founder WeWork, Adam Neumann, mengatakan pada Forbes, “Tak ada yang mau berinvestasi di perusahaan co-working space dengan nilai US$ 20 miliar. Hal seperti ini tidak ada. Valuasi dan ukuran kami saat ini lebih didasarkan pada energi dan spiritualitas daripada multiplikasi dari revenue”.

Apa yang ditawarkan WeWork bukan hanya interior yang menarik, nyaman dengan penerangan yang memadai ditambah dengan kopi yang enak, yang dijanjikan oleh WeWork adalah sebuah budaya kerja penuh semangat serta suasana kolaborasi. Founder WeWork, Miguel McKelvey sendiri yang memastikan setiap lokasi memiliki look and feel yang membuat orang merasa senang untuk datang ke kantor.

Bagi perusahaan yang sedang berkembang, bekerjasama dengan co-working space berarti tidak perlu repot mencari lokasi, menegosiasikan kontrak, mendesain tempat, dan mencari vendor. WeWork juga memiliki banyak data tentang penggunaan tempat kerja, sehingga ia menjanjikan kepada klien dapat mengelola tempat kerja dengan lebih efektif.

Beberapa perusahaan bahkan mempercayakan sepenuhnya pengelolaan kantor kepada WeWork. Menurut majalah Wired, WeWork mengelola gedung kantor IBM di New York, kantor Airbnb di Berlin, dan Amazon di Boston. Hal ini menunjukkan kekuatan disruptive WeWork yang mungkin akan mengubah cara kita bekerja dan cara perusahaan berhubungan dengan tempat kerja.

Manfaatkan Data

Tidak hanya itu, di pusat Research & Developmentnya, WeWork terus mengembangkan teknologi untuk mengumpulkan data sebanyak mungkin tentang tempat kerja modern. Pengalaman mengelola begitu banyak tempat kerja dan mempelajari bagaimana berbagai bisnis menggunakan tempat kerja memberi WeWork data tentang bagaimana merancang tempat kerja yang paling efektif.

Sejak awal, WeWork mengumpulkan data tentang bagaimana orang bekerja, dimana mereka paling produktif, apa yang mereka butuhkan untuk merasa senang bekerja, berapa banyak ruang yang mereka butuhkan, serta bagaimana penggunaan ruang rapat dll. Belakanga ini, WeWork mulai bereksperimen untuk membuat data menjadi produk baru untuk pelanggan enterprise.

Teknologi inilah yang diyakini sebagai salah satu kekuatan yang mendongkrak nilai WeWork. Ketika bos Softbank, Masayoshi Son berkunjung ke WeWork, ia hanya memiliki waktu 12 menit. CEO Adam Neumann memilih menunjukkan padanya ruang R&D dalam waktu yang sangat singkat tersebut. Kunjungan ke ruang R&D inilah yang diyakini sebagai penentu bagi bos Softbank tersebut untuk menuliskan check senilai US$ 4 miliar.

Dikutip dari : Chandra, M. Februari 2018. Infokomputer.

 

categories Startup | comments Comments (0)

Perkiraan Gaji Ahli TI 2018

Perkiraan Gaji Ahli 

Area utama yang akan terus meningkat adalah cloud, cyber security dan big data. Seorang Data Scientist diharapkan tidak hanya mampu memanipulasi big data tetapi juga berkomunikasi secara efektif dengan para stakeholder.

Dari sisi gaji, kenaikan gaji para profesional TI yang berpindah kerja akan dipengaruhi oleh keahlian mereka, bukan pengalaman. Kandidat yang cukup bagus skillnya bisa memperoleh kenaikan gaji 20-40% ketika ia melamar kerja di tempat baru.

categories Technology | comments Comments (0)

Talenta Teknologi Kian Dicari

Semakin banyak perusahaan yang meyakini teknologi sebagai senajata utama untuk berkompetisi. Hal ini mendorong semakin tingginya kebutuhan talenta di bidang teknologi.

Berikut beberapa keahlian TI yang akan banyak dicari oleh perusahaan maupun startup, pada tahun 2018.

      1. Pengembangan Aplikasi Mobile

Indonesia dikenal sebagai mobile first country, negeri dimana kebanyakan masyarakatnya mengakses internet dan mencari informasi untuk pertama kalinya melalui perangkat genggam mereka.

      2. Coding dan Engineering

Programer yang memiliki keahlian coding, serta developer atau software engineer selalu dibutuhkan di dunia TI.

      3. UI/UX Design dan Development

Hal ini sangat berperan penting dalam memaksimalkan pengalaman pengguna dalam berinteraksi menggunakan website dan aplikasi.

     4. SEO/SEM Marketing

Keahlian ini tidak bisa lepas dari kian tingginya aktivitas pemasaran di era digital. Ahli SEO/SEM (Search Engine Optimazation)/ (Search Engine Marketing) diharapkan mampu meningkatkan jumlah pengunjung ke website perusahaan dan memudahkan website untuk ditemukan melalui mesin pencari.

      5. Data Science

Banyak perusahaan rela menggelontorkan uang untuk berinvestasi pada data science, mereka rela membayar mahal data scientist yang mumpuni untuk mengelola koleksi data yang berlimpah yang mereka miliki, serta mengolahnya agar menjadi informasi yang bermanfaat bagi bisnis perusahaan.

      6. Artificial Intelligence (AI)

Bertujuan untuk membangun kecerdasan yang sesuai dengan pemahaman manusia, untuk membantu memecahkan masalah-masalah yang umumnya membutuhkan keahlian atau kecerdasan manusia. Pemanfaatan AI ini banyak diterapkan pada pengembangan games, komputasi, dan robotika, serta dalam industri kesehatan dan perbankan.

      7. Machine Learning

Merupakan cabang penerapan dari AI. Fokusnya adalah untuk mengembangkan sebuah sistem yang mampu belajar sendiri. Profesional TI dengan keahlian ini diperlukan perusahaan untuk melakukan pengolahan data untuk membuat perencanaan dan berbagai keputusan bisnis yang tepat.

      8. Augmented Reality (AR)

Teknologi AR memadukan unsur grafis komputer dengan lingkungan di dunia nyata. Contoh aplikasi yang menerapkan AR adalah Pokemon Go yang seolah-olah menempatkan monster-monster Pokemon disekitar pemain. AR ini dinilai sebagai teknologi masa depan yang menjanjikan karena dapat menunjang interaksi pengguna lewat aplikasi.

      9. Cybersecurity

Teknologi semakin canggih, malware pun semakin berbahaya dan ancaman kejahatan internet semakin besar. Keahlian dibidang ini sangat dibutuhkan dihampir semua perusahaan industri, terutama perbankan, telekomunikasi dan instansi pemerintah. Tugas mereka terutama mengawasi sistem keamanan jaringan, mengamankan data-data penting perusahaan, serta memonitor, menganalisa dan mencegah potensi ancaman cyber.

Dikutip dari : Arjanti, R.A. Februari 2018. Infokomputer.

categories Technology | comments Comments (0)

10 Hal yang Patut Diperhatikan Startup Kecoak

1. Free is Dying

Tidak peduli apa yang bisnis anda buat, anda harus menjual barang dengan harga yang pantas pada pertama kali anda membangun bisnis tersebut. Jangan mempercayai isu bahwa jika produk tersebut diberikan secara gratis, banyak orang akan menggunakannya, dan seketika anda memiliki pengguna, anda berpikir dapat melakukan monetisasi di kemudian hari.

2. Bisnis adalah Untaian Eksperimen

Sebagai pendiri startup, tugas anda adalah bereksperimen. Albert Einstein tidak langsung menemukan teori relativitas pada hari pertama ia bereksperimen. Jadi, jangan berharap ide bisnis startup anda sudah sempurna pada hari pertama anda menemukan ide bisnis tersebut.

3. Peduli Setiap Pengguna

Banyak startup yang ternyata tidak begitu peduli dengan pengguna mereka, entah startup anda besar atau kecil, produk anda akan digunakan oleh pengguna yang merupakan orang lain. Jadi, sekecil apapun masukan dari pengguna anda, setidaknya anda membalas mereka dengan santun.

4. Jika Anda Seorang Teknisi, Belajarlah Menjadi Tenaga Penjual

Banyak teknisi yang merasa mereka dapat membuat sebuah solusi digital yang keren, sehingga jutaan orang akan menggunakannya. Ketahuilah, itu hanya mimpi belaka. Pada kenyataannya, seorang founder yang kebetulan berlatar belakang teknik sekalipun harus bisa meyakinkan orang untuk menggunakan dan membeli produk tersebut.

5. Jika Anda Bukan Pendiri yang Mengerti Teknologi, Jadilah Teknisi

Jika anda benar-benar peduli dengan produk yang anda buat, anda harus terlibat dalam perancangan dan pembuatannya. Bisnis startup teknologi dibangun oleh teknologi. Keunggulan kompetitif anda terletak pada bagaimana anda dapat memperbaiki dan mengoptimalkan produk tersebut. Tanpa tingkat pemahaman teknis yang mumpuni, anda akan kehilangan ratusan potensi perbaikan.

6. Anda Tidak Memerlukan Uang dari Modal Ventura

Banyak pendiri percaya bahwa tujuan pertama startup adalah menerima dana dari investor luar seperti para pemodal ventura. Media massa saat ini juga memberitakan bahwa startup yang didanai oleh para fund manager adalah contoh startup yang sukses. Ini benar-benar salah.

7. Pastikan Model Bisnis Anda Benar-Benar Menghasilkan Uang

Tujuan akhir memulai startup “Kecoak” pada dasarnya sama dengan memulai bisnis kedai kopi, Anda mencoba membangun entitas bisnis yang mencetak uang dan memberikan keuntungan bagi anda.

8. Tim Superkecil

Sebuah startup kecoak mungkin memiliki tim superkecil alias kurang dari lima orang. Startup kecoak tidak memiliki uang atau dana untuk memperkerjakan orang lain, sehingga mau tidak mau, sang founder harus bisa melakukan semuanya sendiri.

9. Waktu Lebih Berharga Daripada Uang

Startup Kecoak sebaiknya bersifat defensif. Tujuannya adalah untuk bertahan, mendapatkan uang dan tentu saja tidak cepat mati. Startup Kecoak tidak bertujuan untuk menjualnya dalam tiga tahun ke depan, sebagai gantinya, pada pendiri mesti belajar bagaimana membangun bisnis yang akan bertahan selama sepuluh, lima puluh sampai seratus tahun.

10. Tidak Ada Exit Strategi

Founder sering ditanya apa strategi exit mereka. Strategi exit sejatinya adalah untuk para invenstor dan venture capital, bukan pendiri. Jika bisnis anda menghasilkan uang, mengapa anda harus “exit”? VC hanya ingin memperoleh uang mereka dengan keluar dari bisnis anda dalam jangka waktu 5-7 tahun. Jika bisnis anda untung, pastinya anda dengan mudah menjual perusahaan kepada siapapun, tanpa tekanan.

 

Dikutip dari : Marketeers. Oktober 2017.

categories Startup | comments Comments (0)

UNICORN vs COCKROACH

Pada tahun 2017 ini, Gojek dikabarkan mendapat suntikan dana segar senilai US$ 1,2 miliar dari Tencent. Seakan tak ingin ketinggalan, Tokopedia mendapatkan kuncuran dana senilai US$ 1,1 miliar dari Alibaba Group, sementara Traveloka mendapatkan dana segar dari JD.com senilai US$ 500 juta. Dengan kurs Rp. 13.000 per dollar AS, maka nilai investasi yang diraih ketiga tech startup itu mencapai Rp. 36,4 triliun.

Istilah Unicorn pun tersemat pada ketiga tech startup itu. Unicorn adalah istilah yang diberikan kepada para tech startup yang memiliki valuasi diatas US$ 1 miliar. Dengan adanya ketiga suntikan itu, maka Gojek, Tokopedia dan Traveloka berhasil menjadi Unicorn dari Indonesia.

Istilah Cockroach atau Kecoa muncul sebagai tech startup yang belum mencapai valuasi US$ 1 miliar. Pemain startup pun ada yang menyambut istilah ini, namun ada pula yang menentang. Terlepas dari buruknya istilah itu, Cockroach adalah binatang yang gesit dan tahan banting. Hal ini pula yang tercermin pada para tech startup yang saat ini bermunculan. Cockroach ini juga dapat berarti kecil, dapat bertahan, berorientasi pada profit, dan tidak membakar uang begitu saja. Meski kecil, mereka sebisa mungkin mampu menutup ongkos operasional sehari-hari.

Dimata investor, lebih penting impact daripada valuasi, artinya menjadi besar bukanlah hal yang utama. Sebaliknya, bisnis model yang pas dan bisa memberikan solusi bagi masyarakat jauh lebih penting daripada valuasi. Ketika bisnis sebuah tech startup menarik, bisa menjadi jawaban, dan berkelanjutan, maka pendanaan pun akan datang dengan sendirinya.

 

Dikutip dari: Soeprajitno, H. Oktober 2017. Markeeters

categories Startup | comments Comments (0)

Neuromarketing, Rahasia Menciptakan Konten yang Memorable

M.E.M MODEL

MEMORY EMOTION MOTIVATION
Repetition Senses Surprise
Association Emotional Condition Self – Generated Content
Portability   Social Desirability
Cognitive Ease    

 

Sebuah konten akan lebih besar peluangnya menjadi memorable bila ditayangkan BERULANG-ULANG (REPETITION), mempunyai KESAMAAN terhadap sesuatu sehingga mudah bagi memori untuk mengenali konten tersebut (ASSOCIATION), serta cukup UNIK (DISTINCTIVE), mempunyai MAKNA YANG LUAS dan bisa dikaitkan tidak hanya dengan makna asli konten tersebut (PORTABILITY).

Selain itu, faktor lainnya adalah kemudahan bagi otak untuk MENGENALI MAKNA dan ESTETIKA KONTEN (COGNITIVE EASE), bisa dieksplorasi oleh INDERA manusia (SENSES), bisa MEMBANGKITKAN EMOSI (EMOTIONAL CONDITION), mempunyai kemampuan untuk memberikan KEJUTAN (SURPRISE), berasal dari PERCAKAPAN DAN UNGKAPAN TARGET MARKET KONTEN itu sendiri (SELF-GENERATED CONTENT) dan mampu memberikan KEBANGGAAN ATAU RASA PUAS pada target market (SOCIAL DESIRABILITY).

 

Dikutip dari : Marketeers. Oktober,2017.

 

categories Bisnis | comments Comments (0)

10 Pertanyaan Sulit bagi Pelamar Amazon

Amazon adalah perusahaan belanja berbasis daring yang didirikan oleh Jeff Bezos dan berkantor pusat di Seattle, AS. Kesuksesan Amazon berhasil mengantar Bezos menjadi orang terkaya di dunia, mengalahkan pendiri Microsoft Bill Gates.

Namun, bekerja di Amazon dan menjadi karyawan Bezos bukan perkara mudah. Sebab, Anda harus siap-siap menghadapi pertanyaan yang rumit saat sesi wawancara kerja.

Alasannya, Amazon ingin merekrut orang-orang yang tepat. Hal ini pun diakui sendiri oleh Bezos.

“Lebih baik saya mewawancara 50 orang dan tidak merekrut lagi ketimbang merekrut orang yang salah,” ujar Bezos seperti dikutip dari Inc.com, Kamis (8/2/2018).

Bezos pun punya kebiasaan mewawancara sendiri kandidat karyawannya, guna memastikan hanya orang-orang yang tepat yang dapat membuat perusahaan semakin maju.

 Nah, seperti apa sebenarnya pertanyaan yang diajukan Amazon pada saat wawancara kerja? Berikut ini adalah 10 pertanyaan tersulitnya.

1. Jeff Bezos masuk ke ruang kerja Anda dan mengatakan Anda bisa dapat jutaan dollar AS untuk meluncurkan ide wirausaha Anda. Apakah ide tersebut? (Diajukan kepada kandidat Product Development Specialist)

2. Jika Anda ikut turnamen bersama 5.263 orang, berapa banyak babak permainan yang dibutuhkan untuk menetapkan pemenang? (Diajukan kepada kandidat Area Manager)

3. Metrik apa yang Anda gunakan untuk mendorong perubahan? (Diajukan kepada kandidat Senior Product Manager)

4. Apakah Anda akan melawan atasan yang membuat keputusan yang melanggar kebijakan perusahaan dan menjadi potensi isu keamanan bagi salah satu karyawan Anda? (Diajukan kepada kandidat Area Manager)

5. Ceritakan tentang proyek yang melebihi cakupan pekerjaan Anda. (Diajukan kepada kandidat Marketing Specialist)

6. Ceritakan tentang pengalaman Anda menangani ambiguitas. (Diajukan kepada kandidat Investigation Specialist)

7. Jelaskan situasi di mana Anda harus membut keputusan tanpa menggunakan data. (Diajukan kepada kandidat Senior Investigation Specialist)

8. Mengapa kami harus merekrut Anda? (Diajukan kepada kandidat Transaction Risk Investigator)

9. Bagaimana Anda memotivasi orang lain? (Diajukan kepada kandidat Graduate Area Manager)

10. Apa rencana Anda untuk terus memastikan bahwa fokus Anda adalah memperbaiki pengalaman konsumen? (Diajukan kepada kandidat Senior Technical Writer)

Penulis: Sakina Rakhma Diah Setiawan

Editor: Aprillia Ika

Sumber: Inc.com

Copyright Kompas.com

 

categories Technology | comments Comments (0)

Kelangkaan Talenta “Ilmuwan Data” (Data Scientist) di Dunia

Berdasarkan survei yang diadakan oleh Sharing Vision di Indonesia tahun lalu, 74% dari 35 orang responden mengaku berpotensi mengadopsi Big Data. Namun, 48% diantara responden mengatakan bahwa kendala utama dalam mengadopsinya adalah SDM. Dan untuk itu, kompetensi yang paling dibutuhkan adalah kemampuan menganalisa big data.

Disebut langka karena bursa tenaga kerja belum mampu memasok sumber daya manusia yang sesuai kebutuhan industri, terutama dalam hal skillset. Bursa tenaga kerja lebih banyak didominasi oleh SDM yang unggul dalam hal teknis tapi business acumen-nya masih perlu diasah lagi.

Dua Cara Atasi Kelangkaan Data Scientist

Yang dibutuhkan oleh industri saat ini adalah SDM yang memiliki keseimbangan antara pengetahuan, teknis dan soft skill. Soft Skill ini antara lain kemampuan komunikasi, problem solving, dan tentunya sense of business.

Melihat tantangan tersebut, ada dua cara yang bisa dilakukan oleh industri dan institusi akademis, yaitu (1) Dari jalur akademis / formal, kalau memang calon data scientist ingin digodok dengan serius di kampus, desain kurikulum harus melibatkan kalangan praktisi, (2) Dengan memberdayakan kekuatan komunitas. Poinnya adalah setelah lulus kuliah, bagaimana talenta ini bisa terhubung satu sama lain, belajar real use case dari para praktisi langsung dan juga cara berpikir sebagai seorang data scientist.

Selain itu peran pemerintah dalam mem-proteksi para data scientist juga diperlukan, misalnya saja ketika ada perusahaan-perusahaan di Indonesia yang membutuhkan tenaga data scientist, pemerintah lewat regulasinya membantu memastikan bahwa project-project perusahaan tersebut dikerjakan oleh SDM lokal.

Dukungan Manajemen

Memasuki lingkungan bisnis, data scientist juga mungkin menghadapi tantangan antara lain, menyebarkan awareness di kalangan user, karena pemanfaatan data adalah sesuatu yang baru dan cenderung bersifat kompleks.

Dengan pertumbuhan jumlah data yang dihasilkan oleh bisnis, ke depannya proses pengambilan keputusan akan mengarah pada data oriented atau data driven decision making. Data dimanfaatkan tidak hanya untuk kebutuhan pelaporan saja. Untuk itu, tim data science harus mampu memetakan problem yang sedang dihadapi bisnis secara menyeluruh, sebelum memecahnya ke masalah-masalah yang lebih kecil di setiap divisi. Dan ini membutuhkan kerjasama antar bagian yang ada di perusahaan. Setelah itu tim data science akan memfasilitasi pemecahan masalah dengan menggunakan data yang ada.

 

Dikutip dari : Threestayanti, Liana. 2017. Oktober, Infokomputer.

categories Bisnis | comments Comments (0)

Strategi Teknologi Industri Retail untuk Kembali Bersinar

Badai tengah mengguncang bisnis retail dunia. Beberapa nama besar di bidang retail sudah mengumumkan penutupan gerai mereka. Business of Fashion mengabarkan bahwa Ralph Lauren secara resmi mengumumkan akan menutup gerainya di Fifth Avenue, NY. Padahal, lokasi tersebut merupakan simbol kebesaran merek Ralph Lauren.

Di Indonesia sendiri, beberapa peritel sudah dan akan menutup beberapa gerai, seperti 7-Eleven dan PT. Matahari Department Store. Menurut Nielsen, gerai-gerai tersebut terpaksa ditutup karena turunnya daya beli masyarakat, sedangkan menurut beberapa ahli, penurunan daya beli ini akibat terjadinya pergeseran pola konsumsi masyarakat dari good based consumption menjadi experience based consumption.

WALMART (Menjadi Perusahaan Digital)

Menyadari perubahan yang terjadi, Walmart membuat langkah berani dengan membuat platform e-commerce sendiri pada tahun 2009 yaitu Walmart Marketplace. Sejak saat itu, Walmart sudah menghasilkan berbagai layanan digital untuk keperluan belanja. Aplikasi mobile Walmart, mesin pencari dan Shopycat adalah beberapa diantaranya. Aplikasi Walmart dapat digunakan pelanggan untuk membuat daftar belanja dengan input suara, menawarkan kupon digital, penawaran tertarget dan melakukan navigasi dalam ruangan.

Salah satunya, Savings Catcher mencocokkan harga dari toko online lainnya dengan harga Walmart saat ini. Jika menemukan penawaran yang lebih murah, sistem mengeluarkan kupon sepadan dengan perbedaannya sehingga pengguna mendapatkan produk dengan harga terendah. Saat ini, pendapatan dari bisnis e-commerce menyentuh angka 3% dari total pendapatan Walmart.

Perubahan ke arah digital yang dilakukan Walmart dilakukan untuk menambah pengalaman pelanggan ketika berbelanja. Walmart secara aktif menggunakan data pelanggan untuk mempersonalisasi pengalaman berbelanja, memberi penawaran, kupon, rekomendasi produk yang lebih relevan, dan mempermudah checkout dan pembayaran.

ALIBABA (Dari Online ke Offline)

Alibaba melakukan hal berbeda, disaat banyak peritel beralih ke online, Alibaba justru menyasar pasar offline dengan membuka 60 kios sementara. Hal ini dilakukan mengingat baru ada 18% toko ritel di Tiongkok yang sudah online. Alibaba menyebut konsep ini sebagai New Retail, dimana ada integrasi proses belanja offline dan online.

Kios sementara tersebut memiliki magic mirror yang bisa digunakan oleh pelanggan untuk mencoba secara virtual. Untuk proses pembayaran, mereka menggunakan QR code yang terhubung dengan Alipay.

STARBUCKS (Membangun Keterikatan)

Dalam industri ritel makanan dan minuman, Starbucks adalah contoh terbaik. Pada tahun 2009, Starbucks membangun Starbucks Digital Ventures dan produk pertamanya adalah aplikasi mobile Starbuks. Aplikasi tersebut menyediakan sistem loyalitas digital yang mudah digunakan. Pelanggan bisa menukarkan poin loyalitas tersebut dengan produk-produk Starbucks. Program loyalitas baru ini menggantikan jenis keanggotaan kuno yang mengharuskan verifikasi nomor telepon. Hasilnya adalah lebih dari 12 juta pelanggan bisa digaet Starbucks di USA.

Inovasi digital lain yang diperkenalkan oleh Starbucks adalah Mobile Order & Pay (MOP). Pelanggan bisa memesan minuman terlebih dahulu dan membayarnya melalui aplikasi, dan mengambil pesanannya di toko. Sudah jelas, Pelanggan dan toko akan terbantu karena berkurangnya antrean dan waktu tunggu bagi pelanggan. Selain itu, Starbucks juga tengah mendorong pembayaran digitalnya dengan mempersiapkan peluncuran kartu prabayar Rewards dengan Chase Bank.

DOMINO’S PIZZA (Pioner Retail on Demand)

Merupakan salah satu pemain awal di era transformasi digital industri retail. Diantara inovasi digital Domino’s Pizza yang paling signifikan adalah program loyalitas Piece of the Pie Rewards dan Aplikasi mobile Point of Sales (PULSE).

Aplikasi PULSE memiliki berbagai macam fitur canggih seperti rute driver otomatis, pemesanan persediaan, pelacakan pizza, pemesanan pizza, dan pizza custom secara online. Dominos juga memiliki aplikasi Anyware yang  membuat pelanggan dapat memesan lebih dari tiga belas juta kombinasi pizza, menggunakan hampir semua perangkat, termasuk Smartwatch, TV Pintar, Google Home atau Amazon Echo. Layanan ini juga terintegrasi dengan layanan pihak ketiga, memungkinkan pelanggan untuk melakukan pemesanan menggunakan pesan teks, obrolan Facebook Messenger bahkan Twitter.

Perusahaan ini juga memperluas kemitraannya dengan perusahaan teknologi lainnya dan menguji teknologi eksperimental, termasuk pengiriman pizza menggunakan drone.

 

Dikutip dari : Husni, Afit. 2017. Oktober, Infokomputer.

categories Technology | comments Comments (0)