UKM harus Kreatif Kemas Produk dan Berani Mengeksekusi

Salah satu modal utama UKM agar sukses di pasar yang kompetitif adalah kreativitas. Selain kreatif dalam strategi, pelaku UKM harus kreatif juga dalam produk yang ia jual dan pasarkan.

Manajemen produk yang kreatif bakal memberi nilai tambah dari merek yang ia tawarkan kepada konsumennya. Dalam pemasaran, diferensiasi suatu produk / jasa dapat diwujudkan dalam tiga hal yakni, konten, konteks (kemasan /cara penyajian) dan infrastruktur (toko, fasilitas dll).

Dikutip dari : Kurniawan, Sigit. 2016. Marketeers.

Selangkah Lebih Dekat dengan Para Advocates

Meski bukan hal baru, Community Marketing masih layak dilakukan perusahaan atau brand. Apalagi saat ini, customer path telah berubah. Advokasi lebih penting ketimbang pembelian kembali. Namun bukan hal yang mudah untuk menumbuh kembangkan advokasi. Kita sebagai perusahaan, pemilik brand atau pemasar tidak bisa meminta atau bahkan memaksa para konsumen untuk sukarela menjadi advocates kita. Apalagi jika mereka tidak cinta, belum mendapat manfaat dan nilai lebih dari produk kita.

Daripada membuang tenaga dan biaya yang berlebih, Community Marketing bisa menjadi pilihan. Ini adalah strategi marketing dengan mendekati para komunitas yang ada. Bentuknya pun beragam, mulai dari komunitas yang dibuat oleh perusahaan atau brand hingga komunitas independen, dari berbagai sektor industri. Dengan masuk ke komunitas, kita tidak perlu memilah-milah konsumen yang ada sebab, kita sudah mengetahui apa alasan mereka berkumpul. Sebagai brand pun kita harus membuka diri. Biarkanlah mereka menjadi bagian dari merek kita, menjadikan mereka sebagai sentral dan membuka kesempatan bagi mereka untuk memiliki brand mereka.

Komunitas di Indonesia tidak akan pernah mati, sehingga dengan Community Marketing, maka andapun selangkah di depan dalam mendekati dan menghasilkan advocates bagi perusahaan atau brand anda.

Dikutip dari : Setiawan, Iwan. 2016. Marketeers.

Cara Kreatif untuk Keuangan dan Karir

  1. Good Artist Copy, Great Artist Steal

Bos Apple Steve Jobs mengaku kalimat yang berasal dari ucapan Pablo Picasso itu jadi pegangannya saat mengembangkan komputer Macintosh. Terbukti, produk yang dihasilkan Steve Jobs sukses di pasaran. Apa sebenarnya makna kalimat itu? Mencuri ternyata lebih baik ketimbang meniru. Dalam konteks ini, mencuri itu perbuatan yang dibenarkan dengan tujuan untuk up grade skill diri sendiri. Mencuri adalah proses mengamati orang lain, memahami, dan kemudian mengembangkan dengan ciri khas sendiri.

Toh, curi-mencuri soal ini sesuatu yang lumrah kok. Tengok saja di sepakbola. Banyak yang mencuri gaya bermain Chrstiano Ronaldo, Zidane Zidane, David Becham, dan lain-lain. Lalu gaya bermain itu dikembangkan sehingga menjadi identitas diri sendiri.

      2. Routine is Killing Your Creativity

Kreatif itu selalu dekat dengan orang yang selalu melakukan hal yang baru. Sebaliknya, dia akan menjauh dengan orang yang punya aktivitas yang sama secara terus-menerus. Di situlah makna routine is killing your creativity. Orang kreatif tak pernah bisa diam. Dia selalu bergerak dinamis, berpikir terus, dan tak kapok sama tantangan. Mereka yang ingin meningkatkan ‘ilmu’ kreatif-nya mesti lewati keberanian melakukan hal-hal yang belum pernah atau jarak dilakukan sebelumnya.

      3. Do Something New

Ayo, berbuat sesuatu yang baru. Itu cukup jadi modal kreatif. Ada hasrat dan keinginantahuan yang kuat terhadap hal yang baru. Di kepala selalu muncul pertanyaan berulang-ulang tentang bagaimana dan mengapa. Jadikanlah aktivitas melakukan sesuatu yang baru sebagai kebiasaan yang selalu ditanamkan sehari-hari. Lalu tanpa di sadari, suatu hari nanti tiba-tiba bakal punya temuan yang akan menggegerkan jagad raya. Hilangkan rasa takut. Mulailah menerapkan prinsip ‘do something new’.

  1. Watch and learn from the best!

Punya kebiasaan mengamati orang lain juga jadi langkah awal menjadi orang kreatif. Pendek kata, jangan suka cuek bebek sama di sekeliling. Kembangkan sikap kepo. Dari situ tanpa disadari pula akan lahir ide-ide yang sejatinya berasal dari inspirasi yang dilakukan orang lain.

  1. Making friends with creative people

Bergaulah dengan orang-orang kreatif. Percaya deh, kreatif itu seperti virus yang menular. Kumpul-kumpul sama orang kreatif akan membantu untuk memahami bagaimana mereka berpikir, bertindak, berkreasi, dan mengeksekusi ide. 

  1. Me time

Nikmati waktu me time seoptimal mungkin. Aktivitas yang padat pasti menguras pikiran dan membuat bete otak. Kejenuhan bakal berakibat buruk sama kreativitas. Jadi, aturlah waktu untuk diri sendiri. Itu baru sebagian formulanya lho. Pasti masih banyak cara membuat diri menjadi sosok yang kreatif.

Masing-masing individu punya caranya sendiri dalam mempelajari sisi kreativitasnya. Jadi tak bisa dipukul rata. Hanya sebagai langkah awal, cobalah dengan menambah jam terbang atau pengalaman. Carilah figur idola dan kemudian modifikasikanlah sesuai dengan cara dan gaya kamu. Lalu jangan ragu dengan ide yang muncul. Kembangkan dan segera eksekusi ide itu. Siapa tahu nun jauh di luar sana, ada orang lain yang punya ide serupa dan langsung action.

Menumbuh Suburkan Mentalitas Founder di Perusahaan

Anda mungkin sudah sering mendengar pentingnya merekrut karyawan dengan mindset founder. Hal ini cukup populer di kalangan startup teknologi. Salah satu yang sering mengkampanyekan founder’s mindset adalah Reid Hoffman (Co – Founder Linkedin).

Salah satu alasan yang membuat banyak karyawan terbaik meninggalkan perusahaan adalah mereka merasa kurangnya penghargaan dan reward atas pekerjaannya yang telah dilakukan dengan baik, selain itu juga adanya penyebab faktor internal lainnya, yakni melebarnya jarak dengan front lines, kehilangan akuntabilitas dan tumbuh suburnya birokrasi.

Setiap pemilik perusahaan pastilah senang memiliki karyawan dengan perilaku seperti founder. Beberapa contoh cara berpikir seperti founder dari pengalaman sehari-hari misalnya :

  • Founder cenderung berpikir dalam “big picture”, mereka menunjukkan rasa ingin tahu pada semua aspek dalam bisnis.
  • Founder biasanya sangat fokus pada apa yang dikerjakan dan bisa mengatakan tidak pada hal lain yang berada di luar fokus utama.
  • Founder adalah owner, tentu saja rasa memilikinya tinggi.
  • Founder juga biasanya adalah pemimpin yang hebat, yang bisa menginspirasi munculnya perilaku terbaik dari timnya.
  • Founder selalu menentang birokrasi dan tidak menerima status quo dalam mencapai visi mereka.

Melalui penelitian selama satu dekade terhadap sejumlah perusahaan di lebih dari empat puluh negara, Zook dan Allen (Bain & Company) menemukan kuatnya hubungan antara mentalitas founder dengan kemampuan perusahaan mempertahankan kinerja yang baik. Hal ini terjadi tidak hanya di perusahaan startup saja, tetapi pada berbagai tipe perusahaan yang lain. Mereka memformulasikan sifat-sifat yang termasuk dalam mentalitas founder yaitu:

  • Memiliki misi dan tujuan yang berani.
  • Obsesi yang tanpa ampun dengan barisan depan. Sebagian besar founder adalah salesperson pertama di perusahaan sehingga mereka sangat tertarik pada setiap detail dalam pengalaman customer dan cenderung menggunakan insting yang terbangun dari pengalaman front liner ini dalam membuat keputusan.
  • Memiliki mentalitas owner yang kuat.

Sebagai leader, inilah yang harus anda lakukan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung berkembangnya jiwa entrepreneurship dan mentalitas founder pada tim anda:

  • Secara aktif mendorong percakapan. Makin banyaknya hierarki, akan dapat menyulitkan seorang karyawan menyampaikan ide dan aspirasinya. Tidak jarang mereka merasa tak berdaya serta frustasi dengan politik internal sehingga dapat menyebabkan seorang karyawan yang aspiratif hengkang.
  • Menindaklanjuti ide.
  • Mengizinkan kegagalan dan resiko.
  • Memberi reward pada inovasi

Dikutip dari : Chandra, Meisia. 2016, Infokomputer.

Lima Prinsip Kunci Kampanye Calon Kepala Daerah

Kampanye calon kepala daerah tidak bisa hanya didasarkan pada perhitungan politik, apalagi hanya money politics tapi ada konsep marketing yang harus benar-benar diperhatikan pada era demokrasi seperti saat ini. Istilah “political marketing” yang sudah banyak digunakan, sebenarnya harus diartikan sebagai marketing yang dilaksanakan di lanskap persaingan politik. Bukan sebaliknya, yaitu mempolitikkan marketing. Memang, ada banyak kesalahpahaman tentang dunia marketing.

Selama ini, banyak orang politik hanya menganggap marketing sebagai komunikasi, ikon, tagline, seragam atau menjual janji. Padahal, marketing atau pemasaran sesungguhnya bukanlah hal itu. Ada lima prinsip kunci marketing yang harus dipahami dan dipakai oleh seorang calon kepala daerah dalam melaksanakan strategi kampanye.

Prinsip 1 : Susun Visi Anda Berdasarkan Tren Perubahan

Karena anda sedang mengkampanyekan diri sebagai seorang pemimpin yang diharapkan bisa melakukan perubahan, bukan hanya seperti seorang manajer atau administrator yang dilakukan oleh PNS biasa. Itulah yang disebut sebagai Visionary Leader.

Prinsip 2 : Susun Misi Anda Berdasarkan Lanskap Persaingan

Ketahuilah siapa Pelanggan (Customer), Pesaing (Competitor) dan Diri Sendiri (Company) untuk melihat peta persaingan.

Prinsip 3 : Sebutkan Nilai-Nilai Anda Berdasarkan Karakter Yang Ada

PDB adalah Positioning – Differentiation – Brand yang merupakan kunci dari sebuah strategic Marketing.

  • Positioning adalah sebuah pernyataan bahkan juga merupakan sebuah janji dari pasangan anda.
  • Differentiation adalah pembeda dari pesaing yang sekaligus merupakan pendukung dari Positioning, tanpa Differentiation yang unik dan kuat maka Positioning tidak akan punya integritas karena itu tidak akan punya kredibilitas.
  • Branding adalah sebuah upaya simbolisasi pasangan dalam bentuk singkatan nama yang dilengkapi slogan atau tagline, yang nantinya akan jadi identitas sesuai dengan Positioning yang ditetapkan.

Prinsip 4 : Susun Program Kerja Anda Berdasarkan Aksi Nyata

Ada sembilan elemen pemasaran taktis yang bisa dibagi jadi tiga komponen, yaitu :

  • Customer Oriented yang terdiri dari Segmentation, Targeting dan Positioning.
  • Product Oriented yang terdiri dari Differentiation, Marketing Mix, Selling.
  • Brand Oriented yang terdiri dari Brand, Service, Process.

Prinsip 5 : Ciptakan WOW Untuk Mendapatkan Advokasi

Dahulu Legacy Marketing yang konvensional hanya berdasarkan 4A yaitu Aware, Attitude, Act dan Act Again. Namun kini pada zaman internet dan media sosial, New Wave Marketing sudah mengubah 4A menjadi 5A yaitu Aware, Appeal, Ask, Act dan Advocate. Pemiih yang sudah aware harus dibikin sangat tertarik atau appeal supaya mau bertanya atau ask baik secara langsung dan tidak langsung. Tidak ada yang bisa disembunyikan pada saat ini karena semuanya ada dan bisa dicari di internet. Elektabilitas terkait dengan kecenderungan pemilih untuk memilih atau vote (act), tapi yang juga sangat penting adalah Advocacy Level. Masukkan WOW faktor dalam kampanye anda supaya pemilih menjadi ter engage bukan hanya enjoy atau experience

Dikutip dari : Kertajaya, Hermawan. 2016, Marketeers.

Berbagai Mitos di Dunia IT

Mitos 1 : Makin tinggi resolusi kamera, semakin bagus hasil fotonya

Fakta :

Bagus atau tidaknya suatu foto yang dihasilkan oleh sebuah kamera bukan hanya ditentukan oleh satu faktor saja, melainkan banyak hal yaitu lensa yang digunakan, algoritma pemroses gambar yang dipakai, lensa, serta chip pengolah gambar. Tinggi resolusi sebuah kamera sebenarnya hanya berpengaruh pada seberapa besar foto tersebut dapat dicetak pada kertas berukuran besar. Semakin tinggi nilai megapixel, makin besar pula foto yang dicetak pada kertas yang berukuran lebih besar. Hal ini juga berlaku pada kamera smartphone.

Mitos 2 : Menggunakan smartphone di SPBU bisa menyebabkan kebakaran

Fakta :

Smartphone zaman sekarang sudah memiliki sistem perlindungan dan keamanan yang membuat potensi adanya listrik statis pemicu ledakan sangat kecil. Dinas Pemadam Kebakaran AS pun hanya sekali menjumpai kasus sebuah SPBU yang terbakar karena asumsi penggunaan smartphone. Hal ini membuat pengguna smartphone menjadi tersangka musibah tersebut. Namun hasil penelitian terbaru tidak dapat membuktikan bahwa smartphone tersebut menjadi pemicunya.

Mitos 3 : Jangan mengisi ulang baterai smartphone atau notebook sebelum daya baterai habis

Fakta :

Hal ini memang sempat dipercaya ketika baterai masih menggunakan teknologi lama (berbasis nickel metal hydride/NiMH). Namun semenjak digunakannya baterai berjenis lithium, anda bisa melakukan pengisian baterai kapan saja tanpa harus menunggu kapasitas daya baterai habis. Bahkan jika terlalu sering mengisi baterai ketika kondisi baterai kosong, hal ini akan membuat baterai bekerja terlalu keras untuk kembali ke kondisi normal.

Mitos 4 : Magnet bisa menghapus data

Fakta :

Hal ini memang benar bisa saja terjadi jika data magnet tersebut sangat besar. Seorang pakar teknologi mengatakan dibutuhkan magnet yang cukup besar dan kuat untuk menghapus semua data pada komputer modern. Ini pun hanya berlaku pada media simpan seperti hard disk yang memiliki piringan maupun komponen berbahan logam. Sementara media simpan seperti SSD atau flash disk tidak akan terpengaruh oleh magnet.

Mitos 5 : Smartphone bisa menjadi pemicu kanker

Fakta :

Isu radiasi sinyal smartphone dapat menyebabkan kanker otak sudah lama berhembus. Tetapi hal itu belumlah terbukti. Smartphone memang memancarkan radiasi yang dapat diserap oleh jaringan manusia. Namun apakah radiasi ini memang benar menyebabkan kanker, sampai saat ini belum terbukti ilmiah. Hal itu diperkuat oleh pernyataan National Cancer Institute yang mengatakan tidak ada pengaruh dari energi frekuensi smartphone sebagai penyebab kanker. Hal tersebut telah mereka buktikan pada sel hewan dan (belum lama ini) pada manusia.

Mitos 6 : Windows lebih rentan dibandingkan MacOS atau Linux

Fakta :

Salah satu alasan mengapa Windows lebih rentan terhadap serangan karena Windows merupakan sistem operasi yang paling banyak digunakan. Ini membuatnya menjadi sasaran para pembuat virus maupun penjahat dunia maya yang lebih menginginkan target pasar yang lebih besar. MacOs sendiri sering mendapatkan tambalan (patch) keamanan karena sudah mulai banyak virus maupun malware yang menyerangnya. Sementara Linux pun juga tidak jauh berbeda. Hanya saja, karena Linux berbasiskan komunitas, setiap ada masalah keamanan, akan ada banyak orang yang cepat bereaksi untuk mengatasinya.

Mitos 7 : Jika sinyal jaringan smartphone penuh artinya koneksi internet kencang/lancar

Fakta :

Sinyal penuh pada smartphone hanya menandakan bahwa posisi smartphone dekat dengan BTS. Makin penuh bar sinyal, main dekat posisinya dengan BTS, sementara lambat tidaknya koneksi internet dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu berapa banyak orang yang sedang menggunakan jaringan tersebut. Contohnya mirip saat mengakses internet dari wifi, saat sinyal penuh namun banyak orang yang sedang mengaksesnya secara bersamaan, akan bisa membuat koneksi lambat.

Mitos 8 : Hacker adalah penjahat yang mencuri data

Fakta :

Banyak yang beranggapan bahwa hacker adalah penjahat yang menyebarkan virus, mencuri data atau melakukan kejahatan di dunia maya. Padahal hacker adalah orang-orang yang bertugas mencari kelemahan sebuah sistem dan memperbaikinya. Mereka yang melakukan kejahatan dunia maya lebih tepatnya disebut Cracker.

Dikutip dari : Infokom – Infomezzo, 2016

Merancang Strategi Membangun Smart City

Keinginan membangun Smart City selalu ada, namun banyak pemimpin kota kebingungan memulai dari mana. Dibutuhkan kemampuan untuk mengidentifikasi masalah agar strategi tak salah arah.

Seorang kepala daerah mengutarakan maksudnya datang ke Indonesia Smart CIty Forum 2016 di Bandung, “Saya tertarik membangun smart city, namun tidak tahu harus memulai dari mana”. Ungkapan kepala daerah tersebut mungkin bisa mewakili kegelisahan dari banyak kepala daerah di Indonesia. Dengan makin banyaknya masalah di daerah yang mereka pimpin, pemanfaatan teknologi sudah tidak bisa dielakkan lagi. Akan tetapi, pemerintah kota dan kabupaten kerap dihadapkan dengan kebingungan harus memulai dari mana.

Pada acara ISCF 2016, beberapa narasumber mengungkapkan pandangannya. “Kami mengusulkan strategi pertama -tama yaitu Smart City Blueprint. Misi utamanya adalah mencari masalah dan kebutuhan di setiap kota, setelah itu pemimpin daerah tinggal membuat roadmap sesuai prioritas dan keadaan anggaran. Misalnya, tahap 1 Visibility (terhadap data dulu), tahap 2 soal transportasi, dst. Kemudian lakukan kemitraan dan kolaborasi dengan developer aplikasi. Pastikan platform yang dibangun open dan agile, sehingga bisa interconnect dengan pemerintah pusat. Terakhir, pastikan warga harus aktif berpartisipasi.

Menurut Ery Putra Hendraswara (Deputy Executive GM Digital Service, Telkom Indonesia) tahapan dalam mengidentifikasi most painful problem antara lain Collect (mengumpulkan data dan informasi tentang masalah), Communicate (menghubungkan data melalui jaringan) dan Crunching (menganalisis data historis dan realtime untuk melakukan predictive analytics dan memprediksi langkah penanganan yang tepat).

Ery juga menekankan bahwa empat poin utama dalam smart city, yakni Sustainable (programnya berkelanjutan), Efficiency (meningkatkan efisiensi di pemerintah dan masyarakat), Safe & Secure (meningkatkan rasa aman) & Pleasant (memberikan kenyamanan bagi warga).

 

Dikutip dari : Infokomputer, 2016

 

 

10 Karakter Generasi Millenials

Generasi ini adalah generasi yang tumbuh pada abad millenium 2000, seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang secara signifikan mengubah wajah dunia. Populasi Generasi Millenials Indonesia, sangat menggiurkan para pelaku bisnis dan pemasar di Indonesia, karena itulah penting bagi pemasar dan pelaku bisnis untuk memahami karakter dan perilaku generasi digital ini. Berikut ini merupakan 10 karakter dari Generasi Millenials tersebut :

1. Melek Digital

Mereka adalah pengguna terbesar media sosial, karena melek digital Generasi Millenials mudah mengekspresikan diri di akun sosial media mereka.

2. Konsumtif

Mereka menempatkan berbelanja, traveling, membeli tiket konser dan film sebagai prioritas. Sifat konsumtif ini terbentuk karena kemudahan mereka dalam mendapatkan pinjaman melalui kartu kredit dan kemudahan berbelanja secara online. Perilaku konsumtif Generasi Millenials, juga dipicu oleh sosial media yang menuntut mereka untuk selalu mengupdate dan memposting apa yang sudah mereka belanjakan pada akun sosial media mereka. “Tingkat konsumtif mereka bahkan melebihi penghasilan mereka setiap bulan. Dalam satu bulan mereka dapat membeli dua snicker”, kata Anton Wirjono Founder Retail Fashion The Goods Dept. Anton menceritakan bagaimana Generasi Millenials memperjuangkan sepatu Nike limited edition dari Kanye West yang hanya dijual 35 pasang. “Pada program itu, Generasi Millenials yang berminat mencapai 1.200 orang. Mereka memiliki kebanggann tersendiri kalau bisa mendapatkan sesuatu yang tidak bisa didapatkan peers mereka, untuk kemudian dipamerkan melalui akun sosial media mereka”.

3. Saving untuk Sesuatu yang Diimpikan

Meski Generasi Millenials tergolong segmen konsumtif, mereka suka menabung. Jika generasi sebelumnya menabung untuk berjaga-jaga, dalam arti uang yang ditabung digunakan sebagai cadangan untuk semua keperluan yang tidak pasti atau tidak terduga di masa depan, maka Generasi Millenials menabung untuk keperluan yang sudah pasti. Tipe menabung Generasi Millenials adalah easy come easy go, jadi mereka lebih mudah membelanjakan uang tabungan untuk membeli sesuatu yang ingin mereka miliki atau lakukan. Contoh, tabungan mereka untuk anggaran traveling di akhir tahun atau untuk membeli produk yang mereka idam-idamkan setiap bulannya. Mereka cenderung tidak siap untuk tabungan masa depan, tetapi positifnya mereka tahu apa yang mereka mau dan berusaha keras mewujudkannya.

4. Knowledgeable

Generasi Millenials adalah generasi kritis yang memiliki keingintahuan tinggi. Dengan kemudahan mencari informasi lewat internet maka mereka tahu betul apa yang mereka mau. Mereka akan mencari tahu terlebih dahulu informasi sebelum mereka melakukan pembelian.

5. Digital sebagai Media Komunikasi

Generasi Millenials lebih senang berlama-lama di sosial media dan digital. Oleh karena itu berkomunikasi dengan Generasi Millenials lebih efektif menggunakan media digital dan sosial media. Generasi Millenials juga menuntut dalam berkomunikasi di media sosial dan digital dengan cara-cara yang kreatif dan interaktif yang dapat melibatkan mereka. Oleh karena itu, mereka menyukai konten kreatif yang sifatnya newness atau kekinian, coolness dan otentik. Bahkan Generasi Millenials memilih menjadikan influencer sebagai “Hero-nya”, contohnya influencer di sosial media Instagram.

6. Menjadi Entrepreneur tanpa Persiapan

Gaji tinggi dan menjadi karyawan di perusahaan yang mentereng, tidak lagi menjadi daya tarik Generasi Millenials, sebab kemudahan terutama di dunia digital dan dijejali dengan cerita-cerita suskes para start up, menjadikan Generasi Millenials lebih tertarik menjadi entrepreneur. Sayangnya, obsesi menjadi entrepreneur ini kadang dilakukan tanpa persiapan, yang pada akhirnya berujung pada kegagalan. Generasi Millenials ini hanya bersemangat di awal, mereka juga sudah punya karakter hard working, tetapi how to nya tidak dipikirkan. Padahal sudah ada kemudahan di era digital dalam mencari tahu how to. Selain itu, kemampuan pendukung atau skillnya kurang. Kemalasan itulah yang menghambat kesuksesan mereka. Menjadi entrepreneur saat ini memang lebih mudah, karena bisa berpromosi tanpa keluar banyak biaya, cukup melalui medsos. Namun, data menunjukkan bahwa 90% start up gagal. Hal ini karena mereka hanya membayangkan hasil akhir dan melupakan proses. Contohnya, semua orang melihat Google yang sukses, tetapi jatuh bangunnya Google tidak dilihat.

7. Mengutamakan Fasilitas dan Apresiasi di Dunia Kerja

Generasi Millenials lebih memilih fasilitas dan diapresiasi, serta tidak menempatkan gaji besar sebagai poin yang utama. Contohnya saja, karyawan Generasi Millenials ingin suasana kantor yang tidak terlalu serius, menyerupai play ground layaknya kantor Google. Mereka juga ingin diperlakukan berbeda, misal dengan memberikan apresiasi berupa tiket perjalanan bisnis ke luar negeri yang limited atau hanya dia sendiri yang memperolehnya.

8. Rise of The Experiential

Bagi generasi sebelum Generasi Millenials, kesuksesan seseorang amat dilihat dari keberhasilan mereka dalam memiliki hal-hal berbau materi. Indikator kesuksesan pada Generasi Millenials dinilai dari seberapa banyak materi yang dimiliki.  Namun, hal ini telah berubah pada Generasi Millenials, kesuksesan mereka dinilai dari seberapa banyak pengalaman hidup mereka. Semakin banyak mereka melakukan kegiatan-kegiatan unik maka mereka merasa dirinya semakin sukses pula. Maka dari itu, kini mereka menghargai pengalaman-pengalaman dibandingkan sekedar material, baik itu berupa uang maupun benda. Hal ini dapat dimanfaatkan oleh pemasar atau pengiklan, berdasarkan survei Eventbrite pada 2014, ada beberapa fakta unik memperkuat argumen mereka, bahwa Generasi Millenials sangat menghargai pengalaman. Sebesar 78% dari Generasi Millenials mengeluarkan uang untuk membeli pengalaman baru dibandingkan untuk membeli benda-benda yang mereka inginkan. Sebesar 82% dari mereka mengikuti berbagai pengalaman langsung dalam setahun baik itu konser, lomba dll. 72% ingin meningkatkan pengeluaran mereka untuk pengalaman langsung daripada membeli barang fisik. Pengalaman akan membentuk identitas diri mereka dan menghasilkan memori yang tidak mudah dilupakan dalam hidup mereka.

Singkatnya, Generasi Millenials ingin menjadi seseorang yang berguna dan berpengaruh, mereka ingin didengar oleh banyak orang dan pada akhirnya ingin dijadikan sebagai role model yang selalu jadi panutan bagi lingkungan sekitar. Dalam melihat generasi ini, pemasar harus berhenti melihat dari “vertical silos” karena mereka tidak membutuhkan kesuksesan yang dilihat secara vertikal.

9. Radical Transparency

Generasi Millenials sangat mengapresiasi otentisitas dari suatu produk atau bahkan suatu iklan. Mereka membutuhkan transparansi akan semua hal yang terjadi di sekitarnya. Generasi ini cenderung berbagi segala momen kehidupannya melalui medsos, namun konten yang mereka suka adalah konten yang life time dan otentik. Gerakan-gerakan yang terkini dan otentik tadi bisa menghasilkan WOM yang amat viral di dunia maya. Dengan begitu, brand harus berhati-hati dalam bertindak, baik di dunia nyata maupun digital. Dari sifat tersebut, kini tercipta istilah The Web Esteem, yakni istilah yang merujuk pada kepercayaan diri seseorang di dunia digital. Semakin otentik, jujur dan unik konten yang mereka bagikan di media sosial, maka semakin tinggi pula kepercayaan diri mereka di dunia digital. Kepercayaan ini bisa meningkat apabila engagement dengan para followernya semakin tinggi pula. Semakin unik konten, maka jumlah orang yang menyukai (memberi love, like, comment dll) semakin banyak pula. Hal itu menjadikan indikator untuk kepercayaan diri di dunia digital atau web esteem seseorang. Generasi Millenials lebih mengapresiasi brand yang dengan cepat mengakui kesalahannya daripada brand yang menutup-nutupi kesalahannya. Sekali saja brand buruk maka loyalitas dari Generasi Millenials akan dengan mudah hilang. Tidak masalah apakah kontennya baik atau buruk, tetapi selama konten dikemas dengan otentik dan menarik, maka Generasi Millenials akan menyukainya.

10. Fear of Missing Out (FOMO)

Generasi ini takut tertinggal informasi tentang peristiwa-peristiwa menarik disekitarnya. Mereka amat sering mengechek perangkat selulernya, hanya untuk mengetahui aktivitas apa yang sedang dilakukan oleh teman-temannya, dengan membuka Twitter, Instagram, Path, Facebook dll. Ketakutan yang mereka rasakan adalah ketakutan jika kelompok bermain mereka pergi ke suatu acara maupun tempat, namun tidak mengajaknya ke acara tersebut. Hal tersebut dapat dibuktikan dari sebuah riset mengatakan bahwa 83% dari Generasi Millenials tidur dengan perangkat seluler berada tepat disamping mereka. Hal ini terjadi karena mereka tidak ingin ketinggalan informasi dari lingkungan mereka.

Dari sifat ini brand harusnya bisa memanfaatkan ketakutan mereka, dengan cara membuat acara-acara langsung (live event) yang unik  sehingga tercipta efek viral pada generasi ini. Jika anggota bermain mereka, telah datang ke acara tersebut maka mereka pun akan cenderung untuk ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Selalu ciptakan sebuah acara yang justru meningkatkan tingkat kecemasan akan ditinggal tadi, namun bantu pula mereka agar mereka bisa mengikuti acara tersebut dan menghilangkan kecemasan yang mereka rasakan.

Dikutip dari : MIX Marketing Communication, 2016. Hasil Kompilasi Dosen Fakultas Psikologi UI Ivan Sudjana, M.Psi dan Founder Brightspot Market and The Goods Dept. Anton Wirjono.

Model WOW Leadership

Waktu memang menjadi hal yang mahal bagi para pemimpin, begitu juga yang dialami Retno Marsudi, Duta Besar Indonesia untuk Belanda sebelum ia diangkat menjadi Menteri Luar Negeri RI. Namun, kesibukannya tidak membuat Retno mengabaikan kesehatan fisiknya. Disela-sela aktivitasnya di dunia internasional Retno selalu berusaha meluangkan waktu untuk melakukan olahraga. Selain olahraga, Retno juga menjaga istirahat yang cukup, ia memahami benar pentingnya menjaga aspek fisik bagi seorang pemimpin. Tanpa FISIK yang prima, tugas-tugas berat seorang pemimpin tidak akan bisa dijalankan dengan optimal.

Saat lulus sebagai wisudawati termuda di Fisipol UGM, Retno telah mulai menunjukkan keistimewaannya secara INTELEKTUAL. Perjalanan kariernya bertahun-tahun kemudian semakin menegaskan bahwa ia bukan sekadar tokoh intelektual yang pandai menjawab soal ujian diatas kertas, namun juga piawai dalam memecahkan masalah-masalah praktis di lapangan. Srikandi satu ini berperan besar dalam perundingan yang menghasilkan keputusan diizinkannya maskapai penerbangan Indonesia terbang kembali di langit Uni Eropa dan Amerika Serikat. Diplomasi tingkat tinggi semacam ini tentu membutuhkan kreativitas dalam berdiplomasi.

Ada persepsi umum bahwa negosiasi adalah pekerjaan kaum laki-laki. Dunia dianggap serba rasional, apalagi jika kita berbicara tentang negosiasi antara dua negara, yang terbayang di dalam benak kita pastilah tawar-menawar yang didasari oleh logika. Namun, pengalaman Retno membantah hal ini. Retno sangat percaya pada kekuatan personal relationship di dalam negosiasi. Meskipun negosiasi terjadi antara dua negara, namun negosiatornya tetaplah seorang manusia. Sebelum melakukan negosiasi, persiapan-persiapan khusus akan dilakukannya yaitu mempelajari karakter dari mitra negosiasinya, data personal ia pelajari untuk memahami karakter mereka, tidak hanya itu ia juga berusaha menempatkan diri di posisi mitra negosiasi untuk memahami tawaran minimal yang akan mereka terima. Inilah contoh kemampuan EMOTIONALITY dari seorang WOW leader. Agar bisa menyebarkan pengaruh secara efektif kepada orang lain, seorang pemimpin harus bisa melakukan olah rasa, tidak sekadar olah rasio.

Selama ini persepsi di kalangan pemerintah bahwa bekerja sama dengan LSM itu sulit. Namun, pengalaman Retno membantah persepsi tersebut. Kemampuan untuk menjalin hubungan dengan pihak yang beragam (SOCIABILITY) adalah salah satu atribut kepemimpinan yang dibutuhkan oleh seorang WOW leader. Pemimpin semacam ini bisa mengatasi dua jebakan yang lazim dihadapi saat seseorang melakukan networking : jebakan kesamaan (similarity trap) dan jebakan kedekatan (proximity trap).

Pengalaman hidup yang penuh lika – liku serta tanjakan dalam mencapai tujuan menjadikan Retno terbiasa dengan situasi sulit. Sebagai seorang pemimpin, ia tidak mudah patah arang dan mundur ke belakang saat menghadapi tantangan. Kemampuan memotivasi diri sendiri (SELF – MOTIVATION) memang merupakan salah satu atribut kepemimpinan yang harus dimiliki seorang leader.

Rasa RESPONSIBILITY yang besar pula yang dapat menjadikan kariernya menanjak tajam, selain itu pemimpin juga mutlak memiliki INTEGRITY yaitu tidak boleh ada kesenjangan antara kata dan perbuatan.

 

 

Belajar dari Korea Selatan

Korea Selatan kini telah menjadi perhatian dunia dan menjelma menjadi satu dari lima belas negara dengan ekonomi terkuat di dunia, dilihat dari nominal GDPnya. Jika melihat Korea Selatan saat ini, sulit rasanya untuk percaya bahwa pada tahun 1970 an kehidupan di Seoul, Korea Selatan dan Pyongyang, Korea Utara sulit dibedakan. Sebagai negara agraris yang miskin dengan keterbatasan sumber daya alam, satu-satunya modal yang dapat digunakan untuk mengubah ekonomi dan masyarakat Korea Selatan adalah masyarakat Korea Selatan itu sendiri, dan mereka menyadari pentingnya peran pemerintah untuk mengoptimalkan potensi masyarakat di negaranya.

Korea Selatan mengawali perubahan besar ketika presiden pada saat itu Kim Dae Jung, melihat bahwa krisis Asia 1997 telah meluluhlantahkan Korea dan menyisakan sedikit modal yang dapat digunakan untuk memperbaiki keadaan. Melihat hal itu, Presiden Kim Dae Jung memutuskan untuk menjadikan Korea Selatan sebagai eksportir berkelas dunia untuk budaya mereka sendiri yang disebut “Hallyu”. Rencana presiden saat itu terdengar aneh, tetapi siapa sangka hampir dua dekade kemudian Korea Selatan telah berhasil mewujudkan hal tersebut. Saat ini Hallyu telah menghasilkan miliaran US Dollar bagi Korea Selatan.

Dengan hallyu, yang saat ini lebih dikenal dengan istilah Korean Wave, Korea Selatan telah menjelma menjadi negara dengan industri populer (industri pop) yang mendunia. Korean Wave terus tersebar sehingga menjadikan negara ini semakin dikenal dunia. Budaya, pakaian, makanan dan apa saja tentang Korea Selatan cepat sekali menjadi tren yang sangat digemari dunia, termasuk Indonesia. Tak hanya sampai situ, ambisi pemerintah Korea Selatan untuk menjadi negara eksportir Hallyu bagi seluruh dunia juga terlihat dari komitmen pemerintah yang mengalokasikan  APBNnya sebesar 1% untuk subsidi dan pinjaman dengan bunga rendah kepada sektor industri pop di negeri tersebut.

Mendapat dukungan dari pemerintah, dunia bisnis Korea khususnya industri pop Korea mulai bergeliat dan terus tumbuh. Tiga besar perusahaan agensi disana SM, YG dan JYP berperan penting  dalam mengekspor artis-artis Korea Selatan ke berbagai negara. Perusahaan-perusahaan agensi di Korea Selatan biasanya menggunakan Youtube untuk memperkenalkan musik baru dan artis-artis mereka.

Industri pop telah mengubah mental masyarakat di Korea Selatan. Saat ini mimpi terbesar masyarakat negeri itu adalah menjadi artis dan bagian dari industri pop yang terus berkembang dan menjanjikan kehidupan yang lebih baik, tetapi tentu saja hal itu tidaklah mudah. Persaingan yang keras menuntut perusahaan agensi menetapkan standar yang sangat tinggi bagi artisnya. Sifat kompetitif, disiplin tinggi, kerja keras dan pantang menyerah merupakan syarat yang harus dimiliki oleh pelaku di dunia pop Korea, dan tanpa disadari hal tersebut telah menjadi nilai dan dianut oleh masyarakat Korea Selatan.