ayouviward Make Today Amazing | Happy Mind Happy Life

12Mar/170

Tiga Prediksi “Smart City”

Dr. Renato De Castro (International Advisor, World e-Governments Organization of Cities & Local Governments) memaparkan tiga prediksi tentang Smart City yang harus diketahui para pemimpin kota :

Artificial Intellegence untuk Menanggulangi Resiko Keamanan

Tingkat kriminalitas yang tinggi dan ancaman teroris hanyalah dua dari sekian banyak isu yang harus dihadapi kota di seluruh dunia. Kombinasi antara teknologi dan keamanan berpotensi mengentaskan dan membantu pemerintah kota mengelola isu tersebut. Misalnya dengan mempertimbangkan surveillence system high definition tercanggih untuk dipasang pada jaringan informasi, seperti sosial media, dimana AI mampu memproses data dalam jumlah besar.

Implementasi AI ini tidak hanya dapat memangkas response time saat terjadi situasi genting tetapi juga dapat memprediksi terjadinya kejahatan. Di luar pembahasan tentang kontroversi tindakan monitoring dan privasi, AI berpotensi meningkatkan keselamatan dan keamanan di Smart City untuk kehidupan warga yang lebih nyaman.

Hypercity dan Konsekuensi

PBB menyematkan istilah hypercity pada kawassan pemukiman sekelas conurbation yang menyebar secara besar-besaran dan dihuni oleh lebih dari 20 juta orang. Tokyo menjadi hypercity pertama di dunia pada pertengahan 1960an saat jumlah populasi penduduk di ibu kota Jepang itu melewati batas angka 20 juta. Sampai dengan tahun 2020, lebih banyak hypercity akan bermunculan seperti Mumbai, Delhi, Mexico City, Sao Paulo, New York, Dhaka, Jakarta dan Lagos.

Conurbation terbentuk ketika batas antar kota makin meluas akibat pertumbuhan populasi, perkembangan industri dan teknologi. Conurbation muncul melalui koalisi atau bergabungnya pusat dari beberapa kota yang berdekatan melalui proses urbanisasi dan pembangunan kawasan yang berjalan terus menerus. Istilah Conurbation diciptakan oleh Patrick Geddes tahun 1915 yang berasal dari kata "continous" dan "urban area".

Munculnya sejumlah hypercity diperkirakan akan berujung pada terbentuknya district confederations akibat meningkatnya kompetisi antar kota. Bahkan saat ini pun kota-kota besar sudah mulai berlomba-lomba meraih investasi dan sumber daya manusia terbaik untuk meningkatkan daya saing.

Revolusi Industri Keempat dan Akibatnya terhadap Perekonomian

Revolusi industri keempat diramalkan akan menjadi revolusi paling disruptif. Di era ini, transformasi dapat dikelompokkan menjadi empat dimensi yang unik dan sangat berbeda.

Creative Economy

Menggunakan kreativitas untuk memberi nilai tambah terhadap ekonomi lokal. Profesor & Head of Martin Prosperity Institute di Rotman School of Management University Toronto, Richard Florida mengaitkan bertambah makmurnya klaster-klaster teknologi tinggi, seperti Sillicon Valley di California, Austin Technology Cluster di Texas dan East London Tech City sebagai indikator kebangkitan kelas (masyarakat) kreatif.

Sharing Economy

Layanan seperti yang diberikan Airbnb dan Uber telah mengguncang pasar tradisional. Layanan-layanan baru itupun akan mempengaruhi rantai produksi dan distribusi global, serta mendorong model-model bisnis dan inovasi baru, terutama yang mendukung konsep "access over ownership".

Circular Economy

Sebuah ekonomi dimana tidak ada ruang bagi pemborosan. Hal itu dicapai melalui kesadaran mendaur ulang sumber daya untuk menjamin lingkungan yang berkelanjutan dalam jangka panjang. Hal ini tentu sangat kontras dengan model produksi linear yang kita anut saat ini. Model produksi linear akan mengubah bahan mentah menjadi barang siap pakai yang akhirnya akan menjadi limbah.

Co-Creation

Perusahaan-perusahaan startup menyambut kolaborasi dengan semua stakeholder, karyawan, supplier, pelanggan bahkan pesaing. Konsep ini dapat dikembangkan untuk merangkul co-creation warga kota dengan pengelolaan oleh publik untuk meningkatkan kualitas hidup.

Perubahan-perubahan besar ini ditandai oleh perspektif baru tentang implikasi waktu dan ruang karena kemampuan teknologi dalam menjembatani domain fisik, digital dan biologis. Teknologi hanyalah sebuah kendaraan untuk berubah. Adopsi teknologi harus dilakukan secara menyeluruh, inklusif dan komplit di setiap tingkatannya untuk meraih kesuksesan implementasi proyek Smart City.

Dikutip dari : Infokomputer, Maret 2017.

 

Filed under: Technology No Comments
12Mar/170

Pekerjaan Yang Terancam Akibat Hadirnya Robot

Petugas Call Center

Perusahaan asal New York, IPSoft menghabiskan waktu selama lima belas tahun untuk membangun Amelia. Amelia adalah platform berbasis artificial intellegence yang bisa menggantikan petugas Call Center. Amelia bisa belajar SOP berbicara dengan klien dalam hitungan detik dan berbicara dalam dua puluh bahasa berbeda. Amelia juga dibekali kemampuan untuk menangkap emosi sang penelpon dan cara menghadapinya.

Amelia memang harus belajar agar bisa bekerja dengan baik, namun waktu yang ia butuhkan juga singkat. Contohnya, saat diimplementasikan di sebuah call center, di minggu pertama, Amelia hanya bisa menangani 1 dari 10 penelepon, namun di minggu kedua, Amelia bisa menjawab 6 dari 10 penelepon. Seiring kian canggihnya Amelia, pekerjaan petugas call center yang diperkirakan mencapai 250 juta orang pun akan terancam.

Sopir Truk

Pada Oktober 2016, Otto mencatatkan sejarah untuk pertama kalinya berhasil mengantarkan produk. Keberhasilan ini menjadi spesial karena Otto adalah truk yang bisa berjalan sendiri. Dalam antaran pertamanya ini, Otto berkendara sekitar dua ratus kilometer untuk mengantarkan 50 ribu botol bir.

Keberhasilan Otto ini memang masih diganjal oleh beberapa catatan. Pertama, Otto hanya bisa beroperasi di jalan tol yang kondisi jalannya relatif sederhana, selain itu Otto tidak pernah berganti jalur kecuali terpaksa. Namun keterbatasan tersebut hanya menunggu waktu untuk diatasi.

Petugas Restoran

Meski membuat burger relatif mudah, akan sulit bagi manusia untuk membuat enam burger per menit, namun itulah yang bisa dilakukan mesin pembuat burger buatan Momentum Machine. Dengan menggunakan sistem ban berjalan, mesin ini bisa mempersiapkan semua hal yang dibutuhkan untuk membuat burger, mulai dari memanggang daging sampai memotong tomat.

Sementara di Jepang, telah dibuka restoran sushi yang tidak membutuhkan pelayan. Setiap pesanan akan dikirimkan dari dapur ke meja menggunakan ban berjalan. Ketika selesai makan, pelanggan diminta memasukkan piring dan gelas di jalur yang tersedia dan perangkat makan itu pun akan meluncur ke area cuci. Restoran ini memang masih mempekerjakan manusia, namun jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding restoran sekelasnya.

Petugas Toko

Pada Desember 2016, Amazon membuka sebuah toko retail khusus di Seattle yang tidak membutuhkan petugas. Pengunjung yang ingin membeli barang hanya perlu memasuki toko, mengambil barang yang dibutuhkan, lalu keluar tanpa harus mengantre di kasir. Mereka hanya perlu membawa smartphone dengan aplikasi Amazon Go di dalamnya.

Mengapa ini bisa dilakukan? Menurut Amazon, mereka menggunakan gabungan sensor, artificial intellegence dan machine learning untuk memonitor pergerakan pengunjung, ketika pengunjung mengambil barang tertentu, sensor akan mendeteksi pembelian tersebut dan mencatatnya di aplikasi. Sensorpun cukup canggih untuk mencoret transaksi ketika pengunjung membatalkan pembelian.

Dikutip dari : Infokomputer, Maret 2017

Filed under: Technology No Comments
12Mar/170

Mungkinkah Manusia & Robot Hidup Berdampingan?

Seberapa efisiennya robot? pertanyaa tersebut bisa dijawab sebuah pabrik di Dongguan, Tiongkok. Pabrik perakitan handphone ini sebelumnya mempekerjakan 650 pekerja. Namun setelah menggunakan robot, kini mereka hanya perlu mempekerjakan 60 pekerja saja, alias kurang dari 10%. Tiga pekerja bertugas mengawasi produc line, sedangkan sisanya bertanggung jawab di sisi sistem komputer.

Jumlah pekerja ini bahkan bisa berkurang sampai dua puluh orang saja setelah melihat efektivitas kerja robot tersebut, yang menarik produktivitas pabrik tersebut meningkat secara drastis. Jumlah produk yang dihasilkan meningkat 250%, sedangkan tingkat kesalahan menurun sampai 80%. Semua fakta tersebut menunjukkan, robot memang menawarkan efisiensi. Namun efisiensi tersebut juga harus dibayar dengan harga yang mahal, yaitu hilangnya pekerjaan kita.

Menurut studi yang dilakukan Carl Frey dan Michael Osborne dari Oxford University AS, makin matangnya teknologi robot, automasi dan artificial intellegence berpotensi menghilangkan 47% pekerjaan di AS dalam 20 tahun ke depan, untuk negara berkembang, efeknya lebih dahsyat lagi. Analisis World Bank di tahun 2016 memperkirakan sebanyak dua pertiga pekerjaan di negara berkembang terancam kelangsungannya akibat automasi.

Kekhawatiran juga disampaikan oleh Bill Gates. Pendiri Microsoft ini bahkan menyodorkan wacana pengenaan pajak bagi perusahaan yang menggunakan robot. "Ketika seorang pekerja mendapatkan penghasilan misalnya US$50 ribu, ia akan dikenai pajak penghasilan, pajak jaminan sosial dan lainnya, seharusnya ketika robot mengerjakan pekerjaan yang sama, pajak yang sama pun diterapkan". Pajak yang didapat tersebut kemudian dialokasikan untuk membiayai pendidikan anak dan perawatan manula, dua sektor yang sangat membutuhkan empati manusia. Pengenaan pajak juga bisa menjadi instrumen untuk mengerem laju perkembangan automasi. Ketika kemunculan robot dirasa akan membuat kerugian dibanding keuntungan, kita harus bisa meningkatkan tingkat pajak dan mengerem adopsi automasi.

Akan tetapi, banyak juga ilmuwan yang percaya robot dan manusia akan hidup berdampingan. Salah satunya adalah Profesor Manuela Veloso (Head of Machine Learning di Carnegie Mellon University AS). Dalam pandangannya, di masa depan akan sulit membedakan area yang ditangani manusia atau mesin. Namun baik mesin dan manusia akan saling membutuhkan dan tidak bisa bekerja tanpa bantuan. Hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah berinvestasi di sisi pendidikan. Robot akan makin canggih, tapi ketika kita fokus dengan pendidikan, peradaban manusia juga akan menjadi lebih baik.

Dikutip dari : Infokomputer, Maret 2017.

Filed under: Technology No Comments
4Nov/160

Berbagai Mitos di Dunia IT

Mitos 1 : Makin tinggi resolusi kamera, semakin bagus hasil fotonya

Fakta :

Bagus atau tidaknya suatu foto yang dihasilkan oleh sebuah kamera bukan hanya ditentukan oleh satu faktor saja, melainkan banyak hal yaitu lensa yang digunakan, algoritma pemroses gambar yang dipakai, lensa, serta chip pengolah gambar. Tinggi resolusi sebuah kamera sebenarnya hanya berpengaruh pada seberapa besar foto tersebut dapat dicetak pada kertas berukuran besar. Semakin tinggi nilai megapixel, makin besar pula foto yang dicetak pada kertas yang berukuran lebih besar. Hal ini juga berlaku pada kamera smartphone.

Mitos 2 : Menggunakan smartphone di SPBU bisa menyebabkan kebakaran

Fakta :

Smartphone zaman sekarang sudah memiliki sistem perlindungan dan keamanan yang membuat potensi adanya listrik statis pemicu ledakan sangat kecil. Dinas Pemadam Kebakaran AS pun hanya sekali menjumpai kasus sebuah SPBU yang terbakar karena asumsi penggunaan smartphone. Hal ini membuat pengguna smartphone menjadi tersangka musibah tersebut. Namun hasil penelitian terbaru tidak dapat membuktikan bahwa smartphone tersebut menjadi pemicunya.

Mitos 3 : Jangan mengisi ulang baterai smartphone atau notebook sebelum daya baterai habis

Fakta :

Hal ini memang sempat dipercaya ketika baterai masih menggunakan teknologi lama (berbasis nickel metal hydride/NiMH). Namun semenjak digunakannya baterai berjenis lithium, anda bisa melakukan pengisian baterai kapan saja tanpa harus menunggu kapasitas daya baterai habis. Bahkan jika terlalu sering mengisi baterai ketika kondisi baterai kosong, hal ini akan membuat baterai bekerja terlalu keras untuk kembali ke kondisi normal.

Mitos 4 : Magnet bisa menghapus data

Fakta :

Hal ini memang benar bisa saja terjadi jika data magnet tersebut sangat besar. Seorang pakar teknologi mengatakan dibutuhkan magnet yang cukup besar dan kuat untuk menghapus semua data pada komputer modern. Ini pun hanya berlaku pada media simpan seperti hard disk yang memiliki piringan maupun komponen berbahan logam. Sementara media simpan seperti SSD atau flash disk tidak akan terpengaruh oleh magnet.

Mitos 5 : Smartphone bisa menjadi pemicu kanker

Fakta :

Isu radiasi sinyal smartphone dapat menyebabkan kanker otak sudah lama berhembus. Tetapi hal itu belumlah terbukti. Smartphone memang memancarkan radiasi yang dapat diserap oleh jaringan manusia. Namun apakah radiasi ini memang benar menyebabkan kanker, sampai saat ini belum terbukti ilmiah. Hal itu diperkuat oleh pernyataan National Cancer Institute yang mengatakan tidak ada pengaruh dari energi frekuensi smartphone sebagai penyebab kanker. Hal tersebut telah mereka buktikan pada sel hewan dan (belum lama ini) pada manusia.

Mitos 6 : Windows lebih rentan dibandingkan MacOS atau Linux

Fakta :

Salah satu alasan mengapa Windows lebih rentan terhadap serangan karena Windows merupakan sistem operasi yang paling banyak digunakan. Ini membuatnya menjadi sasaran para pembuat virus maupun penjahat dunia maya yang lebih menginginkan target pasar yang lebih besar. MacOs sendiri sering mendapatkan tambalan (patch) keamanan karena sudah mulai banyak virus maupun malware yang menyerangnya. Sementara Linux pun juga tidak jauh berbeda. Hanya saja, karena Linux berbasiskan komunitas, setiap ada masalah keamanan, akan ada banyak orang yang cepat bereaksi untuk mengatasinya.

Mitos 7 : Jika sinyal jaringan smartphone penuh artinya koneksi internet kencang/lancar

Fakta :

Sinyal penuh pada smartphone hanya menandakan bahwa posisi smartphone dekat dengan BTS. Makin penuh bar sinyal, main dekat posisinya dengan BTS, sementara lambat tidaknya koneksi internet dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu berapa banyak orang yang sedang menggunakan jaringan tersebut. Contohnya mirip saat mengakses internet dari wifi, saat sinyal penuh namun banyak orang yang sedang mengaksesnya secara bersamaan, akan bisa membuat koneksi lambat.

Mitos 8 : Hacker adalah penjahat yang mencuri data

Fakta :

Banyak yang beranggapan bahwa hacker adalah penjahat yang menyebarkan virus, mencuri data atau melakukan kejahatan di dunia maya. Padahal hacker adalah orang-orang yang bertugas mencari kelemahan sebuah sistem dan memperbaikinya. Mereka yang melakukan kejahatan dunia maya lebih tepatnya disebut Cracker.

Dikutip dari : Infokom - Infomezzo, 2016

Filed under: Technology No Comments
3Nov/160

Merancang Strategi Membangun Smart City

Keinginan membangun Smart City selalu ada, namun banyak pemimpin kota kebingungan memulai dari mana. Dibutuhkan kemampuan untuk mengidentifikasi masalah agar strategi tak salah arah.

Seorang kepala daerah mengutarakan maksudnya datang ke Indonesia Smart CIty Forum 2016 di Bandung, "Saya tertarik membangun smart city, namun tidak tahu harus memulai dari mana". Ungkapan kepala daerah tersebut mungkin bisa mewakili kegelisahan dari banyak kepala daerah di Indonesia. Dengan makin banyaknya masalah di daerah yang mereka pimpin, pemanfaatan teknologi sudah tidak bisa dielakkan lagi. Akan tetapi, pemerintah kota dan kabupaten kerap dihadapkan dengan kebingungan harus memulai dari mana.

Pada acara ISCF 2016, beberapa narasumber mengungkapkan pandangannya. "Kami mengusulkan strategi pertama -tama yaitu Smart City Blueprint. Misi utamanya adalah mencari masalah dan kebutuhan di setiap kota, setelah itu pemimpin daerah tinggal membuat roadmap sesuai prioritas dan keadaan anggaran. Misalnya, tahap 1 Visibility (terhadap data dulu), tahap 2 soal transportasi, dst. Kemudian lakukan kemitraan dan kolaborasi dengan developer aplikasi. Pastikan platform yang dibangun open dan agile, sehingga bisa interconnect dengan pemerintah pusat. Terakhir, pastikan warga harus aktif berpartisipasi.

Menurut Ery Putra Hendraswara (Deputy Executive GM Digital Service, Telkom Indonesia) tahapan dalam mengidentifikasi most painful problem antara lain Collect (mengumpulkan data dan informasi tentang masalah), Communicate (menghubungkan data melalui jaringan) dan Crunching (menganalisis data historis dan realtime untuk melakukan predictive analytics dan memprediksi langkah penanganan yang tepat).

Ery juga menekankan bahwa empat poin utama dalam smart city, yakni Sustainable (programnya berkelanjutan), Efficiency (meningkatkan efisiensi di pemerintah dan masyarakat), Safe & Secure (meningkatkan rasa aman) & Pleasant (memberikan kenyamanan bagi warga).

 

Dikutip dari : Infokomputer, 2016

 

 

Filed under: Technology No Comments
4May/160

DATA FABRIC : Merangkai Data di Awan Hibrida

Image result for hybrid cloud

Hybrid Cloud diprediksi akan menjadi the norm bagi organisasi di masa depan. Namun ada satu tantangan dikemukakan para CIO mengenai awan hibrida ini : mengkoneksikan dan mengelola data di berbagai lingkungan di bawah payung Hybrid Cloud.

Infrastruktur Teknologi Informasi (TI) tidak lagi bersifat statis dengan kehadiran cloud. Implementasi cloud telah diagendakan di banyak organisasi tetapi ada beberapa tantangan di tahap eksekusi. Apa yang menjadi kendala untuk memulai cloud deployment? Survei oleh IDG Research Service dan NetApp ini menemukan sebuah alasan : perusahaan tidak mampu mengelola data di lingkungan on-premise dan cloud. Sebanyak 78% responden menempatkan pengelolaan data di berbagai lingkungan cloud pada kategori sangat penting. Tetapi hanya sebanyak 29% responden yakin mereka bisa melakukannya dengan baik.

“Anda dapat meng-outsource aspek komputasi atau aplikasi. Tetapi begitu data tercipta, anda akan terikat padanya selama data itu masih ada. Mengontrol data di data center milik sendiri adalah satu hal, tetapi ketika data tersimpan di berbagai lingkungan yang berbeda, itu masalah lainnya”.

Menurut responden, ada beberapa area data management yang cukup sulit, seperti data protection, application performance dan data governance, dan kendala-kendala itu mengerucut pada satu hal : kurang kontrol. Ketika data tidak lagi berada di data center perusahaan, organisasi TI memiliki sedikit kontrol atau visibilitas terhadap data. Masalah ini kian pelik karena setiap penyedia layanan cloud menggunakan platform, protokol dan sistem yang berbeda. Padahal organisasi TI harus mampu mengelola itu semua demi data. Tantangannya tidak terletak pada penyimpanan data saja tetapi juga bagaimana data berpindah-pindah antar cloud, bagaimana mengakomodasi kebutuhan yang berbeda-beda dan bagaimana mengoptimalkan manfaat elastisitas dan skalabilitas cloud.

Untuk “merangkai” data yang ada di lingkungan hybrid cloud ke dalam satu infrastruktur tunggal dan terintegrasi, NetApp menawarkan solusi data fabric. Ada beberapa elemen kunci yang harus dimiliki pada solusi data fabric untuk mengelola data enterprise secara mulus di lingkungan hybrid cloud :

  • Common Data Management

Sistem pengelolaan data yang bersifat umum akan membantu perusahaan menjaga kinerja bisnis dan operasional di setiap titik cloud.

  • Common Data Transport

Kemampuan ini akan memudahkan perpindahan data dari satu cloud ke cloud lain. Tim TI juga dapat memastikan data berada di tempat dan waktu yang tepat sehingga bisa di akses aplikasi dengan lebih efisien dan efektif biaya.

  • Common Data Format

Format data yang bersifat umum akan mengeliminasi keharusan menulis ulang aplikasi untuk cloud. Organisasi TI juga bisa lebih cepat dan mudah menaruh aplikasi di cloud atau memindahkannya ke lingkungan cloud yang berbeda.

 

Dikutip dari : Threestayanti, L., Infokomputer, 2016

Filed under: Technology No Comments
   
Skip to toolbar