TOP

8 Studi Menarik bagi Entrepreneur dalam Menjalankan Bisnisnya

Ada satu hal yang setiap pengusaha harus benar-benar pahami untuk menumbuhkan bisnis yang sukses. Satu hal tersebut adalah perilaku manusia. Memahami perilaku manusia akan membantu Anda menjadi lebih efektif dalam pemasaran, penjualan, produktivitas, copywriting, dan bahkan pengembangan produk, dan tidak ada cara yang lebih baik untuk mengembangkan pemahaman tentang perilaku manusia melalui sebuah riset atau penelitian.

Para peneliti telah melakukan studi berkaitan dengan perilaku manusia yang dapat membantu para enterepreneur memahami market, menetapkan harga produk, meningkatkan penjualan, dan berkomunikasi kepada konsumen. Berikut adalah delapan studi tersebut dan Anda bisa menyimaknya karena akan sangat berguna bagi bisnis Anda.

  1. STUDI ILLOGICAL REASONING

Apakah Anda pernah mendengar seseorang berkata “itu bukan tentang apa yang Anda katakan, melainkan bagaimana Anda mengatakannya?” Ternyata ini bukan hanya sekedar kutipan. Sebuah studi yang dilakukan oleh Ellen Langer dari Harvard University memiliki subjek dengan meminta orang berbaris di depan mesin fotokopi, subjek akan memotong antrian orang di depannya agar cepat meng-copy salinan yang dibawa.

Di situlah peneliti tersebut mempelajari bagaimana orang mengatakan agar bisa memotong antrian tersebut. Pesan dari ketiga kelompok yang diuji adalah sama yaitu subjek ingin memotong antrian di depan mereka. Namun, dalam satu kelompok, subjek diminta untuk memotong antrian di depan tanpa alasan, dengan hanya bertanya apakah mereka bisa membuat salinan dengan mengatakan “bolehkah saya menggunakan mesin Xerox?” Mereka hanya diizinkan untuk memotong antrian depan sekitar 60%.

Di kelompok kedua, subjek mengatakan: “Bolehkah saya menggunakan mesin Xerox? saya sedang terburu-buru” Ini jauh lebih berhasil daripada kelompok pertama dengan 94%. Kelompok ketiga juga memberikan alasan, meskipun alasannya tidak masuk akal. Mereka mengatakan, “bolehkah saya menggunakan mesin Xerox? karena saya harus membuat salinan” Meskipun semua orang yang antri juga harus membuat salinan, 93% dari orang membiarkan subjek untuk memotong antriannya.

Ini menunjukkan bahwa orang-orang jauh lebih mungkin untuk menuruti sebuah permintaan jika ada alasan dari pemohonnya, meski alasan tersebut tidak masuk akal. Penelitian ini membuktikan bahwa kita memiliki blind spot ketika seseorang menggunakan kata “karena” untuk membuat kasus untuk sesuatu yang mereka ingin kita lakukan.

Yang bisa Anda dipelajari

Sebagai seorang entrepreneur, hasil penelitian ini akan membantu Anda menyusun kata-kata penjualan atau copywriting yang lebih efektif, content marketing dan pesan yang ingin disampaikan pada prospek atau customer potensial Anda. Berikan alasan kenapa mereka harus membeli atau menggunakan produk Anda. Jangan meremehkan kekuatan dari sebuah kata sederhana!

  1. STUDI TIMBAL BALIK

Selama beberapa tahun terakhir content marketing telah menjadi kata kunci. Itu karena content marketing bekerja dengan baik di era digital sekarang ini, di mana sebuah iklan digantikan dengan memberikan informasi berharga secara gratis. Tapi apakah Anda pernah bertanya-tanya mengapa content marketing sangat efektif?

Itu karena content marketing – atau menambahkan nilai (value) nyata bagi kehidupan masyarakat, bahkan gratis, melalui audio, visual, video, atau konten yang ditulis, mengaktifkan “gen” timbal balik kita. Sebagai manusia kita sangat terdorong untuk membalas kebaikan, nikmat atau hadiah. Hal ini ditunjukkan dalam Robert Cialdini buku Influence: The Psychology of Persuasion.

Cialdini menjelaskan penelitian yang dilakukan oleh Phillip Kunz dari Universitas Brigham Young. Kunz mengirimkan 600 kartu Natal tulisan tangan untuk orang yang benar-benar tidak ia kenal guna melihat apa yang akan terjadi. Beberapa minggu kemudian Kunz menerima balasannya kembali lebih dari 200 kartu. Ini menakjubkan, mengingat Kunz adalah orang yang juga tak dikenal oleh para penerima kartu tersebut.

Mereka bertindak atas norma sosial yaitu timbal balik ketika seseorang memberi sesuatu, bahkan yang kita tidak tahu memberikan sesuatu kecil sekalipun, dalam hal ini adalah kartu ucapan selamat Natal.

Yang bisa Anda dipelajari

Sebagai seorang entrepreneur, Anda mungkin bertanya-tanya bagaimana penelitian ini akan membantu Anda. Tapi mungkin Anda harus bertanya-tanya bagaimana Anda bisa membantu target market Anda. Jika Anda memberi sesuatu yang berharga bagi mereka, mereka cenderung untuk memberikan timbal balik (feedback) , dan bahkan mereka akan melakukannya dengan membeli produk Anda.

  1. STUDI MIMIKRI

Apakah Anda pernah mendengar saran untuk menggunakan kata-kata yang tepat yang digunakan oleh market Anda dalam copywriting Anda? Ketika kita mendengar kata-kata yang kita biasa gunakan (atau yang dipikirkan), tanpa sadar kata-kata tersebut akan ‘bergema’ dalam pikiran. Jika kita dapat membuat pesan penjualan dalam bahasa target market gunakan, mereka akan menganggap kita tahu masalahnya lebih baik daripada yang mereka tahu.

Jay Abraham mengatakan: “Jika Anda dapat menyelesaikan masalah lebih baik dari target customer Anda, mereka secara otomatis akan menganggap Anda memiliki solusinya.” Sebuah studi yang dilakukan oleh Rick Van Baaren di Belanda menunjukkan ini dalam bentuk tindakan. Van Baaren memiliki beberapa pelayan di sebuah restoran yang mengambil dua pendekatan untuk mengonfirmasi sebuah pesanan.

Beberapa pelayan akan menunjukkan bahwa mereka mendengar pesanan customer secara sederhana (simple acknowledgement), dan beberapa akan mengulangi urutan kata-kata customer secara sama (exact words) kepada pelayan yang lain.

Mereka yang menirukan kata-kata customer melihat peningkatan sekitar 20%  dalam hal customer memberikan uang tip sebagi tanda kepuasan, dari 52% menjadi 78%.

Yang bisa Anda dipelajari

Sebagai seorang entrepreneur, Anda harus menyadari penelitian ini karena akan membantu Anda beresonansi dengan target market mereka. Jika Anda dapat menggunakan kata-kata yang tepat dan kalimat yang market Anda berpikir atau digunakan dalam copywriting Anda, hal tersebut akan membantu meningkatkan konversi penjualan Anda.

  1. STUDI MERE EXPOSURE EFFECT

Kita suka berpikir bahwa kita suka hal-hal baru dan menarik, kenyataannya adalah kita memiliki preferensi yang kuat pada sesuatu yang familiar. Penelitian telah menunjukkan bahwa orang-orang akan bersikap baik pada sesuatu yang mereka kenal. Dalam sebuah peneliti psikolog Robert Zajonc menunjukkan para partisipan sebuah karakter yang bernuansa Chinese (tapi hanya sebuah desain yang random).

Mereka yang sering ditampilkan karakter tertentu, bereaksi lebih positif terhadap karakter tersebut; semakin tinggi frekuensi orang melihat simbol yang sama, orang akan semakin menyukainya.

Yang bisa Anda dipelajari

Sebagai seorang pengusaha, studi mere exposure effect dapat membantu rencana pemasaran Anda dengan cara memahami pola pembelian dari market Anda. Anda mungkin pernah mendengar bahwa orang perlu melihat iklan rata-rata tujuh kali sebelum membeli, penelitian ini untuk menunjukkan bahwa eksposur yang hanya sekali tidak cukup untuk market Anda.

  1. STUDI THE FOOT IN THE DOOR

Apakah Anda tahu bahwa jika Anda bisa membuat seseorang untuk mengatakan “ya” dengan sebuah permintaan kecil, Anda memiliki kesempatan yang jauh lebih baik agar mereka memenuhi permintaan yang lebih besar di kemudian hari.

Inilah Sebabnya Mengapa Sales Funnels Bekerja

Peneliti Stanford Jonathan Freedman dan Scott Fraser membuktikan ini di sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 1960-an. Mereka menghubungi ibu rumah tangga yang dibagi menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok dihubungi dengan permintaan kecil dan kemudian menghubungi dengan permintaan jauh lebih besar. Kelompok kedua dihubungi hanya dengan permintaan yang besar.

Kelompok pertama 30% lebih mungkin mengatakan “ya” untuk permintaan yang lebih besar dibandingkan kedua, karena mereka sudah memenuhi permintaan yang lebih kecil sebelumnya.

Yang bisa Anda dipelajari

Banyak marketer percaya bahwa ini adalah salah satu cara untuk memprogram perilaku konsumen untuk terbiasa mengambil satu tindakan tertentu dengan merk Anda. Ciptakan peluang kecil untuk customer Anda agar mengatakan “ya”  pada penawaran Anda, guna mendorong penawaran yang lebih besar diterima oleh customer.

  1. STUDI PILIHAN

Banyak variasi atau pilihan memang dapat menarik konsumen, namun terlalu banyak variasi mungkin berdampak kurang baik bagi penjualan. Sebuah studi terkenal yang dilakukan oleh dua peneliti dari Stanford dan Columbia Universitas masing-masing menunjukkan bahwa konsumen memang lebih tertarik dengan memiliki banyak pilihan, namun mereka kurang tegas dan cenderung tidak membeli ketika diberi banyak pilihan.

Kedua peneliti berangkat ke toko makanan untuk membuat tampilan atau display untuk berbagai macam selai. Kupon ditawarkan kepada customer yang berhenti untuk membeli sampel selai tersebut.Dalam salah satu bagian dari studi ini, ada enam rasa selai yang ditampilkan. Di bagian lain, ada dua puluh empat rasa selai yang ditampilkan.

Apa yang mereka temukan adalah, 27% lebih banyak customer membeli beberapa selai jika mereka hanya harus memilih antara enam rasa daripada dua puluh empat.

Yang bisa Anda dipelajari

Anda dapat menggunakan informasi ini dalam bisnis Anda untuk meningkatkan penjualan prosuk. Lihatlah penawaran produk Anda, apakah Anda menawarkan terlalu banyak pilihan? Ingat, menawarkan terlalu banyak tampaknya menarik untuk customer tetapi sulit untuk terjadinya konversi penjualan. Lain halnya jika merk Anda sudah terkenal dan kuat di masyarakat.

  1. STUDI DECOY EFFECT

Katakanlah Anda bisnis menawarkan dua produk, dan Anda ingin menjual salah satu produk tersebut lebih banyak daripada yang lain. Bagaimana Anda bisa meningkatkan penjualan untuk salah satu produk tersebut? Mungkin Anda akan membuat banyak iklan dari produk tersebut, menurunkan harga atau menawarkan bonus bagi mereka yang membelinya. Tapi apakah Anda pernah mempertimbangkan untuk memperkenalkan produk ketiga yang kurang diminati untuk meningkatkan penjualan salah satu produk? Tampaknya terdengar sedikit aneh, namun cara ini dapat bekerja, dan disebut efek umpan (decoy effect).

Penelitian ini dilakukan oleh Itamar Simonson, peneliti populer di bidang ini. 95 pembeli awalnya diminta untuk memilih antara dua penghancur kertas (shredder). Penghancur kertas pertama (A) adalah model yang lebih murah dan kurang efisien. Penghancur kertas kedua (B) adalah lebih mahal dan namun lebih efisien. Dalam hal ini, 79% dari pembeli memilih Penghancur kertas pertama (yang lebih murah, kurang efisien).

Namun, para peneliti kemudian menambahkan pilihan ketiga (C). Pilihan itu lebih mahal daripada A dan B tetapi lebih efisien daripada A dan namun kurang efisien dibandingkan B. Meskipun pengenalan opsi C tidak mengubah dua pilihan lainnya, terjadi peningkatan menjadi 36,1% partisipan memilih model B.

Yang bisa Anda dipelajari

Studi ini menunjukkan bagaimana keputusan kita berubah, tergantung pada pilihan yang ada. Anda dapat menggunakan ini dalam bisnis Anda untuk menawarkan “umpan” jika Anda ingin meningkatkan penjualan Anda dari produk tertentu.

  1. STUDI VIRALITY

Bagaimana jika sosial media anda dibanjiri follower, penjualan meningkat drastis, dan semua itu tiba-tiba terjadi pada bisnis Anda? Jika Anda ingin sepotong konten Anda menjadi viral, penelitian ini akan berguna. Yunus Berger, seorang penulis, melakukan penelitian yang membuktikan bahwa hal-hal yang menimbulkan emosi tertentu jauh lebih mungkin untuk dibagikan (share).

Studi ini menimbulkan “gairah tinggi” dan “gairah rendah” (low arousal activity) dari partisipan dengan meminta mereka berlari di tempat (high arousal activity) dan menonton video emosional (high arousal activity), dan kemudian bertanya apakah mereka lebih atau kurang mungkin untuk berbagi video atau konten dengan teman-teman mereka.

Ternyata kegiatan gairah tinggi (emosi, aktivitas fisik) meningkatkan kemungkinan bahwa individu akan berbagi konten dengan lebih dari 50%.

Yang bisa Anda dipelajari

Ketika membuat konten untuk bisnis Anda, pastikan untuk menyisipkan emosi yang berhubungan dengan audiens Anda.

 

Kesimpulan

Jika Anda memahami implikasi dari studi ini pada bisnis Anda, Anda selangkah di depan.  Pengaplikasian dari delapan studi tidak hanya akan membantu Anda memperoleh penghasilan lebih melalui bisnis Anda, tetapi juga menyelamatkan Anda dan tim Anda dari waktu dan mencoba usaha yang sia-sia tanpa membuahkan hasil. Semoga bermanfaat!

Dikutip dari : https://digitalmarketer.id/mindset/8-studi-menarik-yang-berguna-bagi-entrepreneur-dalam-menjalankan-bisnisnya/

Read More
TOP

Plus Minus Kantor Tanpa Bos

Sistem manajemen baru yang menghapuskan hierarki tersebut adalah HOLACRACY. Dikutip dari situs resminya Holacracy.org, sistem ini menggantikan hierarki dalam manajemen tradisional dengan sebuah “sistem operasi” peer to peer yang meningkatkan transparansi, akuntabilitas dan kelincahan organisasi.

Ini terdengar menjanjikan dan cocok untuk perusahaan startup teknologi yang mencari model baru manajemen di tempat kerja untuk menjaga inovasi dan energi anak-anak muda.

Zappos (toko online yang menjual baju dan sepatu berbasis di Las Vegas) telah menerapkannya dan tetap menerapkannya hingga kini walaupun tidak sedikit menuai kontroversi. Google sempat meniadakan para bos di level manajer, namun tak lama kemudian mengadakannya kembali.

ZAPPOS

Pada tahun 2012 CEO Zappos Tony Hsieh bertemu Brian Robertson, CEO perusahaan software Conscious Capitalsm yang dikenal sebagai penemu Holacracy. Menurut Robertson, adalah masalah dalam interaksi manusia (seperti ketidakpuasan, ingin berkuasa dll) yang menghalangi bisnis mencapai potensi maksimalnya.

Hsieh yang terkenal selalu inovatif dalam pendekatan pengelolaan karyawan lansung menyukai konsep ini. Pada tahun 2013, holacracy diperkenalkan di perusahaan e-commerce yang telah diakuisisi Amazon tersebut. Gagasan utama holacracy adalah menyusun atau mengorganisasi perusahaan berdasarkan pekerjaan yang perlu dikerjakan dan bukan berdasarkan orang yang mengerjakannya. Gonzales – Black yang menangani bagian human resources di Zappos bertugas menghapus semua jabatan, termasuk jabatannya sendiri. Organisasi akan beroperasi tanpa seorangpun yang menyandang titel manajer.

Dikutip dari buku Holacracy: The New Management System for a Rapidly Changing World (Brian Robertson, 2015), holacracy membagikan otoritas dan pengambilan keputusan ke seluruh organisasi, dan menetapkan orang-orang di dalamnya bukan berdasarkan hierarki dan jabatan, melainkan berdasarkan peran. Ketika anda mulai mengikuti holacracy, anda belajar membuat struktur baru dan cara pengambilan keputusan, yang memberdayakan karyawan yang paling memahami pekerjaan anda yaitu para frontliner.

Holacracy menghapus job description dimana setiap orang hanya memiliki satu job, hal ini digantikan oleh roles (peran) dimana seseorang mengisi beberapa peran. Di dalam holacracy juga semua aturan bersifat transparan dengan tujuan menghilangkan politik kantor.

GOOGLE, MEDIUM dan GITHUB

Ketika sedang berkembang pesat, Google merasa tidak mungkin lagi memiliki struktur organisasi yang flat. Pada waktu itu direkrutlah manajer-manajer berpengalaman dari perusahaan lain yang kemudian membuat karyawan mearasa suasana tidak “Google” lagi. Pada waktu itulah, Brian dan Page memutuskan untuk menghapuskan posisi manajer. Setidaknya untuk bagian Engineering.

Kondisi tersebut mendapat tentangan dari Head of HR Google, yang merasa manajer tetap diperlukan, tetapi Page tetap bersikeras bahwa orang-orang tidak perlu diatur. Hal ini sempat menimbulkan kekacauan kecil dimana ada yang kehilangan pekerjaan dll. Kebijakan ini ternyata tidak berlangsung lama dan posisi manajer tetap sangat diperlukan karena karyawan memerlukan leader, yang bisa mengajari mereka, dan ketika mereka tidak sependapat dengan rekan kerja mereka, dibutuhkan seseorang yang dapat menengahi dan mengambil keputusan.

Permasalahan yang sering dihadapi banyak organisasi adalah banyak manajer yang tidak efektif. Mereka tidak melakukan fungsi leader dan hanya bisa menyuruh, karena itulah kemudian Google meluncurkan yang disebut project Oxygen, untuk membentuk bos-bos yang lebih baik. Mereka menemukan delapan perilaku manajer hebat yang membuat mereka hebat, yaitu :

  1. Be a good coach.
  2. Empower; don’t micromanage.
  3. Be interested in direct reports success and well being.
  4. Don’t be a sissy; be productive and results oriented.
  5. Be a good communicator and listen to your team.
  6. Help your employees with career development.
  7. Have a clear vision and strategy for the team.
  8. Have key technical skills so you can advise the team.

Kesimpulannya adalah Holacracy sangat sulit diterapkan jika perusahaan sudah berkembang dengan skala yang lebih besar, untuk inisiatif-inisiatif yang lebih besar, yang memerlukan koordinasi antar bagian, akan sulit dan memakan waktu dalam sistem tanpa hierarki.

Dikutip dari : Chandra, Meisia. 2016. Infokomputer.

Read More
TOP

UKM harus Kreatif Kemas Produk dan Berani Mengeksekusi

Salah satu modal utama UKM agar sukses di pasar yang kompetitif adalah kreativitas. Selain kreatif dalam strategi, pelaku UKM harus kreatif juga dalam produk yang ia jual dan pasarkan.

Manajemen produk yang kreatif bakal memberi nilai tambah dari merek yang ia tawarkan kepada konsumennya. Dalam pemasaran, diferensiasi suatu produk / jasa dapat diwujudkan dalam tiga hal yakni, konten, konteks (kemasan /cara penyajian) dan infrastruktur (toko, fasilitas dll).

Dikutip dari : Kurniawan, Sigit. 2016. Marketeers.

Read More
TOP

Selangkah Lebih Dekat dengan Para Advocates

Meski bukan hal baru, Community Marketing masih layak dilakukan perusahaan atau brand. Apalagi saat ini, customer path telah berubah. Advokasi lebih penting ketimbang pembelian kembali. Namun bukan hal yang mudah untuk menumbuh kembangkan advokasi. Kita sebagai perusahaan, pemilik brand atau pemasar tidak bisa meminta atau bahkan memaksa para konsumen untuk sukarela menjadi advocates kita. Apalagi jika mereka tidak cinta, belum mendapat manfaat dan nilai lebih dari produk kita.

Daripada membuang tenaga dan biaya yang berlebih, Community Marketing bisa menjadi pilihan. Ini adalah strategi marketing dengan mendekati para komunitas yang ada. Bentuknya pun beragam, mulai dari komunitas yang dibuat oleh perusahaan atau brand hingga komunitas independen, dari berbagai sektor industri. Dengan masuk ke komunitas, kita tidak perlu memilah-milah konsumen yang ada sebab, kita sudah mengetahui apa alasan mereka berkumpul. Sebagai brand pun kita harus membuka diri. Biarkanlah mereka menjadi bagian dari merek kita, menjadikan mereka sebagai sentral dan membuka kesempatan bagi mereka untuk memiliki brand mereka.

Komunitas di Indonesia tidak akan pernah mati, sehingga dengan Community Marketing, maka andapun selangkah di depan dalam mendekati dan menghasilkan advocates bagi perusahaan atau brand anda.

Dikutip dari : Setiawan, Iwan. 2016. Marketeers.

Read More
TOP

Menumbuh Suburkan Mentalitas Founder di Perusahaan

Anda mungkin sudah sering mendengar pentingnya merekrut karyawan dengan mindset founder. Hal ini cukup populer di kalangan startup teknologi. Salah satu yang sering mengkampanyekan founder’s mindset adalah Reid Hoffman (Co – Founder Linkedin).

Salah satu alasan yang membuat banyak karyawan terbaik meninggalkan perusahaan adalah mereka merasa kurangnya penghargaan dan reward atas pekerjaannya yang telah dilakukan dengan baik, selain itu juga adanya penyebab faktor internal lainnya, yakni melebarnya jarak dengan front lines, kehilangan akuntabilitas dan tumbuh suburnya birokrasi.

Setiap pemilik perusahaan pastilah senang memiliki karyawan dengan perilaku seperti founder. Beberapa contoh cara berpikir seperti founder dari pengalaman sehari-hari misalnya :

  • Founder cenderung berpikir dalam “big picture”, mereka menunjukkan rasa ingin tahu pada semua aspek dalam bisnis.
  • Founder biasanya sangat fokus pada apa yang dikerjakan dan bisa mengatakan tidak pada hal lain yang berada di luar fokus utama.
  • Founder adalah owner, tentu saja rasa memilikinya tinggi.
  • Founder juga biasanya adalah pemimpin yang hebat, yang bisa menginspirasi munculnya perilaku terbaik dari timnya.
  • Founder selalu menentang birokrasi dan tidak menerima status quo dalam mencapai visi mereka.

Melalui penelitian selama satu dekade terhadap sejumlah perusahaan di lebih dari empat puluh negara, Zook dan Allen (Bain & Company) menemukan kuatnya hubungan antara mentalitas founder dengan kemampuan perusahaan mempertahankan kinerja yang baik. Hal ini terjadi tidak hanya di perusahaan startup saja, tetapi pada berbagai tipe perusahaan yang lain. Mereka memformulasikan sifat-sifat yang termasuk dalam mentalitas founder yaitu:

  • Memiliki misi dan tujuan yang berani.
  • Obsesi yang tanpa ampun dengan barisan depan. Sebagian besar founder adalah salesperson pertama di perusahaan sehingga mereka sangat tertarik pada setiap detail dalam pengalaman customer dan cenderung menggunakan insting yang terbangun dari pengalaman front liner ini dalam membuat keputusan.
  • Memiliki mentalitas owner yang kuat.

Sebagai leader, inilah yang harus anda lakukan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung berkembangnya jiwa entrepreneurship dan mentalitas founder pada tim anda:

  • Secara aktif mendorong percakapan. Makin banyaknya hierarki, akan dapat menyulitkan seorang karyawan menyampaikan ide dan aspirasinya. Tidak jarang mereka merasa tak berdaya serta frustasi dengan politik internal sehingga dapat menyebabkan seorang karyawan yang aspiratif hengkang.
  • Menindaklanjuti ide.
  • Mengizinkan kegagalan dan resiko.
  • Memberi reward pada inovasi

Dikutip dari : Chandra, Meisia. 2016, Infokomputer.

Read More
TOP

10 Karakter Generasi Millenials

Generasi ini adalah generasi yang tumbuh pada abad millenium 2000, seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang secara signifikan mengubah wajah dunia. Populasi Generasi Millenials Indonesia, sangat menggiurkan para pelaku bisnis dan pemasar di Indonesia, karena itulah penting bagi pemasar dan pelaku bisnis untuk memahami karakter dan perilaku generasi digital ini. Berikut ini merupakan 10 karakter dari Generasi Millenials tersebut :

1. Melek Digital

Mereka adalah pengguna terbesar media sosial, karena melek digital Generasi Millenials mudah mengekspresikan diri di akun sosial media mereka.

2. Konsumtif

Mereka menempatkan berbelanja, traveling, membeli tiket konser dan film sebagai prioritas. Sifat konsumtif ini terbentuk karena kemudahan mereka dalam mendapatkan pinjaman melalui kartu kredit dan kemudahan berbelanja secara online. Perilaku konsumtif Generasi Millenials, juga dipicu oleh sosial media yang menuntut mereka untuk selalu mengupdate dan memposting apa yang sudah mereka belanjakan pada akun sosial media mereka. “Tingkat konsumtif mereka bahkan melebihi penghasilan mereka setiap bulan. Dalam satu bulan mereka dapat membeli dua snicker”, kata Anton Wirjono Founder Retail Fashion The Goods Dept. Anton menceritakan bagaimana Generasi Millenials memperjuangkan sepatu Nike limited edition dari Kanye West yang hanya dijual 35 pasang. “Pada program itu, Generasi Millenials yang berminat mencapai 1.200 orang. Mereka memiliki kebanggann tersendiri kalau bisa mendapatkan sesuatu yang tidak bisa didapatkan peers mereka, untuk kemudian dipamerkan melalui akun sosial media mereka”.

3. Saving untuk Sesuatu yang Diimpikan

Meski Generasi Millenials tergolong segmen konsumtif, mereka suka menabung. Jika generasi sebelumnya menabung untuk berjaga-jaga, dalam arti uang yang ditabung digunakan sebagai cadangan untuk semua keperluan yang tidak pasti atau tidak terduga di masa depan, maka Generasi Millenials menabung untuk keperluan yang sudah pasti. Tipe menabung Generasi Millenials adalah easy come easy go, jadi mereka lebih mudah membelanjakan uang tabungan untuk membeli sesuatu yang ingin mereka miliki atau lakukan. Contoh, tabungan mereka untuk anggaran traveling di akhir tahun atau untuk membeli produk yang mereka idam-idamkan setiap bulannya. Mereka cenderung tidak siap untuk tabungan masa depan, tetapi positifnya mereka tahu apa yang mereka mau dan berusaha keras mewujudkannya.

4. Knowledgeable

Generasi Millenials adalah generasi kritis yang memiliki keingintahuan tinggi. Dengan kemudahan mencari informasi lewat internet maka mereka tahu betul apa yang mereka mau. Mereka akan mencari tahu terlebih dahulu informasi sebelum mereka melakukan pembelian.

5. Digital sebagai Media Komunikasi

Generasi Millenials lebih senang berlama-lama di sosial media dan digital. Oleh karena itu berkomunikasi dengan Generasi Millenials lebih efektif menggunakan media digital dan sosial media. Generasi Millenials juga menuntut dalam berkomunikasi di media sosial dan digital dengan cara-cara yang kreatif dan interaktif yang dapat melibatkan mereka. Oleh karena itu, mereka menyukai konten kreatif yang sifatnya newness atau kekinian, coolness dan otentik. Bahkan Generasi Millenials memilih menjadikan influencer sebagai “Hero-nya”, contohnya influencer di sosial media Instagram.

6. Menjadi Entrepreneur tanpa Persiapan

Gaji tinggi dan menjadi karyawan di perusahaan yang mentereng, tidak lagi menjadi daya tarik Generasi Millenials, sebab kemudahan terutama di dunia digital dan dijejali dengan cerita-cerita suskes para start up, menjadikan Generasi Millenials lebih tertarik menjadi entrepreneur. Sayangnya, obsesi menjadi entrepreneur ini kadang dilakukan tanpa persiapan, yang pada akhirnya berujung pada kegagalan. Generasi Millenials ini hanya bersemangat di awal, mereka juga sudah punya karakter hard working, tetapi how to nya tidak dipikirkan. Padahal sudah ada kemudahan di era digital dalam mencari tahu how to. Selain itu, kemampuan pendukung atau skillnya kurang. Kemalasan itulah yang menghambat kesuksesan mereka. Menjadi entrepreneur saat ini memang lebih mudah, karena bisa berpromosi tanpa keluar banyak biaya, cukup melalui medsos. Namun, data menunjukkan bahwa 90% start up gagal. Hal ini karena mereka hanya membayangkan hasil akhir dan melupakan proses. Contohnya, semua orang melihat Google yang sukses, tetapi jatuh bangunnya Google tidak dilihat.

7. Mengutamakan Fasilitas dan Apresiasi di Dunia Kerja

Generasi Millenials lebih memilih fasilitas dan diapresiasi, serta tidak menempatkan gaji besar sebagai poin yang utama. Contohnya saja, karyawan Generasi Millenials ingin suasana kantor yang tidak terlalu serius, menyerupai play ground layaknya kantor Google. Mereka juga ingin diperlakukan berbeda, misal dengan memberikan apresiasi berupa tiket perjalanan bisnis ke luar negeri yang limited atau hanya dia sendiri yang memperolehnya.

8. Rise of The Experiential

Bagi generasi sebelum Generasi Millenials, kesuksesan seseorang amat dilihat dari keberhasilan mereka dalam memiliki hal-hal berbau materi. Indikator kesuksesan pada Generasi Millenials dinilai dari seberapa banyak materi yang dimiliki.  Namun, hal ini telah berubah pada Generasi Millenials, kesuksesan mereka dinilai dari seberapa banyak pengalaman hidup mereka. Semakin banyak mereka melakukan kegiatan-kegiatan unik maka mereka merasa dirinya semakin sukses pula. Maka dari itu, kini mereka menghargai pengalaman-pengalaman dibandingkan sekedar material, baik itu berupa uang maupun benda. Hal ini dapat dimanfaatkan oleh pemasar atau pengiklan, berdasarkan survei Eventbrite pada 2014, ada beberapa fakta unik memperkuat argumen mereka, bahwa Generasi Millenials sangat menghargai pengalaman. Sebesar 78% dari Generasi Millenials mengeluarkan uang untuk membeli pengalaman baru dibandingkan untuk membeli benda-benda yang mereka inginkan. Sebesar 82% dari mereka mengikuti berbagai pengalaman langsung dalam setahun baik itu konser, lomba dll. 72% ingin meningkatkan pengeluaran mereka untuk pengalaman langsung daripada membeli barang fisik. Pengalaman akan membentuk identitas diri mereka dan menghasilkan memori yang tidak mudah dilupakan dalam hidup mereka.

Singkatnya, Generasi Millenials ingin menjadi seseorang yang berguna dan berpengaruh, mereka ingin didengar oleh banyak orang dan pada akhirnya ingin dijadikan sebagai role model yang selalu jadi panutan bagi lingkungan sekitar. Dalam melihat generasi ini, pemasar harus berhenti melihat dari “vertical silos” karena mereka tidak membutuhkan kesuksesan yang dilihat secara vertikal.

9. Radical Transparency

Generasi Millenials sangat mengapresiasi otentisitas dari suatu produk atau bahkan suatu iklan. Mereka membutuhkan transparansi akan semua hal yang terjadi di sekitarnya. Generasi ini cenderung berbagi segala momen kehidupannya melalui medsos, namun konten yang mereka suka adalah konten yang life time dan otentik. Gerakan-gerakan yang terkini dan otentik tadi bisa menghasilkan WOM yang amat viral di dunia maya. Dengan begitu, brand harus berhati-hati dalam bertindak, baik di dunia nyata maupun digital. Dari sifat tersebut, kini tercipta istilah The Web Esteem, yakni istilah yang merujuk pada kepercayaan diri seseorang di dunia digital. Semakin otentik, jujur dan unik konten yang mereka bagikan di media sosial, maka semakin tinggi pula kepercayaan diri mereka di dunia digital. Kepercayaan ini bisa meningkat apabila engagement dengan para followernya semakin tinggi pula. Semakin unik konten, maka jumlah orang yang menyukai (memberi love, like, comment dll) semakin banyak pula. Hal itu menjadikan indikator untuk kepercayaan diri di dunia digital atau web esteem seseorang. Generasi Millenials lebih mengapresiasi brand yang dengan cepat mengakui kesalahannya daripada brand yang menutup-nutupi kesalahannya. Sekali saja brand buruk maka loyalitas dari Generasi Millenials akan dengan mudah hilang. Tidak masalah apakah kontennya baik atau buruk, tetapi selama konten dikemas dengan otentik dan menarik, maka Generasi Millenials akan menyukainya.

10. Fear of Missing Out (FOMO)

Generasi ini takut tertinggal informasi tentang peristiwa-peristiwa menarik disekitarnya. Mereka amat sering mengechek perangkat selulernya, hanya untuk mengetahui aktivitas apa yang sedang dilakukan oleh teman-temannya, dengan membuka Twitter, Instagram, Path, Facebook dll. Ketakutan yang mereka rasakan adalah ketakutan jika kelompok bermain mereka pergi ke suatu acara maupun tempat, namun tidak mengajaknya ke acara tersebut. Hal tersebut dapat dibuktikan dari sebuah riset mengatakan bahwa 83% dari Generasi Millenials tidur dengan perangkat seluler berada tepat disamping mereka. Hal ini terjadi karena mereka tidak ingin ketinggalan informasi dari lingkungan mereka.

Dari sifat ini brand harusnya bisa memanfaatkan ketakutan mereka, dengan cara membuat acara-acara langsung (live event) yang unik  sehingga tercipta efek viral pada generasi ini. Jika anggota bermain mereka, telah datang ke acara tersebut maka mereka pun akan cenderung untuk ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Selalu ciptakan sebuah acara yang justru meningkatkan tingkat kecemasan akan ditinggal tadi, namun bantu pula mereka agar mereka bisa mengikuti acara tersebut dan menghilangkan kecemasan yang mereka rasakan.

Dikutip dari : MIX Marketing Communication, 2016. Hasil Kompilasi Dosen Fakultas Psikologi UI Ivan Sudjana, M.Psi dan Founder Brightspot Market and The Goods Dept. Anton Wirjono.

Read More
TOP

From Government (G) to Business (B) to People (P)

Diberlakukannya MEA pada akhir 2015 akan mengakibatkan globalisasi bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Globalisasi akan membawa perubahan yang terus menerus dan sering kali tak terduga. Globalisasi adalah tentang perubahan dari masyarakat homogen ke masyarakat yang semakin heterogen dan dari ekonomi tertutup ke ekonomi pasar bebas. Pada saat yang sama, perubahan yang dibawa oleh globalisasi tidak selalu memberikan hasil yang diingankan. Dengan demikian, memahami perubahan dan dampaknya menjadi hal penting untuk dilakukan.

Era pertama dari globalisasi (globalisasi 1.0) dimulai pada tahun 1400 an ketika Cheng Ho berlayar di bagian timur bumi dan Christopher Columbus berlayar di bagian barat bumi dengan tujuan untuk pencarian lahan baru, bahan baku dan perdagangan. Pada saat itu, kekuasaan berada di tangan-tangan orang yang memiliki kendali atas orang lain (kekuatan otot).

Era kedua (globalisasi 2.0) muncul pada tahun 1800 an, dimulai dengan era mesin uap yang menyebabkan industrialisasi dan urbanisasi. Pada era ini, pabrik-pabrik mulai bermunculan dan eksplorasi wilayah berubah menjadi penjajahan, perdagangan berubah dari kepemilikan oleh negara menjadi bisnis perorangan, dan kekuasaan bergeser dari mereka yang memiliki sumber daya kepada mereka yang tahu bagaimana memanfaatkan penggunaan sumber daya tersebut.

Era ketiga (globalisasi 3.0) dimulai setelah PD II di pertengahan 1940 an, ketika komputer hadir. lainnya berpendapat bahwa globalisasi 3.0 dimulai pada akhir perang dingin dan dengan dimulainya era internet pada awal 1990 an. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa periode baru globalisasi dipengaruhi secara fundamental oleh perubahan teknologi dan politik.

Di masa lalu, kekuatan dan daya saing sebuah negara dalam aspek ekonomi dan perdagangan global sangat ditentukan oleh keunggulan sumber daya alam yang dimiliki oleh negara tersebut. Keunggulan inilah yang sering disebut sebagai Comparative Advantage. Tetapi pada akhirnya, konsep dan keyakinan tersebut terpatahkan ketika pada pertengahan tahun 1985, Prof. Michael Porter dari Harvard University menyajikan suatu ide dan teori baru, yaitu Competitive Advantage Theory sebagai sumber daya saing menggantikan Comparative Advantage.

Berdasarkan Competitive Advantage Theory tersebut, tinggi rendahnya daya saing suatu negara bukan ditentukan oleh keunggulan kekayaan alam dari negara tersebut, tetapi ditentukan oleh daya saing manusianya. Inilah alasan negara-negara miskin sumber daya alam seperti jepang, Singapura dan Korea Selatan menjadi negara maju dalam hal ekonomi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa saat ini, kunci dalam memenangkan persaingan di era globalisasi adalah terletak pada PEOPLE nya.

 

Dikutip dari : Kartajaya H., Indonesia WOW Markplus WOW We Are WOW, 2015.

 

Read More
TOP

WOW is Productivity and Creativity

Perkembangan teknologi komunikasi tidak dapat disangkal telah mengubah budaya pasar secara umum dan perilaku konsumen secara khusus, karena terkoneksi antara satu dengan lainnya (connectivity era), pasar menjadi semakin terdidik dan konsumen menjadi semakin cerdas dalam mengambil keputusan pembelian. Dulu konsumen melalui tahap : mengenali produk (AWARE), menentukan sikap suka atau tidak (ATTITUDE), memutuskan untuk membeli produk (ACT), kemudian jika puas konsumen akan kembali membeli produk tersebut (ACT AGAIN). Tahapan ini dikenal dengan sebutan 4A. Namun, tahapan ini kemudian mengalami perubahan menjadi 5A dimana urutannya adalah : konsumen mengenali produk (AWARE), merasa tertarik namun belum yakin (APPEAL), bertanya-tanya ke teman, keluarga atau komunitas (ASK), jika teman, keluarga bilang bagus baru memutuskan untuk membeli (ACT), kemudian jika puas konsumen akan merekomendasikan produk kepada konsumen lain (ADVOCATE).

Apakah advokasi dari konsumen kepada konsumen lain dapat dengan mudah diraih oleh produk / perusahaan tertentu? Tentu tidak.

Untuk menggapai itu, produk/perusahaan harus terlebih dahulu membuat konsumen merasakan WOW, yaitu sebuah perasaan terikat (engagement) dengan produk/perusahaan. Lalu, bagaimana cara untuk menciptakan WOW? terdapat dua hal yang harus dilakukan perusahaan untuk mewujudkan WOW yaitu Productivity dan Creativity. Produktif saja tidak cukup jika tidak didukung dengan kreatif, sebaliknya kreatif yang tidak produktif juga percuma. Sebagai sebuah konsep filosofis, produktivitas memiliki arti sebagai pandangan hidup dan sikap mental yang selalu berusaha untuk meningkatkan mutu kehidupan dimana keadaan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan mutu kehidupan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Seluruhnya sangat dipengaruhi oleh faktor : knowledge, skills, abilities, attitudes dan behaviours dari para pekerja yang ada dalam organisasi.

Saat ini, konsep pemasaran telah berkembang sedemikian pesatnya dari yang hanya berorientasi pada harga dan produk menjadi konsep pemasaran yang berorientasi pada pemenuhan “nilai-nilai spiritual (human spiritual)”. Disini, produktivitas perusahaan diukur bukan hanya pada pencapaian laba untuk perusahaan atau pemegang saham melainkan juga pada kemampuannya menyejahterakan konsumen, karyawan, maupun masyarakat sekitar dan bangsa secara umum, dimana pencapaian itu semua tetap memperhatikan dan menjunjung tinggi kelestarian dan kesinambungan lingkungan hidup. Konsep pemasaran yang sangat menjunjung tinggi nilai kejujuran dan kebaikan universal ini dikenal dengan istilah “Marketing 3.0”.

Dengan kondisi Indonesia yang sedang menghadapi MEA ini, selain memaksa prasyarat WOW yaitu produktivitas, perusahaan harus juga memiliki kreativitas. Seorang sales person harus mengoptimalkan waktu yang ia miliki se efektif mungkin untuk prospecting dan approaching pelanggan. Sales person harus kreatif dalam mengelola hubungannya dengan pelanggan dan menjaga kepercayaan yang diberikan, mengingat hari-hari spesial bagi pelanggan serta secara kreatif menggali hasrat dan kegundahan pelanggan yang terdalam.

 

Dikutip dari : Kartajaya, H.., Markplus, 2015.

Read More
TOP

FROM “OK” TO “AHA” TO “WOW”

Dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat saat ini, ditambah lagi dengan mulai diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) semakin banyak perusahaan asing yang berinvestasi dan melakukan kegiatan bisnisnya di Indonesia. Hal ini tentu akan berdampak pada semakin banyaknya alternatif merek produk atau layanan bagi konsumen di Indonesia. Ketika fokus anda saat ini masih menciptakan produk yang berkualitas untuk mengatasi kendala atau kebutuhan konsumen saat ini sebagai diferensiasi merek dari pesaing, maka ekspresi yang kami gambarkan keluar dari konsumen adalah “OK”. Kata “OK” artinya konsumen tidak merasa kecewa tetapi juga tidak merasa puas sekali. Mereka hanya terpuaskan dari sisi produk dan layanan utama saja, mereka tidak merasakan pengalaman pelayanan ketika menggunakan produk anda apalagi values merek anda. Oleh karena itu, “OK” saja tidak cukup. Namun, untuk memenuhi standar fairness dari konsumen anda, mau tidak mau konsumen harus merasa “OK” terlebih dahulu, karena apa yang mereka bayar harus sesuai dengan apa yang mereka dapatkan.

Dalam menghasilkan “OK”, anda harus menciptakan Enjoyment. Enjoyment adalah ketika konsumen merasa needs and wants nya sudah terpenuhi melalui produk atau layanan yang anda berikan. Fokus utama dalam menciptakan Enjoyment tersebut antara lain kualitas dari produk dan layanan, menentukan bagaimana cara untuk mengkomunikasikan keunggulan kualitas tersebut kepada konsumen dan pastikan dapat dinikmati secara konsisten oleh konsumen ketika mereka mengonsumsi produk dan layanan anda kapanpun dan dimanapun.

Dengan berkembangnya waktu, semakin banyak perusahaan yang mulai menyadari bahwa menawarkan produk yang berkualitas saja tidak cukup, karena hal itu mudah ditiru pesaing. Konsumen menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar needs and wants saja, yaitu adanya experience dimana hal tersebut merupakan suatu pengalaman yang memberikan kesan tersendiri bagi konsumen saat menggunakan suatu produk atau jasa perusahaan anda. Untuk membangun sebuah experience diperlukan interaksi yang superior pula, konsumen tidak lagi hanya dipuaskan dengan penawaran utama anda saja, melainkan anda harus bisa memahami expectation and perception konsumen untuk menciptakan hasil “AHA” dari konsumen.

Pada dasarnya experience lebih berdampak panjang daripada enjoyment, karena konsumen akan mengingat pengalaman positif tersebut dan sesuatu yang membekas diingatan seseorang akan bertahan lebih lama. Namun, apakah experience saja cukup untuk menjadi lebih unggul di pasar? Tentu saja jawabannya tidak. Anda memerlukan hal lain, yaitu Engagement, karena ternyata tidak semua memorable experience akan menciptakan engagement. Engagement lebih akan diingat oleh konsumen dalam waktu yang lebih panjang, untuk menciptakan suatu engagement dibutuhkan pengenalan diri konsumen luar dan dalam, anda harus memahami apa yang menjadi anxiety and desire konsumen anda, baru setelah itu terjadi akan tercipta ungkapan “WOW” dari konsumen anda tersebut.

Dikutip dari : Kertajaya. H., Markplus, 2015.

 

Read More
TOP

DATA SCIENTIST : Makin Dilirik Pebisnis

“Seminggu sebelum badai menerjang, Linda Dillman (CIO Wal-Mart) mengontak staffnya untuk memaparkan apa yang harus dilakuakn Wal-Mart dengan stok penjualan. Berdasarkan data saat badai Charley menyerang beberapa waktu sebelumnya, ternyata penjualan Pop Tarts rasa strawbery meningkat tujuh kali, selain itu juga ada bir dan senter. Berbekal informasi ini, gerai Wal-Mart yang berada di daerah yang diperkirakan akan dilalui badai, menambah stok tiga jenis produk tersebut. Hasilnya, ketiga jenis barang ini ludes terjual dalam beberapa hari sebelum badai menerjang”.

Itulah sepintas kegunaan dari Data Science dan khususnya peran Data Scientist. Dengan Data Scientist perusahaan bisa memperkirakan apa yang akan terjadi dan melakukan apa yang dianggap perlu, bukan lagi sekadar menunggu apa yang akan terjadi dan baru bertindak belakangan.

  •  Menceritakan Angka

Sebagaimana halnya pengembang software, pakar SEO, desain grafis serta manajer media sosial yang telah meramaikan dunia bisnis selama bertahun-tahun sebelumnya, TI kini juga diramaikan oleh satu jenis profesi baru, yakni Data Scientist. Apa sih Data Scientist itu? Data Scientist bertugas menafsirkan dan mengubah data menjadi sebuah paparan yang mengisahkan sesuatu. Ketika orang awam hanya menganggap tabel-tabel tidak lebih sebagai sekumpulan angka, Data Scientist akan mengkombinasikan aneka angka ini menjadi sebuah paparan utuh, yang menceritakan sebuah informasi. Mereka lalu akan menggunakan informasi ini untuk membantu bisnis mencapai target dan tujuannya. Dengan melihat berbagai sumber data dan hasil dari pengolahan data ini, Data Scientist mampu menghubungkan aneka informasi untuk membantu perusahaan memahami situasi tertentu dan mengambil keputusan bisnis yang sesuai dengan situasi tersebut.

Data Scientist merupakan kombinasi dari “kemampuan matematika dan pengetahuan analitis” dan bukan sekadar orang yang bisa menjalankan spreadsheet. Oleh sebab itu Data Scientist membutuhkan pendidikan tinggi yang memang berkaitan dengan hal ini. Para pengamat menyatakan bahwa kemampuan yang dimiliki para Data Scientist ini membuatnya sangat dibutuhkan tapi sekaligus sulit di dapat. Keberadaan Data Scientist tergolong langka. Para Data Scientist ibarat “produk” yang banyak dicari pada momen tertentu dan semua orang berlomba mendapatkannya serta bersedia membayar berapapun untuk mendapatkannya.

  • Masih Langka

Data Science merupakan cabang ilmu yang relatif baru, dimana istilah ini baru digulirkan pada sekitar tahun 2001. Di masa kini, penerapan Data Science umumnya  dan Data Scientist khususnya telah berkembang di berbagai industri termasuk keuangan, energi, travel, pemerintahan serta universitas. Profesi Data Scientist lambat laun kian diburu perusahaan diseluruh dunia. Di AS sendiri, permintaan akan Data Scientist tergolong besar namun, tenaga yang bisa mengisi posisi ini tergolong jarang. Tingginya permintaan terhadap Data Scientist ini disebabkan karena industri melihat pentingnya analisis data untuk mendukung pertumbuhan bisnis. Kemampuan untuk memungut data (memahaminya, mengolahnya, mengambil manfaat darinya, memvisualkannya dan mengkomunikasikannya) merupakan keahlian penting dalam dekade mendatang.

  • Siap Memanfaatkan Data Scientist?

Tantangan terbesar dalam mencari dan memperkerjakan Data Scientist adalah memahami apakah bisnis atau usaha anda memang sungguh-sungguh membutuhkan keberadaan Data Scientist ini? Berikut merupakan poin-poin dalam menentukan apakah perusahaan membutuhkan keberadaan Data Scientist atau tidak :

  1. Apakah perusahaan memiliki ekosistem yang tepat?
  2. Apakah budaya perusahaan siap untuk menampung Data Scientist?
  3. Mulailah menjadi seorang Data Scientist
  4. Memanfaatkan mitra

Data Scientist dibagi menjadi dua kategori, yakni Vertical Data Scientist (yaitu orang teknis yang menguasai suatu teknik atau penggunaan aplikasi secara mendalam) serta Horizontal Data Scientist (yaitu orang yang menguasai bisnis atau data driven)

Read More
Skip to toolbar