Menjual Ide Disruptive Ala WeWork



Filed under : Startup

Pengalaman WeWork ketika menjual ide tentang berbagi tempat kerja. Tak banyak yang bisa menerima ide itu karena aneh dan mungkin tidak akan berhasil. Siapa sangka, saat ini perusahaan co-working space itu tumbuh demikian pesat? Bahkan baru-baru ini, mereka dinilai memiliki valuasi US$ 20 miliar!.

WeWork pun menjadi perusahaan startup ketiga paling berharga di AS setelah Uber dan Airbnb. Dengan valuasi setinggi itu WeWork yang merambah bidang real estate, hospitality dan teknologi, saat ini bernilai sama dengan operator hotel internasional Hilton Worldwide. Bagaimana sebuah perusahaan co-workingspace bisa mencapai nilai yang sedemikian fantastis?

Perkembangan Bisnis Fantastis

Dalam waktu tujuh tahun, jumlah karyawannya tumbuh dari hanya dua orang menjadi lebih dari 2000 karyawan. Dikutip dari situs webnya, WeWork kini memiliki 275 kantor di 59 kota. Pada tahun 2017, jumlah anggotanya membengkak lebih dari 15 kali angka di tahun pertama. Saat ini WeWork telah memiliki 20.000 perusahaan dalam daftar kliennya. Segmen pelanggan yang paling cepat bertumbuh justru perusahaan dengan karyawan lebih dari seribu orang, seperti GE, Samsung, Microsoft, IBM, Starbuck dan lainnya.

Tak Hanya Tawarkan Kenyamanan

Namun, bukan semata-mata layanan co-working space yang membuat WeWork demikian berharga. CEO dan Founder WeWork, Adam Neumann, mengatakan pada Forbes, “Tak ada yang mau berinvestasi di perusahaan co-working space dengan nilai US$ 20 miliar. Hal seperti ini tidak ada. Valuasi dan ukuran kami saat ini lebih didasarkan pada energi dan spiritualitas daripada multiplikasi dari revenue”.

Apa yang ditawarkan WeWork bukan hanya interior yang menarik, nyaman dengan penerangan yang memadai ditambah dengan kopi yang enak, yang dijanjikan oleh WeWork adalah sebuah budaya kerja penuh semangat serta suasana kolaborasi. Founder WeWork, Miguel McKelvey sendiri yang memastikan setiap lokasi memiliki look and feel yang membuat orang merasa senang untuk datang ke kantor.

Bagi perusahaan yang sedang berkembang, bekerjasama dengan co-working space berarti tidak perlu repot mencari lokasi, menegosiasikan kontrak, mendesain tempat, dan mencari vendor. WeWork juga memiliki banyak data tentang penggunaan tempat kerja, sehingga ia menjanjikan kepada klien dapat mengelola tempat kerja dengan lebih efektif.

Beberapa perusahaan bahkan mempercayakan sepenuhnya pengelolaan kantor kepada WeWork. Menurut majalah Wired, WeWork mengelola gedung kantor IBM di New York, kantor Airbnb di Berlin, dan Amazon di Boston. Hal ini menunjukkan kekuatan disruptive WeWork yang mungkin akan mengubah cara kita bekerja dan cara perusahaan berhubungan dengan tempat kerja.

Manfaatkan Data

Tidak hanya itu, di pusat Research & Developmentnya, WeWork terus mengembangkan teknologi untuk mengumpulkan data sebanyak mungkin tentang tempat kerja modern. Pengalaman mengelola begitu banyak tempat kerja dan mempelajari bagaimana berbagai bisnis menggunakan tempat kerja memberi WeWork data tentang bagaimana merancang tempat kerja yang paling efektif.

Sejak awal, WeWork mengumpulkan data tentang bagaimana orang bekerja, dimana mereka paling produktif, apa yang mereka butuhkan untuk merasa senang bekerja, berapa banyak ruang yang mereka butuhkan, serta bagaimana penggunaan ruang rapat dll. Belakanga ini, WeWork mulai bereksperimen untuk membuat data menjadi produk baru untuk pelanggan enterprise.

Teknologi inilah yang diyakini sebagai salah satu kekuatan yang mendongkrak nilai WeWork. Ketika bos Softbank, Masayoshi Son berkunjung ke WeWork, ia hanya memiliki waktu 12 menit. CEO Adam Neumann memilih menunjukkan padanya ruang R&D dalam waktu yang sangat singkat tersebut. Kunjungan ke ruang R&D inilah yang diyakini sebagai penentu bagi bos Softbank tersebut untuk menuliskan check senilai US$ 4 miliar.

Dikutip dari : Chandra, M. Februari 2018. Infokomputer.

 

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a reply