UNICORN vs COCKROACH



Filed under : Startup

Pada tahun 2017 ini, Gojek dikabarkan mendapat suntikan dana segar senilai US$ 1,2 miliar dari Tencent. Seakan tak ingin ketinggalan, Tokopedia mendapatkan kuncuran dana senilai US$ 1,1 miliar dari Alibaba Group, sementara Traveloka mendapatkan dana segar dari JD.com senilai US$ 500 juta. Dengan kurs Rp. 13.000 per dollar AS, maka nilai investasi yang diraih ketiga tech startup itu mencapai Rp. 36,4 triliun.

Istilah Unicorn pun tersemat pada ketiga tech startup itu. Unicorn adalah istilah yang diberikan kepada para tech startup yang memiliki valuasi diatas US$ 1 miliar. Dengan adanya ketiga suntikan itu, maka Gojek, Tokopedia dan Traveloka berhasil menjadi Unicorn dari Indonesia.

Istilah Cockroach atau Kecoa muncul sebagai tech startup yang belum mencapai valuasi US$ 1 miliar. Pemain startup pun ada yang menyambut istilah ini, namun ada pula yang menentang. Terlepas dari buruknya istilah itu, Cockroach adalah binatang yang gesit dan tahan banting. Hal ini pula yang tercermin pada para tech startup yang saat ini bermunculan. Cockroach ini juga dapat berarti kecil, dapat bertahan, berorientasi pada profit, dan tidak membakar uang begitu saja. Meski kecil, mereka sebisa mungkin mampu menutup ongkos operasional sehari-hari.

Dimata investor, lebih penting impact daripada valuasi, artinya menjadi besar bukanlah hal yang utama. Sebaliknya, bisnis model yang pas dan bisa memberikan solusi bagi masyarakat jauh lebih penting daripada valuasi. Ketika bisnis sebuah tech startup menarik, bisa menjadi jawaban, dan berkelanjutan, maka pendanaan pun akan datang dengan sendirinya.

 

Dikutip dari: Soeprajitno, H. Oktober 2017. Markeeters

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a reply