Tiga Prediksi “Smart City”



Filed under : Technology

Dr. Renato De Castro (International Advisor, World e-Governments Organization of Cities & Local Governments) memaparkan tiga prediksi tentang Smart City yang harus diketahui para pemimpin kota :

Artificial Intellegence untuk Menanggulangi Resiko Keamanan

Tingkat kriminalitas yang tinggi dan ancaman teroris hanyalah dua dari sekian banyak isu yang harus dihadapi kota di seluruh dunia. Kombinasi antara teknologi dan keamanan berpotensi mengentaskan dan membantu pemerintah kota mengelola isu tersebut. Misalnya dengan mempertimbangkan surveillence system high definition tercanggih untuk dipasang pada jaringan informasi, seperti sosial media, dimana AI mampu memproses data dalam jumlah besar.

Implementasi AI ini tidak hanya dapat memangkas response time saat terjadi situasi genting tetapi juga dapat memprediksi terjadinya kejahatan. Di luar pembahasan tentang kontroversi tindakan monitoring dan privasi, AI berpotensi meningkatkan keselamatan dan keamanan di Smart City untuk kehidupan warga yang lebih nyaman.

Hypercity dan Konsekuensi

PBB menyematkan istilah hypercity pada kawassan pemukiman sekelas conurbation yang menyebar secara besar-besaran dan dihuni oleh lebih dari 20 juta orang. Tokyo menjadi hypercity pertama di dunia pada pertengahan 1960an saat jumlah populasi penduduk di ibu kota Jepang itu melewati batas angka 20 juta. Sampai dengan tahun 2020, lebih banyak hypercity akan bermunculan seperti Mumbai, Delhi, Mexico City, Sao Paulo, New York, Dhaka, Jakarta dan Lagos.

Conurbation terbentuk ketika batas antar kota makin meluas akibat pertumbuhan populasi, perkembangan industri dan teknologi. Conurbation muncul melalui koalisi atau bergabungnya pusat dari beberapa kota yang berdekatan melalui proses urbanisasi dan pembangunan kawasan yang berjalan terus menerus. Istilah Conurbation diciptakan oleh Patrick Geddes tahun 1915 yang berasal dari kata “continous” dan “urban area”.

Munculnya sejumlah hypercity diperkirakan akan berujung pada terbentuknya district confederations akibat meningkatnya kompetisi antar kota. Bahkan saat ini pun kota-kota besar sudah mulai berlomba-lomba meraih investasi dan sumber daya manusia terbaik untuk meningkatkan daya saing.

Revolusi Industri Keempat dan Akibatnya terhadap Perekonomian

Revolusi industri keempat diramalkan akan menjadi revolusi paling disruptif. Di era ini, transformasi dapat dikelompokkan menjadi empat dimensi yang unik dan sangat berbeda.

Creative Economy

Menggunakan kreativitas untuk memberi nilai tambah terhadap ekonomi lokal. Profesor & Head of Martin Prosperity Institute di Rotman School of Management University Toronto, Richard Florida mengaitkan bertambah makmurnya klaster-klaster teknologi tinggi, seperti Sillicon Valley di California, Austin Technology Cluster di Texas dan East London Tech City sebagai indikator kebangkitan kelas (masyarakat) kreatif.

Sharing Economy

Layanan seperti yang diberikan Airbnb dan Uber telah mengguncang pasar tradisional. Layanan-layanan baru itupun akan mempengaruhi rantai produksi dan distribusi global, serta mendorong model-model bisnis dan inovasi baru, terutama yang mendukung konsep “access over ownership”.

Circular Economy

Sebuah ekonomi dimana tidak ada ruang bagi pemborosan. Hal itu dicapai melalui kesadaran mendaur ulang sumber daya untuk menjamin lingkungan yang berkelanjutan dalam jangka panjang. Hal ini tentu sangat kontras dengan model produksi linear yang kita anut saat ini. Model produksi linear akan mengubah bahan mentah menjadi barang siap pakai yang akhirnya akan menjadi limbah.

Co-Creation

Perusahaan-perusahaan startup menyambut kolaborasi dengan semua stakeholder, karyawan, supplier, pelanggan bahkan pesaing. Konsep ini dapat dikembangkan untuk merangkul co-creation warga kota dengan pengelolaan oleh publik untuk meningkatkan kualitas hidup.

Perubahan-perubahan besar ini ditandai oleh perspektif baru tentang implikasi waktu dan ruang karena kemampuan teknologi dalam menjembatani domain fisik, digital dan biologis. Teknologi hanyalah sebuah kendaraan untuk berubah. Adopsi teknologi harus dilakukan secara menyeluruh, inklusif dan komplit di setiap tingkatannya untuk meraih kesuksesan implementasi proyek Smart City.

 

Dikutip dari : Infokomputer, Maret 2017.

 

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a reply