10 Karakter Generasi Millenials

Generasi ini adalah generasi yang tumbuh pada abad millenium 2000, seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang secara signifikan mengubah wajah dunia. Populasi Generasi Millenials Indonesia, sangat menggiurkan para pelaku bisnis dan pemasar di Indonesia, karena itulah penting bagi pemasar dan pelaku bisnis untuk memahami karakter dan perilaku generasi digital ini. Berikut ini merupakan 10 karakter dari Generasi Millenials tersebut :

1. Melek Digital

Mereka adalah pengguna terbesar media sosial, karena melek digital Generasi Millenials mudah mengekspresikan diri di akun sosial media mereka.

2. Konsumtif

Mereka menempatkan berbelanja, traveling, membeli tiket konser dan film sebagai prioritas. Sifat konsumtif ini terbentuk karena kemudahan mereka dalam mendapatkan pinjaman melalui kartu kredit dan kemudahan berbelanja secara online. Perilaku konsumtif Generasi Millenials, juga dipicu oleh sosial media yang menuntut mereka untuk selalu mengupdate dan memposting apa yang sudah mereka belanjakan pada akun sosial media mereka. “Tingkat konsumtif mereka bahkan melebihi penghasilan mereka setiap bulan. Dalam satu bulan mereka dapat membeli dua snicker”, kata Anton Wirjono Founder Retail Fashion The Goods Dept. Anton menceritakan bagaimana Generasi Millenials memperjuangkan sepatu Nike limited edition dari Kanye West yang hanya dijual 35 pasang. “Pada program itu, Generasi Millenials yang berminat mencapai 1.200 orang. Mereka memiliki kebanggann tersendiri kalau bisa mendapatkan sesuatu yang tidak bisa didapatkan peers mereka, untuk kemudian dipamerkan melalui akun sosial media mereka”.

3. Saving untuk Sesuatu yang Diimpikan

Meski Generasi Millenials tergolong segmen konsumtif, mereka suka menabung. Jika generasi sebelumnya menabung untuk berjaga-jaga, dalam arti uang yang ditabung digunakan sebagai cadangan untuk semua keperluan yang tidak pasti atau tidak terduga di masa depan, maka Generasi Millenials menabung untuk keperluan yang sudah pasti. Tipe menabung Generasi Millenials adalah easy come easy go, jadi mereka lebih mudah membelanjakan uang tabungan untuk membeli sesuatu yang ingin mereka miliki atau lakukan. Contoh, tabungan mereka untuk anggaran traveling di akhir tahun atau untuk membeli produk yang mereka idam-idamkan setiap bulannya. Mereka cenderung tidak siap untuk tabungan masa depan, tetapi positifnya mereka tahu apa yang mereka mau dan berusaha keras mewujudkannya.

4. Knowledgeable

Generasi Millenials adalah generasi kritis yang memiliki keingintahuan tinggi. Dengan kemudahan mencari informasi lewat internet maka mereka tahu betul apa yang mereka mau. Mereka akan mencari tahu terlebih dahulu informasi sebelum mereka melakukan pembelian.

5. Digital sebagai Media Komunikasi

Generasi Millenials lebih senang berlama-lama di sosial media dan digital. Oleh karena itu berkomunikasi dengan Generasi Millenials lebih efektif menggunakan media digital dan sosial media. Generasi Millenials juga menuntut dalam berkomunikasi di media sosial dan digital dengan cara-cara yang kreatif dan interaktif yang dapat melibatkan mereka. Oleh karena itu, mereka menyukai konten kreatif yang sifatnya newness atau kekinian, coolness dan otentik. Bahkan Generasi Millenials memilih menjadikan influencer sebagai “Hero-nya”, contohnya influencer di sosial media Instagram.

6. Menjadi Entrepreneur tanpa Persiapan

Gaji tinggi dan menjadi karyawan di perusahaan yang mentereng, tidak lagi menjadi daya tarik Generasi Millenials, sebab kemudahan terutama di dunia digital dan dijejali dengan cerita-cerita suskes para start up, menjadikan Generasi Millenials lebih tertarik menjadi entrepreneur. Sayangnya, obsesi menjadi entrepreneur ini kadang dilakukan tanpa persiapan, yang pada akhirnya berujung pada kegagalan. Generasi Millenials ini hanya bersemangat di awal, mereka juga sudah punya karakter hard working, tetapi how to nya tidak dipikirkan. Padahal sudah ada kemudahan di era digital dalam mencari tahu how to. Selain itu, kemampuan pendukung atau skillnya kurang. Kemalasan itulah yang menghambat kesuksesan mereka. Menjadi entrepreneur saat ini memang lebih mudah, karena bisa berpromosi tanpa keluar banyak biaya, cukup melalui medsos. Namun, data menunjukkan bahwa 90% start up gagal. Hal ini karena mereka hanya membayangkan hasil akhir dan melupakan proses. Contohnya, semua orang melihat Google yang sukses, tetapi jatuh bangunnya Google tidak dilihat.

7. Mengutamakan Fasilitas dan Apresiasi di Dunia Kerja

Generasi Millenials lebih memilih fasilitas dan diapresiasi, serta tidak menempatkan gaji besar sebagai poin yang utama. Contohnya saja, karyawan Generasi Millenials ingin suasana kantor yang tidak terlalu serius, menyerupai play ground layaknya kantor Google. Mereka juga ingin diperlakukan berbeda, misal dengan memberikan apresiasi berupa tiket perjalanan bisnis ke luar negeri yang limited atau hanya dia sendiri yang memperolehnya.

8. Rise of The Experiential

Bagi generasi sebelum Generasi Millenials, kesuksesan seseorang amat dilihat dari keberhasilan mereka dalam memiliki hal-hal berbau materi. Indikator kesuksesan pada Generasi Millenials dinilai dari seberapa banyak materi yang dimiliki.  Namun, hal ini telah berubah pada Generasi Millenials, kesuksesan mereka dinilai dari seberapa banyak pengalaman hidup mereka. Semakin banyak mereka melakukan kegiatan-kegiatan unik maka mereka merasa dirinya semakin sukses pula. Maka dari itu, kini mereka menghargai pengalaman-pengalaman dibandingkan sekedar material, baik itu berupa uang maupun benda. Hal ini dapat dimanfaatkan oleh pemasar atau pengiklan, berdasarkan survei Eventbrite pada 2014, ada beberapa fakta unik memperkuat argumen mereka, bahwa Generasi Millenials sangat menghargai pengalaman. Sebesar 78% dari Generasi Millenials mengeluarkan uang untuk membeli pengalaman baru dibandingkan untuk membeli benda-benda yang mereka inginkan. Sebesar 82% dari mereka mengikuti berbagai pengalaman langsung dalam setahun baik itu konser, lomba dll. 72% ingin meningkatkan pengeluaran mereka untuk pengalaman langsung daripada membeli barang fisik. Pengalaman akan membentuk identitas diri mereka dan menghasilkan memori yang tidak mudah dilupakan dalam hidup mereka.

Singkatnya, Generasi Millenials ingin menjadi seseorang yang berguna dan berpengaruh, mereka ingin didengar oleh banyak orang dan pada akhirnya ingin dijadikan sebagai role model yang selalu jadi panutan bagi lingkungan sekitar. Dalam melihat generasi ini, pemasar harus berhenti melihat dari “vertical silos” karena mereka tidak membutuhkan kesuksesan yang dilihat secara vertikal.

9. Radical Transparency

Generasi Millenials sangat mengapresiasi otentisitas dari suatu produk atau bahkan suatu iklan. Mereka membutuhkan transparansi akan semua hal yang terjadi di sekitarnya. Generasi ini cenderung berbagi segala momen kehidupannya melalui medsos, namun konten yang mereka suka adalah konten yang life time dan otentik. Gerakan-gerakan yang terkini dan otentik tadi bisa menghasilkan WOM yang amat viral di dunia maya. Dengan begitu, brand harus berhati-hati dalam bertindak, baik di dunia nyata maupun digital. Dari sifat tersebut, kini tercipta istilah The Web Esteem, yakni istilah yang merujuk pada kepercayaan diri seseorang di dunia digital. Semakin otentik, jujur dan unik konten yang mereka bagikan di media sosial, maka semakin tinggi pula kepercayaan diri mereka di dunia digital. Kepercayaan ini bisa meningkat apabila engagement dengan para followernya semakin tinggi pula. Semakin unik konten, maka jumlah orang yang menyukai (memberi love, like, comment dll) semakin banyak pula. Hal itu menjadikan indikator untuk kepercayaan diri di dunia digital atau web esteem seseorang. Generasi Millenials lebih mengapresiasi brand yang dengan cepat mengakui kesalahannya daripada brand yang menutup-nutupi kesalahannya. Sekali saja brand buruk maka loyalitas dari Generasi Millenials akan dengan mudah hilang. Tidak masalah apakah kontennya baik atau buruk, tetapi selama konten dikemas dengan otentik dan menarik, maka Generasi Millenials akan menyukainya.

10. Fear of Missing Out (FOMO)

Generasi ini takut tertinggal informasi tentang peristiwa-peristiwa menarik disekitarnya. Mereka amat sering mengechek perangkat selulernya, hanya untuk mengetahui aktivitas apa yang sedang dilakukan oleh teman-temannya, dengan membuka Twitter, Instagram, Path, Facebook dll. Ketakutan yang mereka rasakan adalah ketakutan jika kelompok bermain mereka pergi ke suatu acara maupun tempat, namun tidak mengajaknya ke acara tersebut. Hal tersebut dapat dibuktikan dari sebuah riset mengatakan bahwa 83% dari Generasi Millenials tidur dengan perangkat seluler berada tepat disamping mereka. Hal ini terjadi karena mereka tidak ingin ketinggalan informasi dari lingkungan mereka.

Dari sifat ini brand harusnya bisa memanfaatkan ketakutan mereka, dengan cara membuat acara-acara langsung (live event) yang unik  sehingga tercipta efek viral pada generasi ini. Jika anggota bermain mereka, telah datang ke acara tersebut maka mereka pun akan cenderung untuk ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Selalu ciptakan sebuah acara yang justru meningkatkan tingkat kecemasan akan ditinggal tadi, namun bantu pula mereka agar mereka bisa mengikuti acara tersebut dan menghilangkan kecemasan yang mereka rasakan.

Dikutip dari : MIX Marketing Communication, 2016. Hasil Kompilasi Dosen Fakultas Psikologi UI Ivan Sudjana, M.Psi dan Founder Brightspot Market and The Goods Dept. Anton Wirjono.

This entry was posted in Bisnis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *