ayouviward Make Today Amazing | Happy Mind Happy Life

13Jun/160

Model WOW Leadership

Waktu memang menjadi hal yang mahal bagi para pemimpin, begitu juga yang dialami Retno Marsudi, Duta Besar Indonesia untuk Belanda sebelum ia diangkat menjadi Menteri Luar Negeri RI. Namun, kesibukannya tidak membuat Retno mengabaikan kesehatan fisiknya. Disela-sela aktivitasnya di dunia internasional Retno selalu berusaha meluangkan waktu untuk melakukan olahraga. Selain olahraga, Retno juga menjaga istirahat yang cukup, ia memahami benar pentingnya menjaga aspek fisik bagi seorang pemimpin. Tanpa FISIK yang prima, tugas-tugas berat seorang pemimpin tidak akan bisa dijalankan dengan optimal.

Saat lulus sebagai wisudawati termuda di Fisipol UGM, Retno telah mulai menunjukkan keistimewaannya secara INTELEKTUAL. Perjalanan kariernya bertahun-tahun kemudian semakin menegaskan bahwa ia bukan sekadar tokoh intelektual yang pandai menjawab soal ujian diatas kertas, namun juga piawai dalam memecahkan masalah-masalah praktis di lapangan. Srikandi satu ini berperan besar dalam perundingan yang menghasilkan keputusan diizinkannya maskapai penerbangan Indonesia terbang kembali di langit Uni Eropa dan Amerika Serikat. Diplomasi tingkat tinggi semacam ini tentu membutuhkan kreativitas dalam berdiplomasi.

Ada persepsi umum bahwa negosiasi adalah pekerjaan kaum laki-laki. Dunia dianggap serba rasional, apalagi jika kita berbicara tentang negosiasi antara dua negara, yang terbayang di dalam benak kita pastilah tawar-menawar yang didasari oleh logika. Namun, pengalaman Retno membantah hal ini. Retno sangat percaya pada kekuatan personal relationship di dalam negosiasi. Meskipun negosiasi terjadi antara dua negara, namun negosiatornya tetaplah seorang manusia. Sebelum melakukan negosiasi, persiapan-persiapan khusus akan dilakukannya yaitu mempelajari karakter dari mitra negosiasinya, data personal ia pelajari untuk memahami karakter mereka, tidak hanya itu ia juga berusaha menempatkan diri di posisi mitra negosiasi untuk memahami tawaran minimal yang akan mereka terima. Inilah contoh kemampuan EMOTIONALITY dari seorang WOW leader. Agar bisa menyebarkan pengaruh secara efektif kepada orang lain, seorang pemimpin harus bisa melakukan olah rasa, tidak sekadar olah rasio.

Selama ini persepsi di kalangan pemerintah bahwa bekerja sama dengan LSM itu sulit. Namun, pengalaman Retno membantah persepsi tersebut. Kemampuan untuk menjalin hubungan dengan pihak yang beragam (SOCIABILITY) adalah salah satu atribut kepemimpinan yang dibutuhkan oleh seorang WOW leader. Pemimpin semacam ini bisa mengatasi dua jebakan yang lazim dihadapi saat seseorang melakukan networking : jebakan kesamaan (similarity trap) dan jebakan kedekatan (proximity trap).

Pengalaman hidup yang penuh lika - liku serta tanjakan dalam mencapai tujuan menjadikan Retno terbiasa dengan situasi sulit. Sebagai seorang pemimpin, ia tidak mudah patah arang dan mundur ke belakang saat menghadapi tantangan. Kemampuan memotivasi diri sendiri (SELF - MOTIVATION) memang merupakan salah satu atribut kepemimpinan yang harus dimiliki seorang leader.

Rasa RESPONSIBILITY yang besar pula yang dapat menjadikan kariernya menanjak tajam, selain itu pemimpin juga mutlak memiliki INTEGRITY yaitu tidak boleh ada kesenjangan antara kata dan perbuatan.

 

 

Filed under: What's Up No Comments
8Jun/160

Belajar dari Korea Selatan

Korea Selatan kini telah menjadi perhatian dunia dan menjelma menjadi satu dari lima belas negara dengan ekonomi terkuat di dunia, dilihat dari nominal GDPnya. Jika melihat Korea Selatan saat ini, sulit rasanya untuk percaya bahwa pada tahun 1970 an kehidupan di Seoul, Korea Selatan dan Pyongyang, Korea Utara sulit dibedakan. Sebagai negara agraris yang miskin dengan keterbatasan sumber daya alam, satu-satunya modal yang dapat digunakan untuk mengubah ekonomi dan masyarakat Korea Selatan adalah masyarakat Korea Selatan itu sendiri, dan mereka menyadari pentingnya peran pemerintah untuk mengoptimalkan potensi masyarakat di negaranya.

Korea Selatan mengawali perubahan besar ketika presiden pada saat itu Kim Dae Jung, melihat bahwa krisis Asia 1997 telah meluluhlantahkan Korea dan menyisakan sedikit modal yang dapat digunakan untuk memperbaiki keadaan. Melihat hal itu, Presiden Kim Dae Jung memutuskan untuk menjadikan Korea Selatan sebagai eksportir berkelas dunia untuk budaya mereka sendiri yang disebut "Hallyu". Rencana presiden saat itu terdengar aneh, tetapi siapa sangka hampir dua dekade kemudian Korea Selatan telah berhasil mewujudkan hal tersebut. Saat ini Hallyu telah menghasilkan miliaran US Dollar bagi Korea Selatan.

Dengan hallyu, yang saat ini lebih dikenal dengan istilah Korean Wave, Korea Selatan telah menjelma menjadi negara dengan industri populer (industri pop) yang mendunia. Korean Wave terus tersebar sehingga menjadikan negara ini semakin dikenal dunia. Budaya, pakaian, makanan dan apa saja tentang Korea Selatan cepat sekali menjadi tren yang sangat digemari dunia, termasuk Indonesia. Tak hanya sampai situ, ambisi pemerintah Korea Selatan untuk menjadi negara eksportir Hallyu bagi seluruh dunia juga terlihat dari komitmen pemerintah yang mengalokasikan  APBNnya sebesar 1% untuk subsidi dan pinjaman dengan bunga rendah kepada sektor industri pop di negeri tersebut.

Mendapat dukungan dari pemerintah, dunia bisnis Korea khususnya industri pop Korea mulai bergeliat dan terus tumbuh. Tiga besar perusahaan agensi disana SM, YG dan JYP berperan penting  dalam mengekspor artis-artis Korea Selatan ke berbagai negara. Perusahaan-perusahaan agensi di Korea Selatan biasanya menggunakan Youtube untuk memperkenalkan musik baru dan artis-artis mereka.

Industri pop telah mengubah mental masyarakat di Korea Selatan. Saat ini mimpi terbesar masyarakat negeri itu adalah menjadi artis dan bagian dari industri pop yang terus berkembang dan menjanjikan kehidupan yang lebih baik, tetapi tentu saja hal itu tidaklah mudah. Persaingan yang keras menuntut perusahaan agensi menetapkan standar yang sangat tinggi bagi artisnya. Sifat kompetitif, disiplin tinggi, kerja keras dan pantang menyerah merupakan syarat yang harus dimiliki oleh pelaku di dunia pop Korea, dan tanpa disadari hal tersebut telah menjadi nilai dan dianut oleh masyarakat Korea Selatan.

 

Filed under: What's Up No Comments
8Jun/160

From Government (G) to Business (B) to People (P)

Diberlakukannya MEA pada akhir 2015 akan mengakibatkan globalisasi bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Globalisasi akan membawa perubahan yang terus menerus dan sering kali tak terduga. Globalisasi adalah tentang perubahan dari masyarakat homogen ke masyarakat yang semakin heterogen dan dari ekonomi tertutup ke ekonomi pasar bebas. Pada saat yang sama, perubahan yang dibawa oleh globalisasi tidak selalu memberikan hasil yang diingankan. Dengan demikian, memahami perubahan dan dampaknya menjadi hal penting untuk dilakukan.

Era pertama dari globalisasi (globalisasi 1.0) dimulai pada tahun 1400 an ketika Cheng Ho berlayar di bagian timur bumi dan Christopher Columbus berlayar di bagian barat bumi dengan tujuan untuk pencarian lahan baru, bahan baku dan perdagangan. Pada saat itu, kekuasaan berada di tangan-tangan orang yang memiliki kendali atas orang lain (kekuatan otot).

Era kedua (globalisasi 2.0) muncul pada tahun 1800 an, dimulai dengan era mesin uap yang menyebabkan industrialisasi dan urbanisasi. Pada era ini, pabrik-pabrik mulai bermunculan dan eksplorasi wilayah berubah menjadi penjajahan, perdagangan berubah dari kepemilikan oleh negara menjadi bisnis perorangan, dan kekuasaan bergeser dari mereka yang memiliki sumber daya kepada mereka yang tahu bagaimana memanfaatkan penggunaan sumber daya tersebut.

Era ketiga (globalisasi 3.0) dimulai setelah PD II di pertengahan 1940 an, ketika komputer hadir. lainnya berpendapat bahwa globalisasi 3.0 dimulai pada akhir perang dingin dan dengan dimulainya era internet pada awal 1990 an. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa periode baru globalisasi dipengaruhi secara fundamental oleh perubahan teknologi dan politik.

Di masa lalu, kekuatan dan daya saing sebuah negara dalam aspek ekonomi dan perdagangan global sangat ditentukan oleh keunggulan sumber daya alam yang dimiliki oleh negara tersebut. Keunggulan inilah yang sering disebut sebagai Comparative Advantage. Tetapi pada akhirnya, konsep dan keyakinan tersebut terpatahkan ketika pada pertengahan tahun 1985, Prof. Michael Porter dari Harvard University menyajikan suatu ide dan teori baru, yaitu Competitive Advantage Theory sebagai sumber daya saing menggantikan Comparative Advantage.

Berdasarkan Competitive Advantage Theory tersebut, tinggi rendahnya daya saing suatu negara bukan ditentukan oleh keunggulan kekayaan alam dari negara tersebut, tetapi ditentukan oleh daya saing manusianya. Inilah alasan negara-negara miskin sumber daya alam seperti jepang, Singapura dan Korea Selatan menjadi negara maju dalam hal ekonomi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa saat ini, kunci dalam memenangkan persaingan di era globalisasi adalah terletak pada PEOPLE nya.

 

Dikutip dari : Kartajaya H., Indonesia WOW Markplus WOW We Are WOW, 2015.

 

Filed under: Bisnis No Comments
3Jun/160

WOW is Productivity and Creativity

Perkembangan teknologi komunikasi tidak dapat disangkal telah mengubah budaya pasar secara umum dan perilaku konsumen secara khusus, karena terkoneksi antara satu dengan lainnya (connectivity era), pasar menjadi semakin terdidik dan konsumen menjadi semakin cerdas dalam mengambil keputusan pembelian. Dulu konsumen melalui tahap : mengenali produk (AWARE), menentukan sikap suka atau tidak (ATTITUDE), memutuskan untuk membeli produk (ACT), kemudian jika puas konsumen akan kembali membeli produk tersebut (ACT AGAIN). Tahapan ini dikenal dengan sebutan 4A. Namun, tahapan ini kemudian mengalami perubahan menjadi 5A dimana urutannya adalah : konsumen mengenali produk (AWARE), merasa tertarik namun belum yakin (APPEAL), bertanya-tanya ke teman, keluarga atau komunitas (ASK), jika teman, keluarga bilang bagus baru memutuskan untuk membeli (ACT), kemudian jika puas konsumen akan merekomendasikan produk kepada konsumen lain (ADVOCATE).

Apakah advokasi dari konsumen kepada konsumen lain dapat dengan mudah diraih oleh produk / perusahaan tertentu? Tentu tidak.

Untuk menggapai itu, produk/perusahaan harus terlebih dahulu membuat konsumen merasakan WOW, yaitu sebuah perasaan terikat (engagement) dengan produk/perusahaan. Lalu, bagaimana cara untuk menciptakan WOW? terdapat dua hal yang harus dilakukan perusahaan untuk mewujudkan WOW yaitu Productivity dan Creativity. Produktif saja tidak cukup jika tidak didukung dengan kreatif, sebaliknya kreatif yang tidak produktif juga percuma. Sebagai sebuah konsep filosofis, produktivitas memiliki arti sebagai pandangan hidup dan sikap mental yang selalu berusaha untuk meningkatkan mutu kehidupan dimana keadaan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan mutu kehidupan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Seluruhnya sangat dipengaruhi oleh faktor : knowledge, skills, abilities, attitudes dan behaviours dari para pekerja yang ada dalam organisasi.

Saat ini, konsep pemasaran telah berkembang sedemikian pesatnya dari yang hanya berorientasi pada harga dan produk menjadi konsep pemasaran yang berorientasi pada pemenuhan "nilai-nilai spiritual (human spiritual)". Disini, produktivitas perusahaan diukur bukan hanya pada pencapaian laba untuk perusahaan atau pemegang saham melainkan juga pada kemampuannya menyejahterakan konsumen, karyawan, maupun masyarakat sekitar dan bangsa secara umum, dimana pencapaian itu semua tetap memperhatikan dan menjunjung tinggi kelestarian dan kesinambungan lingkungan hidup. Konsep pemasaran yang sangat menjunjung tinggi nilai kejujuran dan kebaikan universal ini dikenal dengan istilah "Marketing 3.0".

Dengan kondisi Indonesia yang sedang menghadapi MEA ini, selain memaksa prasyarat WOW yaitu produktivitas, perusahaan harus juga memiliki kreativitas. Seorang sales person harus mengoptimalkan waktu yang ia miliki se efektif mungkin untuk prospecting dan approaching pelanggan. Sales person harus kreatif dalam mengelola hubungannya dengan pelanggan dan menjaga kepercayaan yang diberikan, mengingat hari-hari spesial bagi pelanggan serta secara kreatif menggali hasrat dan kegundahan pelanggan yang terdalam.

 

Dikutip dari : Kartajaya, H.., Markplus, 2015.

Filed under: Bisnis No Comments
   
Skip to toolbar