Survei yang digelar SWA bekerja sama dengan Ipsos dan Dunamis Intermaster untuk memilih The Best CEO bertujuan untuk mengungkapkan best practice para pemimpin bisnis terbaik, agar perusahaan di negeri ini bisa saling belajar bagaimana mempersiapkan pemimpin bisnis di masa depan. Pada tahap awal CEO diseleksi berdasarkan kinerja perusahaan yang mereka pimpin selama beberapa tahun terakhir. Selanjutnya, penilaian bukan berdasarkan popularitas para CEO tersebut di mata orang lain atau publik melainkan, penilaian yang dilakukan oleh para karyawan sang CEO sendiri. Dasar pemikirannya, setenar apapun mereka di mata publik, tugas sesungguhnya seorang CEO adalah berjuang bersama karyawannya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama.  Para karyawanlah yang sehari-hari menjadi mitra sang CEO untuk meraih mimpinya. Karena itu, penilaian karyawan menjadi sentral untuk mengukur sejauh mana kualitas seorang pemimpin.

Untuk mencari sekaligus menemukan pemimpin yang ideal di mata karyawannya, survei ini mengungkap empat peran kepemimpinan di mata para karyawan yang berada di lapisan satu dan dua dibawah sang CEO yang disurvei. Keempat peran kepemimpinan tersebut adalah

  1. Peran pemimpin sebagai perintis (pioneer).
  2. Peran pemimpin sebagai penyelaras (alignment) atas seluruh kekuatan dan sumber daya yang ada di dalam organisasi.
  3. Peran pemimpin sebagai pemberdaya (empowerment).
  4. Peran pemimpin sebagai panutan (role model) karyawannya.

Indikator lain untuk menilai fungsi kepemimpinan dalam survei ini adalah kepercayaan (trust) dan eksekusi (execution).

Indikator kepercayaan mencakup : kemampuan seorang pemimpin menciptakan transparansi dalam lingkungan kerja, memegang teguh akuntabilitas diri sendiri atau anggota tim, mau mendengarkan lebih dulu sebelum mengambil keputusan, memberikan kepercayaan kepada orang lain.

Indikator eksekusi mencakup : kemampuan sang pemimpin menciptakan sistem dan proses yang membantu anggota tim dalam menyelesaikan pekerjaannya dengan lebih baik, secara jelas mendefinisikan tujuan yang sangat penting dan menetapkan pengukurannya untuk memantau perkembangannya, bertemu secara teratur untuk mendiskusikan kemajuan dari tujuan yang sangat penting, memberikan pengakuan dan penghargaan kepada anggota tim yang berprestasi.

Selain itu, masih ditambah satu indikator lagi, yakni komitmen karyawan. Asumsinya, kepemimpinan seorang CEO juga berpengaruh pada komitmen karyawan terhadap perusahaan dan pekerjaannya.

Survei ini memang menekankan kemampuan CEO untuk mengeksekusi strategi dengan dukungan para karyawannya. Terdengar sederhana, memang. Namun tidak demikian praktiknya. Pasalnya, jauh lebih mudah menemukan para pemimpin yang jago mengumandangkan visi dahsyat tapi loyo di tingkat eksekusi, ketimbang menjumpai pemimpin bersahaja tetapi berkinerja prima. Apalagi di era digital saat ini, betapa mudahnya para pemimpin mencari referensi visi hebat dan supercanggih yang dilontarkan orang besar dari seantero jagat. Hanya dibutuhkan waktu beberapa menit di depan laptop, tab atau bahkan poonsel untuk melahap beragam pemikiran baru di bidang kepemimpinan beserta visi besarnya.

Survei ini berusaha mencari sekaligus menemukan para CEO “membumi” : para nahkoda bisnis yang betul-betul fokus membereskan segala urusan di bumi bukan sekadar fasih berbicara tentang visi bisnis yang muluk dengan bahasa langit. Urusan di bumi itu antara lain, menyusun strategi bisnis yang hebat sekaligus piawai mengeksekusinya sehingga memberikan maslahat sebesar-besarnya bagi seluruh pemangku kepentingan perusahaan; pemegang saham, karyawan, pelanggan, pemasok, pemerintah dan masyarakat luas.

 

Dikutip dari : Djatmiko, SWA/XXXII/2016

Leave a Comment

Skip to toolbar