The Success Indicator By Mary Ellen Tribby

Have a sense of gratitude : Memiliki rasa syukur

Give other people credit for their victories : Berilah orang lain penghargaan untuk kemenangannya

Read everyday : membaca setiap hari

Talk about ideas : Bicara tentang ide-ide

Share information and data : Membagikan informasi dan data

Exude joy : memancarkan suka cita

Embrace change : Merangkul perubahan

Keep a to do project / list : Konsisten mengerjakan project / list

Compliment : saling melengkapi

Forgive others : memaafkan orang lain

Accept responsibility for their failures : Menerima tanggung jawa atas kegagalannya

Keep a journal : Membuat jurnal

Want others to succed : menginginkan orang lain untuk sukses

Keep a to be list : Membuat jadwal /list

Set goals and develop life plans : Mengatur tujuan dan mengembangkan rencana hidup

Continuously learn : Belajar terus-menerus

Operate from a transformational perspective : menjalankan dari perspektif transformasi

FROM “OK” TO “AHA” TO “WOW”

Dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat saat ini, ditambah lagi dengan mulai diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) semakin banyak perusahaan asing yang berinvestasi dan melakukan kegiatan bisnisnya di Indonesia. Hal ini tentu akan berdampak pada semakin banyaknya alternatif merek produk atau layanan bagi konsumen di Indonesia. Ketika fokus anda saat ini masih menciptakan produk yang berkualitas untuk mengatasi kendala atau kebutuhan konsumen saat ini sebagai diferensiasi merek dari pesaing, maka ekspresi yang kami gambarkan keluar dari konsumen adalah “OK”. Kata “OK” artinya konsumen tidak merasa kecewa tetapi juga tidak merasa puas sekali. Mereka hanya terpuaskan dari sisi produk dan layanan utama saja, mereka tidak merasakan pengalaman pelayanan ketika menggunakan produk anda apalagi values merek anda. Oleh karena itu, “OK” saja tidak cukup. Namun, untuk memenuhi standar fairness dari konsumen anda, mau tidak mau konsumen harus merasa “OK” terlebih dahulu, karena apa yang mereka bayar harus sesuai dengan apa yang mereka dapatkan.

Dalam menghasilkan “OK”, anda harus menciptakan Enjoyment. Enjoyment adalah ketika konsumen merasa needs and wants nya sudah terpenuhi melalui produk atau layanan yang anda berikan. Fokus utama dalam menciptakan Enjoyment tersebut antara lain kualitas dari produk dan layanan, menentukan bagaimana cara untuk mengkomunikasikan keunggulan kualitas tersebut kepada konsumen dan pastikan dapat dinikmati secara konsisten oleh konsumen ketika mereka mengonsumsi produk dan layanan anda kapanpun dan dimanapun.

Dengan berkembangnya waktu, semakin banyak perusahaan yang mulai menyadari bahwa menawarkan produk yang berkualitas saja tidak cukup, karena hal itu mudah ditiru pesaing. Konsumen menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar needs and wants saja, yaitu adanya experience dimana hal tersebut merupakan suatu pengalaman yang memberikan kesan tersendiri bagi konsumen saat menggunakan suatu produk atau jasa perusahaan anda. Untuk membangun sebuah experience diperlukan interaksi yang superior pula, konsumen tidak lagi hanya dipuaskan dengan penawaran utama anda saja, melainkan anda harus bisa memahami expectation and perception konsumen untuk menciptakan hasil “AHA” dari konsumen.

Pada dasarnya experience lebih berdampak panjang daripada enjoyment, karena konsumen akan mengingat pengalaman positif tersebut dan sesuatu yang membekas diingatan seseorang akan bertahan lebih lama. Namun, apakah experience saja cukup untuk menjadi lebih unggul di pasar? Tentu saja jawabannya tidak. Anda memerlukan hal lain, yaitu Engagement, karena ternyata tidak semua memorable experience akan menciptakan engagement. Engagement lebih akan diingat oleh konsumen dalam waktu yang lebih panjang, untuk menciptakan suatu engagement dibutuhkan pengenalan diri konsumen luar dan dalam, anda harus memahami apa yang menjadi anxiety and desire konsumen anda, baru setelah itu terjadi akan tercipta ungkapan “WOW” dari konsumen anda tersebut.

Dikutip dari : Kertajaya. H., Markplus, 2015.

 

DICARI (SELALU) CEO YANG MEMBUMI

Survei yang digelar SWA bekerja sama dengan Ipsos dan Dunamis Intermaster untuk memilih The Best CEO bertujuan untuk mengungkapkan best practice para pemimpin bisnis terbaik, agar perusahaan di negeri ini bisa saling belajar bagaimana mempersiapkan pemimpin bisnis di masa depan. Pada tahap awal CEO diseleksi berdasarkan kinerja perusahaan yang mereka pimpin selama beberapa tahun terakhir. Selanjutnya, penilaian bukan berdasarkan popularitas para CEO tersebut di mata orang lain atau publik melainkan, penilaian yang dilakukan oleh para karyawan sang CEO sendiri. Dasar pemikirannya, setenar apapun mereka di mata publik, tugas sesungguhnya seorang CEO adalah berjuang bersama karyawannya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama.  Para karyawanlah yang sehari-hari menjadi mitra sang CEO untuk meraih mimpinya. Karena itu, penilaian karyawan menjadi sentral untuk mengukur sejauh mana kualitas seorang pemimpin.

Untuk mencari sekaligus menemukan pemimpin yang ideal di mata karyawannya, survei ini mengungkap empat peran kepemimpinan di mata para karyawan yang berada di lapisan satu dan dua dibawah sang CEO yang disurvei. Keempat peran kepemimpinan tersebut adalah

  1. Peran pemimpin sebagai perintis (pioneer).
  2. Peran pemimpin sebagai penyelaras (alignment) atas seluruh kekuatan dan sumber daya yang ada di dalam organisasi.
  3. Peran pemimpin sebagai pemberdaya (empowerment).
  4. Peran pemimpin sebagai panutan (role model) karyawannya.

Indikator lain untuk menilai fungsi kepemimpinan dalam survei ini adalah kepercayaan (trust) dan eksekusi (execution).

Indikator kepercayaan mencakup : kemampuan seorang pemimpin menciptakan transparansi dalam lingkungan kerja, memegang teguh akuntabilitas diri sendiri atau anggota tim, mau mendengarkan lebih dulu sebelum mengambil keputusan, memberikan kepercayaan kepada orang lain.

Indikator eksekusi mencakup : kemampuan sang pemimpin menciptakan sistem dan proses yang membantu anggota tim dalam menyelesaikan pekerjaannya dengan lebih baik, secara jelas mendefinisikan tujuan yang sangat penting dan menetapkan pengukurannya untuk memantau perkembangannya, bertemu secara teratur untuk mendiskusikan kemajuan dari tujuan yang sangat penting, memberikan pengakuan dan penghargaan kepada anggota tim yang berprestasi.

Selain itu, masih ditambah satu indikator lagi, yakni komitmen karyawan. Asumsinya, kepemimpinan seorang CEO juga berpengaruh pada komitmen karyawan terhadap perusahaan dan pekerjaannya.

Survei ini memang menekankan kemampuan CEO untuk mengeksekusi strategi dengan dukungan para karyawannya. Terdengar sederhana, memang. Namun tidak demikian praktiknya. Pasalnya, jauh lebih mudah menemukan para pemimpin yang jago mengumandangkan visi dahsyat tapi loyo di tingkat eksekusi, ketimbang menjumpai pemimpin bersahaja tetapi berkinerja prima. Apalagi di era digital saat ini, betapa mudahnya para pemimpin mencari referensi visi hebat dan supercanggih yang dilontarkan orang besar dari seantero jagat. Hanya dibutuhkan waktu beberapa menit di depan laptop, tab atau bahkan poonsel untuk melahap beragam pemikiran baru di bidang kepemimpinan beserta visi besarnya.

Survei ini berusaha mencari sekaligus menemukan para CEO “membumi” : para nahkoda bisnis yang betul-betul fokus membereskan segala urusan di bumi bukan sekadar fasih berbicara tentang visi bisnis yang muluk dengan bahasa langit. Urusan di bumi itu antara lain, menyusun strategi bisnis yang hebat sekaligus piawai mengeksekusinya sehingga memberikan maslahat sebesar-besarnya bagi seluruh pemangku kepentingan perusahaan; pemegang saham, karyawan, pelanggan, pemasok, pemerintah dan masyarakat luas.

 

Dikutip dari : Djatmiko, SWA/XXXII/2016

DATA SCIENTIST : Makin Dilirik Pebisnis

“Seminggu sebelum badai menerjang, Linda Dillman (CIO Wal-Mart) mengontak staffnya untuk memaparkan apa yang harus dilakuakn Wal-Mart dengan stok penjualan. Berdasarkan data saat badai Charley menyerang beberapa waktu sebelumnya, ternyata penjualan Pop Tarts rasa strawbery meningkat tujuh kali, selain itu juga ada bir dan senter. Berbekal informasi ini, gerai Wal-Mart yang berada di daerah yang diperkirakan akan dilalui badai, menambah stok tiga jenis produk tersebut. Hasilnya, ketiga jenis barang ini ludes terjual dalam beberapa hari sebelum badai menerjang”.

Itulah sepintas kegunaan dari Data Science dan khususnya peran Data Scientist. Dengan Data Scientist perusahaan bisa memperkirakan apa yang akan terjadi dan melakukan apa yang dianggap perlu, bukan lagi sekadar menunggu apa yang akan terjadi dan baru bertindak belakangan.

  •  Menceritakan Angka

Sebagaimana halnya pengembang software, pakar SEO, desain grafis serta manajer media sosial yang telah meramaikan dunia bisnis selama bertahun-tahun sebelumnya, TI kini juga diramaikan oleh satu jenis profesi baru, yakni Data Scientist. Apa sih Data Scientist itu? Data Scientist bertugas menafsirkan dan mengubah data menjadi sebuah paparan yang mengisahkan sesuatu. Ketika orang awam hanya menganggap tabel-tabel tidak lebih sebagai sekumpulan angka, Data Scientist akan mengkombinasikan aneka angka ini menjadi sebuah paparan utuh, yang menceritakan sebuah informasi. Mereka lalu akan menggunakan informasi ini untuk membantu bisnis mencapai target dan tujuannya. Dengan melihat berbagai sumber data dan hasil dari pengolahan data ini, Data Scientist mampu menghubungkan aneka informasi untuk membantu perusahaan memahami situasi tertentu dan mengambil keputusan bisnis yang sesuai dengan situasi tersebut.

Data Scientist merupakan kombinasi dari “kemampuan matematika dan pengetahuan analitis” dan bukan sekadar orang yang bisa menjalankan spreadsheet. Oleh sebab itu Data Scientist membutuhkan pendidikan tinggi yang memang berkaitan dengan hal ini. Para pengamat menyatakan bahwa kemampuan yang dimiliki para Data Scientist ini membuatnya sangat dibutuhkan tapi sekaligus sulit di dapat. Keberadaan Data Scientist tergolong langka. Para Data Scientist ibarat “produk” yang banyak dicari pada momen tertentu dan semua orang berlomba mendapatkannya serta bersedia membayar berapapun untuk mendapatkannya.

  • Masih Langka

Data Science merupakan cabang ilmu yang relatif baru, dimana istilah ini baru digulirkan pada sekitar tahun 2001. Di masa kini, penerapan Data Science umumnya  dan Data Scientist khususnya telah berkembang di berbagai industri termasuk keuangan, energi, travel, pemerintahan serta universitas. Profesi Data Scientist lambat laun kian diburu perusahaan diseluruh dunia. Di AS sendiri, permintaan akan Data Scientist tergolong besar namun, tenaga yang bisa mengisi posisi ini tergolong jarang. Tingginya permintaan terhadap Data Scientist ini disebabkan karena industri melihat pentingnya analisis data untuk mendukung pertumbuhan bisnis. Kemampuan untuk memungut data (memahaminya, mengolahnya, mengambil manfaat darinya, memvisualkannya dan mengkomunikasikannya) merupakan keahlian penting dalam dekade mendatang.

  • Siap Memanfaatkan Data Scientist?

Tantangan terbesar dalam mencari dan memperkerjakan Data Scientist adalah memahami apakah bisnis atau usaha anda memang sungguh-sungguh membutuhkan keberadaan Data Scientist ini? Berikut merupakan poin-poin dalam menentukan apakah perusahaan membutuhkan keberadaan Data Scientist atau tidak :

  1. Apakah perusahaan memiliki ekosistem yang tepat?
  2. Apakah budaya perusahaan siap untuk menampung Data Scientist?
  3. Mulailah menjadi seorang Data Scientist
  4. Memanfaatkan mitra

Data Scientist dibagi menjadi dua kategori, yakni Vertical Data Scientist (yaitu orang teknis yang menguasai suatu teknik atau penggunaan aplikasi secara mendalam) serta Horizontal Data Scientist (yaitu orang yang menguasai bisnis atau data driven)

DATA FABRIC : Merangkai Data di Awan Hibrida

Image result for hybrid cloud

Hybrid Cloud diprediksi akan menjadi the norm bagi organisasi di masa depan. Namun ada satu tantangan dikemukakan para CIO mengenai awan hibrida ini : mengkoneksikan dan mengelola data di berbagai lingkungan di bawah payung Hybrid Cloud.

Infrastruktur Teknologi Informasi (TI) tidak lagi bersifat statis dengan kehadiran cloud. Implementasi cloud telah diagendakan di banyak organisasi tetapi ada beberapa tantangan di tahap eksekusi. Apa yang menjadi kendala untuk memulai cloud deployment? Survei oleh IDG Research Service dan NetApp ini menemukan sebuah alasan : perusahaan tidak mampu mengelola data di lingkungan on-premise dan cloud. Sebanyak 78% responden menempatkan pengelolaan data di berbagai lingkungan cloud pada kategori sangat penting. Tetapi hanya sebanyak 29% responden yakin mereka bisa melakukannya dengan baik.

“Anda dapat meng-outsource aspek komputasi atau aplikasi. Tetapi begitu data tercipta, anda akan terikat padanya selama data itu masih ada. Mengontrol data di data center milik sendiri adalah satu hal, tetapi ketika data tersimpan di berbagai lingkungan yang berbeda, itu masalah lainnya”.

Menurut responden, ada beberapa area data management yang cukup sulit, seperti data protection, application performance dan data governance, dan kendala-kendala itu mengerucut pada satu hal : kurang kontrol. Ketika data tidak lagi berada di data center perusahaan, organisasi TI memiliki sedikit kontrol atau visibilitas terhadap data. Masalah ini kian pelik karena setiap penyedia layanan cloud menggunakan platform, protokol dan sistem yang berbeda. Padahal organisasi TI harus mampu mengelola itu semua demi data. Tantangannya tidak terletak pada penyimpanan data saja tetapi juga bagaimana data berpindah-pindah antar cloud, bagaimana mengakomodasi kebutuhan yang berbeda-beda dan bagaimana mengoptimalkan manfaat elastisitas dan skalabilitas cloud.

Untuk “merangkai” data yang ada di lingkungan hybrid cloud ke dalam satu infrastruktur tunggal dan terintegrasi, NetApp menawarkan solusi data fabric. Ada beberapa elemen kunci yang harus dimiliki pada solusi data fabric untuk mengelola data enterprise secara mulus di lingkungan hybrid cloud :

  • Common Data Management

Sistem pengelolaan data yang bersifat umum akan membantu perusahaan menjaga kinerja bisnis dan operasional di setiap titik cloud.

  • Common Data Transport

Kemampuan ini akan memudahkan perpindahan data dari satu cloud ke cloud lain. Tim TI juga dapat memastikan data berada di tempat dan waktu yang tepat sehingga bisa di akses aplikasi dengan lebih efisien dan efektif biaya.

  • Common Data Format

Format data yang bersifat umum akan mengeliminasi keharusan menulis ulang aplikasi untuk cloud. Organisasi TI juga bisa lebih cepat dan mudah menaruh aplikasi di cloud atau memindahkannya ke lingkungan cloud yang berbeda.

 

Dikutip dari : Threestayanti, L., Infokomputer, 2016

Trojan Horse

Bernama lengkap Trojan Horse atau Kuda Troya, merupakan program berbahaya yang tidak mampu menyebar secara otomatis melainkan membutuhkan campur tangan pengguna agar bisa menyebar. Trojan dirancang untuk memungkinkan penjahat cyber mengakses komputer sasaran secara remote tanpa diketahui penggunanya. Trojan bisa mendekam dalam komputer korbannya via proses unduh (download) situs web yang telah dibobol oleh penyusup via online game atau aplikasi lain yang berasal dari internet.

Saat terpasang, Trojan bisa melakukan banyak hal antara lain menghapus data, memblokir data, memodifikasi data atau menyalin data ke tempat lain tanpa sepengetahuan pengguna.

Trojan Horse berasal dari legenda Yunani saat sekelompok kecil pasukan Yunani bersembunyi dalam sebuah patung kuda besar. Pasukan Yunani meninggalkan patung kuda ini di dekat kota Troya yang dikepungnya. Penduduk kota Troya yang mengira pasukan Yunani mundur kemudian membawa patung kuda ini ke dalam kota dan berpesta pora sampai mabuk merayakan “kemenangannya”. Saat penduduk kota terkapar karena mabuk, pasukan kecil Yunani keluar dari dalam patung, membuka gerbang kota dan memungkinkan pasukan Yunani yang berjumlah lebih besar masuk dan menghancurkan kota.