TOP

Cloud Computing

Dikenal juga sebagai komputasi berdasarkan permintaan (on – demand computing), komputasi awan (cloud computing) merupakan aktivitas komputasi berbasis internet. Artinya proses komputasi (mencakup pengolahan data serta penyimpanan data), sumber daya komputasi dan infrastruktur penunjangnya berada di internet. Pengguna tinggal membayar dan melakukan koneksi ke penyedia komputasi awan untuk menikmati layanan komputasi yang diinginkan. Mengapa dipakai istilah “awan”? Dalam diagram jaringan komputer, para insinyur biasanya menggunakan gambar ilustrasi awan untuk mendeskripsikan sebuah jaringan besar yang tidak diketahui susunan topologinya, infrastrukturnya, serta komponen-komponen di dalamnya. Pendeknya, gambar awan dipakai untuk memudahkan penggambaran akan jaringan lain yang besar di luar jaringan perusahaan, yang tidak perlu dijelaskan secara rinci. Ilustrasi awan bisa merujuk kepada internet, wide area network (WAN) atau metropolitan area network (MAN).

 

 

Dikutip dari : Infokomputer, 2016

Read More
TOP

User-Generated Content Marketing, Bagaimana Supaya Berhasil?

Penggunaan User-Generated Content (UGC) sebagai strategi kampanye brand belakangan ini terus meningkat. Hal ini dipicu oleh penggunaan (user) sosial media yang terus tumbuh. ondisi tersebut membawa perubahan pada strategi kampanye brand. Jika pada era tradisional (offline) strategi kampanye atau promo brand condong ke arah penjualan (selling), maka di era sosial media (online) sekarang strategi kampanye diarahkan untuk menciptakan komunikasi timbal balik (two ways) dengan khalayak melalui konten-konten yang di create oleh brand. Istilahnya, brand menciptakan konten sebagai stimulus dengan harapan konten tersebut ditanggapi atau direspon oleh user secara online di media sosial. Respon user terhadap konten disebut UGC.

Hal yang harus diperhatikan oleh brand ketika menggunakan UGC adalah brand harus mempunyai komitmen dalam mengelolanya. Ketika brand menggunakan UGC sebagai alat promosi, brand harus memilih dengan tepat siapa influencer-nya. Topik apakah yang akan dibahas oleh influencer? Bagaimana influencer menyampaikan pesannya? Apakah audience dari influencer mempunyai aspirasi yang sama dengan brand? Seberapa loyal dan besarnya audience dari influencer tersebut?. Kebanyakan brand memanfaatkan public figur para selebritis sebagai influencer.

Lebih jauh, agar UGC efektif, brand harus mampu mengcreate dan memanage aspek yang terdapat dalam siklus UGC, yakni Content, Conversation, Continuity dan Community. Ketika Content yang tepat di generate oleh brand atau user, konten yang menarik dan sesuai dengan selera user sehingga terjadi Conversation. Oleh sebab itu, content yang di create brand harus sesuai dengan target konsumennya. Ketika dua atau lebih user membuat conversation akan terjalin hubungan emosional sehingga berlanjut (Continuity). Continuity ini akan menjadi rutinitas kebiasaan dalam menjawab dan membaca yang pada akhirnya membentuk suatu habits. Ketika sudah mendapatkan emosional kebersamaan dan juga kebiasaan yang menjadi habits maka akan menjadi Community.

Kaskus adalah contoh konkret penerapan elemen UGC yang efektif. Bermula konten yang di create para anggotanya, kemudian menciptakan percakapan (conversation) dan berlangsung secara continue dan menggaet banyak user untuk berkumpul di dalamnya, dalam wadah komunitas yang akhirnya komunitas mendeklarasikan sebagai komunitas atau forum jual beli.

 

Dikutip dari : Setiawan, W., Mix Marketing Communication, 2016

 

Read More
TOP

Kapan Perlu Interactive Advertising?

Untuk menciptakan iklan interaktif yang kreatif dan efektif, dibutuhkan ide yang tidak rata-rata. Creatornya harus menguasai dan mensinergikan Triangle Insights : Medium Insights, Consumer/Audience Insights dan Brand Insights.

Medium Insights mencakup pemahaman terhadap nature dari media yang akan ditempati, karakter-karakter khasnya, teknologi khasnya dll. Consumer / Audience Insights mencakup pemahaman terhadap habit dan psikologis khalayak konsumen. Sedangkan Brand Insights, mencakup pemahaman terhadap karakter, aura dan value merek.

Iklan pada dasarnya juga tidak boleh asal interaktif dan kreatif, namun harus juga tepat sehingga memberikan dampak yang kuat. Kreatif iklan interaktif memungkinkan terjadinya partisipasi audience. Itulah langkah paling basic. Tanpa adanya partisipasi, iklan interaktif disebut gagal meskipun iklan tersebut dirancang interaktif.

Meski tren iklan tengah berkembang, perlukah semua iklan dibuat interaktif?

Jawabannya, tidak semua iklan harus dirancang sebagai iklan interaktif, semua tergantung Behaviour Audience serta kebutuhan pemasar. Pada konteks behavior audience, iklan Tesco Virtual Store merupakan contoh iklan interaktif yang sukses. Dengan gaya hidup yang begitu sibuk, hidup masyarakat Korea Selatan dihabiskan di rumah, kantor dan perjalanan via subway, untuk menambah toko di ketiga area tersebut, sangatlah mahal. Solusinya adalah Tesco membuat Virtual Store berupa poster panjang di sejumlah subway. Poster yang jauh lebih murah daripada actual store itu memajang semua daftar dagangan Tesco, lengkap dengan harga dan QR code. Orang hanya cukup memotret QR code dari barang yang mau mereka beli. Pembayarannya pun melalui mekanisme autodebit dan barang dikirim langsung ke alamat yang di daftarkan.

Poster tersebut mampu memberikan business solution berdasarkan pemahaman behavior, sehingga memungkinkan terjadinya partisipasi dengan teknologi yang mudah

 

 

Dikutip dari : Wulandari D., Mix Marketing Communication, 2016

Read More
TOP

Ancaman Asimetrik dari Media Sosial

Ibarat sebuah pertempuran, media sosial adalah front dimana pemasar menghadapi situasi yang sulit diprediksi karena saking banyaknya variasi ancaman yang perlu diantisipasi. Inilah yang dinamakan ancaman Asimetrik, sesuatu yang belum banyak disadari oleh pemasar di Indonesia. Ancaman Asimetrik berwujud “serangan” di media sosial yang tidak umum dilakukan, terkadang diluar perhitungan. Pada umumnya, ancaman asimetrik di media sosial  berasal dari pelanggan yang kecewa. Karakter media sosial yang terbuka dan ramai, menjadikannya pas untuk menumpahkan uneg-uneg kekecewaan  tentang suatu produk atau perusahaan. Fenomena ini sering dinamakan sebagai fenomena “balas dendam” konsumen, yang mana konsumen ingin mendegradasi reputasi perusahaan akibat kegagalan produk atau komplain yang tidak di respon dengan baik.

Cara Menghadapai Ancaman Asimetrik di Media Sosial :

  • Ancaman asimetrik yang dilakukan oleh pelanggan yang kecewa karena kegagalan produk atau komplain yang tidak direspon dengan baik. Solusinya adalah, diperlukan ketenangan dan kecermatan dalam merespon tipe ancaman seperti ini, admin perusahaan tidak boleh terbawa emosi dan hilang kesabaran ketika merespon situasi yang seperti itu. Perusahaan perlu membuat prosedur standar untuk menyelesaikan komplain tersebut secara profesional namun tetap mengedepankan asas kekeluargaan, dan jika diperlukan mempercepat prosesnya dengan memberikan kompensasi. Sekecil apapun nominal dari kompensasi tersebut akan sangat dihargai oleh pelanggan yang kecewa. Ini selaras dengan rumus lebih murah mempertahankan seorang pelanggan daripada mendapatkan  satu orang pelanggan baru.
  • Ancaman asimetrik dari aktivis, yang biasanya berbentuk kampanye media sosial yang inovatif, kreatif dan berpotensi viral. Aktivis memiliki variasi strategi yang lengkap dan terstruktur, mereka juga punya kekuatan jaringan yang memungkinkan untuk melakukan “penyerangan” asimetrik secara terkoordinasi. Untuk menghadapi situasi seperti ini admin perusahaan harus siap merespon dalam jangka panjang. Selain itu juga diperlukan respon dengan tingkat inovasi dan kreativitas yang setara dengan apa yang dilakukan oleh para aktivis tersebut. Namun yang terpenting, perusahaan harus memperbaiki kesalahan yang menjadi sumber protes para aktivis tersebut.
  • Ancaman berikutnya datang dari para kompetitor, biasanya dilakukan dengan mengeksploitasi kelemahan dari produk atau strategi pemasaran perusahaan. Dalam melakukan aksinya, kompetitor biasanya akan menggandeng konsultan dan agensi atau bahkan mendorong pelanggan mereka yang loyal untuk membantu. Untuk menghadapinya, perusahaan perlu menyiapkan admin media sosial yang bisa aktif terlibat dalam diskusi yang ada, termasuk menjadi narasumber yang kompeten dan kredible dalam setiap diskusi yang relevan dengan perusahaan di media sosial.

Uraian-uraian tersebut diatas bisa dijadikan sebagai referensi awal untuk membuat sebuat sistem pertahanan dari ancaman asimetrik di media sosial.

 

Dikutip dari : Mahardika, H., Marketing, 2015

Read More
TOP

Dahsyatnya Brand Advocates

Di era internet pemasaran bisa dilakukan dengan murah meriah. Internet juga memudahkan merek mengelola para pembela mereknya di kalangan pelanggan. Kuncinya ada di Brand Advocates tersebut.

Dalam kenyataannya, tiga perusahaan media sosial paling berpengaruh Facebook, Twitter dan LinkedIn tidak mengalokasikan budgetnya untuk membayar iklan atau orang untuk merekomendasikan mereknya. Mereka juga tidak membutuhkan peran keduanya. namun, para Brand Advocates menggunakan media sosial untuk merekomendasikan ketiga platform tadi kepada teman-temannya. Rob Fuggeta menandaskan para Brand Advocates adalah para pemasar dan orang sales paling hebat bagi perusahaan. Alasan utama mengapa orang-orang lebih percaya pada Brand Advocates adalah satu hal TRUST.

Untuk diketahui, istilah Brand Advocates dan Follower maupun Fans memiliki dua makna yang berbeda. Namun, sering banyak orang salah kaprah menukar maknanya. Fans dan Follower mungkin menyukai produk, tapi mereka tidak memberikan rekomendasi, keduanya memiliki motivasi yang berbeda dengan Brand Advocates.

Bagaimana perusahaan memberdayakan Brand Advocates bagi perusahaan? Berikut ini Rob Fuggeta menawarkan lima langkah, yakni :

  • Ciptakan dulu produk yang mengusung nilai unik atau gila. Advokasi dimulai dari kekaguman atas produk yang memang unik dan fenomenal. Sebut saja dengan business as unusual.
  • Bangun layanan yang terus dikenang. Di era sekarang dimana bertebaran produk yang hampir sama, servis menjadi diferensiasi paling besar.
  • Fokus pada manfaat positif.
  • Ambil langkah-langkah benar termasuk bila itu membutuhkan banyak uang. Demi membangun kepercayaan uang bukanlah masalah. Kepercayaan pelanggan merupakan modal besar perusahaan untuk maju dan berkembang.
  • Usung kesadaran sosial. Orang akan memandang perusahaan yang memiliki upaya pelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat, secara lebih baik ketimbang tidak.

 

Terima kasih……..

(Dikutip dari Kurniawan S, Marketeers/2013)

Read More
TOP

Eksperimen Digital Advertising : Egosurfing

Hidup adalah eksperimen. Idiom itu mungkin tepat untuk menggambarkan keseharian seorang Digital Advertiser. Orang yang berkecimpung di dunia ini mau tidak mau harus terus mencari dosis yang tepat dalam mengoptimalkan hasil dari sebuah campaign yang ditangani. Dosis yang tepat ini mencakup keywords yang tepat, nilai bid yang tepat (jika menggunakan adwords), placement yang tepat, konten serta messege yang tepat. Hal tersebut di lakukan guna mendapatkan respon sebanyak mungkin dengan biaya rendah.

Sebagian besar Digital Advertiser akan menyarankan menggunakan Google Adwords dan SEO. Hal tersebut tidaklah salah, tetapi masalahnya konten situs kita tidak menarik-narik amat untuk membuat orang datang berkunjung dan melakukan engagement. Pernahkah kita menggunakan Digital Reminder untuk mengingat hal-hal penting? terutama karena manfaatnya sangat positif untuk membantu kita terus fokus pada prioritas yang telah ditetapkan. Digital Reminder sendiri kini punya berbagai macam format, kita tinggal memilih yang paling sesuai dengan digital behaviour kita masing-masing.

Ide ini berangkat dari fakta bahwa orang yang sering mencari dan mengecek namanya sendiri di search engine seperti Google. Kita sering kali ingin tahu apa yang dikatakan orang dan khalayak tentang kita di dunia maya. Perilaku ini dinamakan “Egosurfing” atau “Self-Googling”. Definisinya adalah Sebuah praktik pencarian untuk nama sendiri, nama samaran, nama layar pada mesin pencarian populer yang digunakan untuk melihat hasilnya. Sementara itu definisi lainnya adalah Sebuah tindakan dengan menggunakan mesin pencarian Google untuk mencari diri sendiri. Kasus ekstrim dari pencarian diri sendiri mengakibatkan Googlitis.

Kita semua tahu bahwa platform digital advertising paling mumpuni saat ini adalah Google Adwords. Dalam layanan ini, individu atau perusahaan bisa membeli keyword tertentu di mesin pencari Google, untuk kemudian dijadikan sarana beriklan. Dan akhir kata, sebagaimana telah disampaikan bahwa digital advertising memberikan banyak kejutan.

 

Silahkan mencoba!

(Dikutip dari Mahardika H, Digital Marketing/Vol 35/2015)

 

Read More
TOP

Sederhana tapi Powerful

Kini perusahaan sadar bahwa medium digital seperti e-mail merupakan tools yang ampuh untuk menaikkan penjualan dan mendapatkan konsumen baru. Namun, pemanfaatannya terkadang masih membuat bingung para marketer. Apa strateginya???

E-mail Marketing (EM) adalah sebuah tools marketing yang dipergunakan oleh marketer, baik untuk menaikkan penjualan, mengakuisisi konsumen baru maupun retain konsumen. Saat ini, penggunaan EM masih tergolong baru di Indonesia porsinya saja masih 5% – 6% setelah brosur. Padahal jika digunakan dengan baik dan benar tentu akan menjadi alat yang super ampuh.

Menurut data dari Radicati & Forrester (2013) jumlah akun email secara global pada tahun 2018 diprediksi 5,2 miliar, sementara total pengguna email baik untuk bisnis maupun pribadi akan mengalami kenaikan 12% yakni dari 2,5 miliar di tahun 2014 menjadi 2,8 miliar di tahun 2018. Masih menurut data tersebut, setiap jam ada sekitar 122.500.453.020 email yang terkirim; sebanyak 100.000 email dikirim oleh perusahaan dan sisanya dilakukan personal. Sebanyak 72% pengguna internet dewasa mengirim dan menerima email setiap minggunya melalui smartphone mereka.

Pertanyaannya, mengapa marketer harus menggunakan email marketing? Keampuhan EM 20 kali lipat daripada email secara langsung (one to one). EM juga mudah diukur misalnya berapa orang yang membuka email (open rate) dan CTR (click thru rate) nya. Bahkan cara ini sangat memudahkan marketer untuk menargetkan siapa yang akan dikirimi email. Terakhir setelah melakukan kampanye email, maka marketer akan mudah menindaklanjutinya, baik dengan mengirimkan email kedua ataupun menelpon langsung.

Apa yang harus dilakukan marketer agar kampanye EM bisa efektif?? Selain pemahaman tentang tujuan dan fungsinya, yang harus diperhatikan marketer adalah (1) Database. Jika databasenya kacau maka mengukur keberhasilan EM pun akan terasa sulit. Database merupakan backbone dari perusahaan untuk bertumbuh dan esensinya untuk menaikkan penjualan melalui pemanfaatan EM secara efektif. Semakin lengkap data tersebut dan targeted, maka akan semakin baik dan powerful. (2) Implementasi strategi Segmentasi. Segmentasi merupakan upaya mengelompokkan konsumen berdasarkan gender, lokasi maupun kebiasaan. Hal penting adalah selalu mengetahui karakter konsumen yang ada di database, seperti gaya hidupnya, kebiasaan dan ketertarikannya. (3) Terukur. Saat ini sudah tersedia begitu banyak platform EM yang bisa diandalkan baik dari segi fitur yang lengkap sampai hasil pengukurannya, dan yang sekarang menjadi pekerjaan rumah adalah bagaimana membuat konten yang baik agar email dibuka oleh si penerima. Salah satu software/platform yang bisa diandalkan adalah Netcore, MailChimp, Marketo. Biasanya yang membedakan setiap software adalah ketepatan waktu kirim dan kebebasan dalam mengirimkan email (tidak dibatasi jumlah email kirim).

Bila anda sudah memutuskan untuk menggunakan EM sebagai tools marketing, baiknya perlu diperhatikan beberapa aturan sebagai berikut :

  1. Jika bisnis anda bergerak dibidang E-commerce dan jenis EM adalah transaksi, tidak ada batasan dalam pengiriman email. Artinya anda diperbolehkan melakukan email blast 1-3 kali setiap harinya.
  2. Jika hanya berupa informasi produk atau event, hendaknya pengiriman maksimal 3 kali dalam seminggu.
  3. Jika berupa promosi, yang disarankan adalah 2 email per minggu.
  4. Jika industri anda di media, pengiriman maksimal 4 email per minggu. Intinya, melebihi 4 email dalam 1 minggu tidak disarankan.

 

Terima Kasih……

(Dikutip dari Assaini K, Marketing/2015)

Read More
TOP

Revolusi Terbesar Bernama CROWDSOURCING

Brian Chesky dan Joe Gebbia merupakan pencetus didirikannya “Airbnb”. Situs ini merupakan marketplace yang menghubungkan penyewa kamar dengan orang yang menyewakan kamar diseluruh dunia. Airbnb menawarkan kamar yang disewakan oleh individu pemilik rumah. Airbnb didirikan di San Fransisco, AS pada tahun 2008. Bisnis Airbnb adalah contoh bisnis yang bermunculan di ekonomi baru. Ada yang menyebutnya Wikinomics, Sharing Economy, Collaborative Economy. Collaborative Economy adalah ekonomi dimana para pelaku ekonomi saling membagi resources yang dimiliki untuk saling berbagi keuntungan. Di dalam ekonomi tradisional, korporasi bertugas memproduksi barang & jasa yang kemudian dikonsumsi oleh institusi bernama konsumen, sedangkan dalam Collaborative Economy, keduanya bisa melakukan produksi bersama, berbagi pasar dan kepemilikan demi mencapai efisiensi pasar dan pertumbuhan bisnis.

Collaborative Economy didorong oleh kemunculan revolusi terbesar yang mengubah hidup manusia saat ini. INTERNET. Kemunculan internet membuat setiap individu terhubung dalam jaringan global yang teramat besar. Don Tapscott dalam buku Wikinomics menyebut Mass Collaboration Weapon, yakni infrastruktur kolaborasi yang berbiaya sangat rendah sebagai senjata yang memungkinkan ribuan individu dan produsen kecil untuk bersama-sama menciptakan produk, meengakses pasar dan memuaskan pelanggan. Infrastruktur tersebut adalah komunikasi data, peranti lunak open source & global outsource yang kini bisa dilakukan dengan biaya minim.

Ketika berbicara Sharing Economy maka kita juga akan mengenal istilah Crowdsourcing, yaitu proses menggerakkan bisnis melalui kolaborasi dari banyak orang. Model bisnis Crowdsourcing ini diminati oleh para investor karena perusahaan secara tidak langsung sebenarnya sudah memiliki Captive Customers yang bisa dielaborasi.

Sharing Economy memang sesuatu yang tidak bisa dihindari. Setiap perusahaan harus siap menghadapi fenomena ini, sehingga mereka harus bertransformasi dari perusahaan konvensional menjadi perusahaan yang lebih modern.

 

Rahmat Susanta, Marketing/Edisi4/2016

Read More
TOP

UBER Dicintai Sekaligus Dibenci

Marketing/Edisi4/XVI/2016

Kemajuan teknologi tak terelakkan. Teknologi melahirkan model bisnis baru termasuk bagi perusahaan layanan transportasi. Uber muncul sebagai pemain yang memanfaatkan teknologi untuk dapat menyediakan layanan transportasi masa depan. Bagaimana Uber bisa ada dimana-mana? dan menembus batas global?

Perusahaan seperti Uber mengubah wajah layanan transportasi. Dengan memanfaatkan aplikasi yang sangat mudah diunduh ke smartphone yang kini hampir dimiliki oleh semua orang, konsumen langsung terhubung ke Google Map sehingga mereka bisa melihat langsung dimana mobil terdekat, jarak tempuh, posisi dan lokasi pengendara, sampai memperkirakan waktu tempuh. Uber mampu mengatasi segala permasalahan yang dihadapi taksi konvensional, menawarkan tarif lebih murah, kualitas layanan lebih baik, waktu tunggu lebih singkat dan memberikan experience yang berbeda.

Uber Technologies, Inc. adalah perusahaan jaringan transportasi online multinasional Amerika yang berbasis di San Fransisco, California, AS. Perusahaan mengembangkan, memasarkan sekaligus mengoperasikan aplikasi mobile Uber, yang memungkinkan konsumen bisa memenuhi kebutuhan perjalanan/transportasi mereka, dengan memanfaatkan para pengendara yang punya mobil sendiri dan sudah tergabung dalam Uber. Uber didirikan pertama kali dengan nama “UberCab” oleh Travis Kalanick dan Garret Camp pada tahun 2009. Memasuki tahun 2012 Uber sudah melakukan ekspansi secara internasional. Dengan segala kemajuannya, tahun 2014 Klout menobatkan Uber sebagai perusahaan terkuat di AS urutan ke 48.

Uber kini sudah hadir disekitar 60 negara 300 kota diseluruh dunia. Sejak peluncurannya, banyak perusahaan yang meniru model bisnisnya, yang sekarang menjadi tren dengan nama “Uberification”. Salah satu fenomena yang muncul akibat tren ini adalah bermunculannya perusahaan-perusahaan yang menganut Sharing Economy, termasuk Uber.

Sharing Economy adalah suatu ekosistem bisnis yang bersifat sosial dan sering kali berbasis layanan komunitas, dimana semua pihak bisa saling berbagi dan mengonsumsi semua sumber daya yang ada. Singkatnya, apa yang dimiliki oleh satu pihak bisa digunakan oleh pihak lain, tapi dengan sejumlah biaya tertentu. Aktivitas yang dilakukan dalam lingkungan sharing economy ini mencakup aspek-aspek seperti saling berbagi, saling bertukar, pemebelian kolektif, mengonsumsi sumber daya secara bersamaan, shared ownership, co-creation, daur ulang, re – distribution, sewa – menyewa, meminjam, berlangganan sementara dll.

Dengan menggunakan konsep tersebut Uber bisa menjadi salah satu perusahaan transportasi taksi yang tersebar di seluruh dunia meskipun tidak memiliki semua kendaraan (taksi). Model bisnisnya memungkinkan semua individu yang mempunyai kendaraan yang dianggap layak setelah dievaluasi bisa bergabung & menjadi pengendara Uber. Perjalanan Uber memang tidaklah mulus, diberbagai negara banyak menuai kritik dan protes tetapi bukan lantaran buruknya layanan mereka, tetapi dianggap sebagai ancaman serius terhadap transportasi lokal, masalah lainnya yaitu legalitas. Meskipun demikian, kekuatan Word Of Mouth lewat channel media sosial yang begitu powerful membuat Uber semakin bersinar.

Perkembangan teknologi memanglah tak bisa dibendung, inilah yang menjadi tantangan bagi perusahaan – perusahaan di seluruh dunia. teknologi melahirkan model bisnis baru untuk masa depan yang secara perlahan tapi pasti akan mengubah wajah bisnis di masa depan.

Read More
TOP

AMPUHNYA KEKUATAN BRAND STORY

Kemampuan story atau cerita untuk membangun merek bukanlah hal baru. Di masa lalu, story sudah banyak digunakan untuk membangun merek. Di masa kini, brand story atau story telling semakin menjadi bagian komunikasi yang penting. Faktor terbesar tentunya adalah kehadiran media sosial.

Mengapa story telling menjadi menarik? Sederhana!

Sebuah story akan menciptakan emosi yang menghubungkan antara pembaca atau pendengar cerita dengan karakter dari cerita dan juga menciptakan cerita. Ketika seseorang mendengar cerita, entah sesuatu yang heroik, humor atau sedih, akan timbul emosi. Emosi inilah yang membuat audiens menjadi ingat dan memiliki perasaan terkoneksi.

Sebuah story yang baik adalah yang bersifat personal dan membangkitkan emosional.  Bagaimana membuat brand story mengenai merek terasa personal dan emosional???

  1. Sebuah merek yang memiliki sejarah adalah sumber story yang menarik. Ini bisa berupa sejarah bagaimana merek dibangun atau sejarah mengenai pendirinya. Sari Ayu dan Mustika Ratu adalah contoh merek yang memiliki sejarah pendiri yang kuat.
  2. Sumber brand story lain adalah keunikan dari produk atau layanan. Teh Pucuk memiliki keunikan yang bisa diceritakan. Konsumen bisa menikmati cerita kreatif bagaimana merek ini memiliki kebun teh dan hanya memanfaatkan bagian pucuk untuk diolah menjadi teh siap saji.
  3. Brand Story bisa dibangun dari apa yang menjadi visi dan tujuan merek itu hadir. Tupperware adalah contoh yang baik untuk hal ini. Merek tersebut memiliki visi untuk memberdayakan kaum perempuan, dengan slogannya “Yes She Can!”.
  4. Brand Story juga bisa dibangun dengan cerita sekitar solusi yang ingin diberikan kepada konsumen dan pelanggannya. Nike dan Reebok sering bercerita soal inovasi untuk membuat atlet memiliki prestasi setinggi mungkin.
  5. Brand Story bisa dibangun melalui event yang spektakuler atau membuat orang kagum

Setelah brand story diciptakan dan dipilih, mareketer perlu memilih media yang tepat. Kalau story itu pendek bisa dikenal dalam bentuk iklan yang akhirnya bisa menggunakan  media cetak dan televisi. Bila brand story panjang maka media seperti website atau film layar lebar adalah pilihan yang baik.

Sekarang, bagaimana brand story untuk merek atau diri anda?? Tentunya brand story tersebut adalah seputar karakter merek yang protagonis bukanlah yang antagonis.

 

Read More
Skip to toolbar