ayouviward Make Today Amazing | Happy Mind Happy Life

28Jul/170

8 Studi Menarik bagi Entrepreneur dalam Menjalankan Bisnisnya

Ada satu hal yang setiap pengusaha harus benar-benar pahami untuk menumbuhkan bisnis yang sukses. Satu hal tersebut adalah perilaku manusia. Memahami perilaku manusia akan membantu Anda menjadi lebih efektif dalam pemasaran, penjualan, produktivitas, copywriting, dan bahkan pengembangan produk, dan tidak ada cara yang lebih baik untuk mengembangkan pemahaman tentang perilaku manusia melalui sebuah riset atau penelitian.

Para peneliti telah melakukan studi berkaitan dengan perilaku manusia yang dapat membantu para enterepreneur memahami market, menetapkan harga produk, meningkatkan penjualan, dan berkomunikasi kepada konsumen. Berikut adalah delapan studi tersebut dan Anda bisa menyimaknya karena akan sangat berguna bagi bisnis Anda.

  1. STUDI ILLOGICAL REASONING

Apakah Anda pernah mendengar seseorang berkata “itu bukan tentang apa yang Anda katakan, melainkan bagaimana Anda mengatakannya?” Ternyata ini bukan hanya sekedar kutipan. Sebuah studi yang dilakukan oleh Ellen Langer dari Harvard University memiliki subjek dengan meminta orang berbaris di depan mesin fotokopi, subjek akan memotong antrian orang di depannya agar cepat meng-copy salinan yang dibawa.

Di situlah peneliti tersebut mempelajari bagaimana orang mengatakan agar bisa memotong antrian tersebut. Pesan dari ketiga kelompok yang diuji adalah sama yaitu subjek ingin memotong antrian di depan mereka. Namun, dalam satu kelompok, subjek diminta untuk memotong antrian di depan tanpa alasan, dengan hanya bertanya apakah mereka bisa membuat salinan dengan mengatakan “bolehkah saya menggunakan mesin Xerox?” Mereka hanya diizinkan untuk memotong antrian depan sekitar 60%.

Di kelompok kedua, subjek mengatakan: “Bolehkah saya menggunakan mesin Xerox? saya sedang terburu-buru” Ini jauh lebih berhasil daripada kelompok pertama dengan 94%. Kelompok ketiga juga memberikan alasan, meskipun alasannya tidak masuk akal. Mereka mengatakan, “bolehkah saya menggunakan mesin Xerox? karena saya harus membuat salinan” Meskipun semua orang yang antri juga harus membuat salinan, 93% dari orang membiarkan subjek untuk memotong antriannya.

Ini menunjukkan bahwa orang-orang jauh lebih mungkin untuk menuruti sebuah permintaan jika ada alasan dari pemohonnya, meski alasan tersebut tidak masuk akal. Penelitian ini membuktikan bahwa kita memiliki blind spot ketika seseorang menggunakan kata “karena” untuk membuat kasus untuk sesuatu yang mereka ingin kita lakukan.

Yang bisa Anda dipelajari

Sebagai seorang entrepreneur, hasil penelitian ini akan membantu Anda menyusun kata-kata penjualan atau copywriting yang lebih efektif, content marketing dan pesan yang ingin disampaikan pada prospek atau customer potensial Anda. Berikan alasan kenapa mereka harus membeli atau menggunakan produk Anda. Jangan meremehkan kekuatan dari sebuah kata sederhana!

  1. STUDI TIMBAL BALIK

Selama beberapa tahun terakhir content marketing telah menjadi kata kunci. Itu karena content marketing bekerja dengan baik di era digital sekarang ini, di mana sebuah iklan digantikan dengan memberikan informasi berharga secara gratis. Tapi apakah Anda pernah bertanya-tanya mengapa content marketing sangat efektif?

Itu karena content marketing – atau menambahkan nilai (value) nyata bagi kehidupan masyarakat, bahkan gratis, melalui audio, visual, video, atau konten yang ditulis, mengaktifkan “gen” timbal balik kita. Sebagai manusia kita sangat terdorong untuk membalas kebaikan, nikmat atau hadiah. Hal ini ditunjukkan dalam Robert Cialdini buku Influence: The Psychology of Persuasion.

Cialdini menjelaskan penelitian yang dilakukan oleh Phillip Kunz dari Universitas Brigham Young. Kunz mengirimkan 600 kartu Natal tulisan tangan untuk orang yang benar-benar tidak ia kenal guna melihat apa yang akan terjadi. Beberapa minggu kemudian Kunz menerima balasannya kembali lebih dari 200 kartu. Ini menakjubkan, mengingat Kunz adalah orang yang juga tak dikenal oleh para penerima kartu tersebut.

Mereka bertindak atas norma sosial yaitu timbal balik ketika seseorang memberi sesuatu, bahkan yang kita tidak tahu memberikan sesuatu kecil sekalipun, dalam hal ini adalah kartu ucapan selamat Natal.

Yang bisa Anda dipelajari

Sebagai seorang entrepreneur, Anda mungkin bertanya-tanya bagaimana penelitian ini akan membantu Anda. Tapi mungkin Anda harus bertanya-tanya bagaimana Anda bisa membantu target market Anda. Jika Anda memberi sesuatu yang berharga bagi mereka, mereka cenderung untuk memberikan timbal balik (feedback) , dan bahkan mereka akan melakukannya dengan membeli produk Anda.

  1. STUDI MIMIKRI

Apakah Anda pernah mendengar saran untuk menggunakan kata-kata yang tepat yang digunakan oleh market Anda dalam copywriting Anda? Ketika kita mendengar kata-kata yang kita biasa gunakan (atau yang dipikirkan), tanpa sadar kata-kata tersebut akan ‘bergema’ dalam pikiran. Jika kita dapat membuat pesan penjualan dalam bahasa target market gunakan, mereka akan menganggap kita tahu masalahnya lebih baik daripada yang mereka tahu.

Jay Abraham mengatakan: “Jika Anda dapat menyelesaikan masalah lebih baik dari target customer Anda, mereka secara otomatis akan menganggap Anda memiliki solusinya.” Sebuah studi yang dilakukan oleh Rick Van Baaren di Belanda menunjukkan ini dalam bentuk tindakan. Van Baaren memiliki beberapa pelayan di sebuah restoran yang mengambil dua pendekatan untuk mengonfirmasi sebuah pesanan.

Beberapa pelayan akan menunjukkan bahwa mereka mendengar pesanan customer secara sederhana (simple acknowledgement), dan beberapa akan mengulangi urutan kata-kata customer secara sama (exact words) kepada pelayan yang lain.

Mereka yang menirukan kata-kata customer melihat peningkatan sekitar 20%  dalam hal customer memberikan uang tip sebagi tanda kepuasan, dari 52% menjadi 78%.

Yang bisa Anda dipelajari

Sebagai seorang entrepreneur, Anda harus menyadari penelitian ini karena akan membantu Anda beresonansi dengan target market mereka. Jika Anda dapat menggunakan kata-kata yang tepat dan kalimat yang market Anda berpikir atau digunakan dalam copywriting Anda, hal tersebut akan membantu meningkatkan konversi penjualan Anda.

  1. STUDI MERE EXPOSURE EFFECT

Kita suka berpikir bahwa kita suka hal-hal baru dan menarik, kenyataannya adalah kita memiliki preferensi yang kuat pada sesuatu yang familiar. Penelitian telah menunjukkan bahwa orang-orang akan bersikap baik pada sesuatu yang mereka kenal. Dalam sebuah peneliti psikolog Robert Zajonc menunjukkan para partisipan sebuah karakter yang bernuansa Chinese (tapi hanya sebuah desain yang random).

Mereka yang sering ditampilkan karakter tertentu, bereaksi lebih positif terhadap karakter tersebut; semakin tinggi frekuensi orang melihat simbol yang sama, orang akan semakin menyukainya.

Yang bisa Anda dipelajari

Sebagai seorang pengusaha, studi mere exposure effect dapat membantu rencana pemasaran Anda dengan cara memahami pola pembelian dari market Anda. Anda mungkin pernah mendengar bahwa orang perlu melihat iklan rata-rata tujuh kali sebelum membeli, penelitian ini untuk menunjukkan bahwa eksposur yang hanya sekali tidak cukup untuk market Anda.

  1. STUDI THE FOOT IN THE DOOR

Apakah Anda tahu bahwa jika Anda bisa membuat seseorang untuk mengatakan “ya” dengan sebuah permintaan kecil, Anda memiliki kesempatan yang jauh lebih baik agar mereka memenuhi permintaan yang lebih besar di kemudian hari.

Inilah Sebabnya Mengapa Sales Funnels Bekerja

Peneliti Stanford Jonathan Freedman dan Scott Fraser membuktikan ini di sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 1960-an. Mereka menghubungi ibu rumah tangga yang dibagi menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok dihubungi dengan permintaan kecil dan kemudian menghubungi dengan permintaan jauh lebih besar. Kelompok kedua dihubungi hanya dengan permintaan yang besar.

Kelompok pertama 30% lebih mungkin mengatakan “ya” untuk permintaan yang lebih besar dibandingkan kedua, karena mereka sudah memenuhi permintaan yang lebih kecil sebelumnya.

Yang bisa Anda dipelajari

Banyak marketer percaya bahwa ini adalah salah satu cara untuk memprogram perilaku konsumen untuk terbiasa mengambil satu tindakan tertentu dengan merk Anda. Ciptakan peluang kecil untuk customer Anda agar mengatakan “ya”  pada penawaran Anda, guna mendorong penawaran yang lebih besar diterima oleh customer.

  1. STUDI PILIHAN

Banyak variasi atau pilihan memang dapat menarik konsumen, namun terlalu banyak variasi mungkin berdampak kurang baik bagi penjualan. Sebuah studi terkenal yang dilakukan oleh dua peneliti dari Stanford dan Columbia Universitas masing-masing menunjukkan bahwa konsumen memang lebih tertarik dengan memiliki banyak pilihan, namun mereka kurang tegas dan cenderung tidak membeli ketika diberi banyak pilihan.

Kedua peneliti berangkat ke toko makanan untuk membuat tampilan atau display untuk berbagai macam selai. Kupon ditawarkan kepada customer yang berhenti untuk membeli sampel selai tersebut.Dalam salah satu bagian dari studi ini, ada enam rasa selai yang ditampilkan. Di bagian lain, ada dua puluh empat rasa selai yang ditampilkan.

Apa yang mereka temukan adalah, 27% lebih banyak customer membeli beberapa selai jika mereka hanya harus memilih antara enam rasa daripada dua puluh empat.

Yang bisa Anda dipelajari

Anda dapat menggunakan informasi ini dalam bisnis Anda untuk meningkatkan penjualan prosuk. Lihatlah penawaran produk Anda, apakah Anda menawarkan terlalu banyak pilihan? Ingat, menawarkan terlalu banyak tampaknya menarik untuk customer tetapi sulit untuk terjadinya konversi penjualan. Lain halnya jika merk Anda sudah terkenal dan kuat di masyarakat.

  1. STUDI DECOY EFFECT

Katakanlah Anda bisnis menawarkan dua produk, dan Anda ingin menjual salah satu produk tersebut lebih banyak daripada yang lain. Bagaimana Anda bisa meningkatkan penjualan untuk salah satu produk tersebut? Mungkin Anda akan membuat banyak iklan dari produk tersebut, menurunkan harga atau menawarkan bonus bagi mereka yang membelinya. Tapi apakah Anda pernah mempertimbangkan untuk memperkenalkan produk ketiga yang kurang diminati untuk meningkatkan penjualan salah satu produk? Tampaknya terdengar sedikit aneh, namun cara ini dapat bekerja, dan disebut efek umpan (decoy effect).

Penelitian ini dilakukan oleh Itamar Simonson, peneliti populer di bidang ini. 95 pembeli awalnya diminta untuk memilih antara dua penghancur kertas (shredder). Penghancur kertas pertama (A) adalah model yang lebih murah dan kurang efisien. Penghancur kertas kedua (B) adalah lebih mahal dan namun lebih efisien. Dalam hal ini, 79% dari pembeli memilih Penghancur kertas pertama (yang lebih murah, kurang efisien).

Namun, para peneliti kemudian menambahkan pilihan ketiga (C). Pilihan itu lebih mahal daripada A dan B tetapi lebih efisien daripada A dan namun kurang efisien dibandingkan B. Meskipun pengenalan opsi C tidak mengubah dua pilihan lainnya, terjadi peningkatan menjadi 36,1% partisipan memilih model B.

Yang bisa Anda dipelajari

Studi ini menunjukkan bagaimana keputusan kita berubah, tergantung pada pilihan yang ada. Anda dapat menggunakan ini dalam bisnis Anda untuk menawarkan “umpan” jika Anda ingin meningkatkan penjualan Anda dari produk tertentu.

  1. STUDI VIRALITY

Bagaimana jika sosial media anda dibanjiri follower, penjualan meningkat drastis, dan semua itu tiba-tiba terjadi pada bisnis Anda? Jika Anda ingin sepotong konten Anda menjadi viral, penelitian ini akan berguna. Yunus Berger, seorang penulis, melakukan penelitian yang membuktikan bahwa hal-hal yang menimbulkan emosi tertentu jauh lebih mungkin untuk dibagikan (share).

Studi ini menimbulkan “gairah tinggi” dan “gairah rendah” (low arousal activity) dari partisipan dengan meminta mereka berlari di tempat (high arousal activity) dan menonton video emosional (high arousal activity), dan kemudian bertanya apakah mereka lebih atau kurang mungkin untuk berbagi video atau konten dengan teman-teman mereka.

Ternyata kegiatan gairah tinggi (emosi, aktivitas fisik) meningkatkan kemungkinan bahwa individu akan berbagi konten dengan lebih dari 50%.

Yang bisa Anda dipelajari

Ketika membuat konten untuk bisnis Anda, pastikan untuk menyisipkan emosi yang berhubungan dengan audiens Anda.

 

Kesimpulan

Jika Anda memahami implikasi dari studi ini pada bisnis Anda, Anda selangkah di depan.  Pengaplikasian dari delapan studi tidak hanya akan membantu Anda memperoleh penghasilan lebih melalui bisnis Anda, tetapi juga menyelamatkan Anda dan tim Anda dari waktu dan mencoba usaha yang sia-sia tanpa membuahkan hasil. Semoga bermanfaat!

Dikutip dari : https://digitalmarketer.id/mindset/8-studi-menarik-yang-berguna-bagi-entrepreneur-dalam-menjalankan-bisnisnya/

Filed under: Bisnis No Comments
12Mar/170

Tiga Prediksi “Smart City”

Dr. Renato De Castro (International Advisor, World e-Governments Organization of Cities & Local Governments) memaparkan tiga prediksi tentang Smart City yang harus diketahui para pemimpin kota :

Artificial Intellegence untuk Menanggulangi Resiko Keamanan

Tingkat kriminalitas yang tinggi dan ancaman teroris hanyalah dua dari sekian banyak isu yang harus dihadapi kota di seluruh dunia. Kombinasi antara teknologi dan keamanan berpotensi mengentaskan dan membantu pemerintah kota mengelola isu tersebut. Misalnya dengan mempertimbangkan surveillence system high definition tercanggih untuk dipasang pada jaringan informasi, seperti sosial media, dimana AI mampu memproses data dalam jumlah besar.

Implementasi AI ini tidak hanya dapat memangkas response time saat terjadi situasi genting tetapi juga dapat memprediksi terjadinya kejahatan. Di luar pembahasan tentang kontroversi tindakan monitoring dan privasi, AI berpotensi meningkatkan keselamatan dan keamanan di Smart City untuk kehidupan warga yang lebih nyaman.

Hypercity dan Konsekuensi

PBB menyematkan istilah hypercity pada kawassan pemukiman sekelas conurbation yang menyebar secara besar-besaran dan dihuni oleh lebih dari 20 juta orang. Tokyo menjadi hypercity pertama di dunia pada pertengahan 1960an saat jumlah populasi penduduk di ibu kota Jepang itu melewati batas angka 20 juta. Sampai dengan tahun 2020, lebih banyak hypercity akan bermunculan seperti Mumbai, Delhi, Mexico City, Sao Paulo, New York, Dhaka, Jakarta dan Lagos.

Conurbation terbentuk ketika batas antar kota makin meluas akibat pertumbuhan populasi, perkembangan industri dan teknologi. Conurbation muncul melalui koalisi atau bergabungnya pusat dari beberapa kota yang berdekatan melalui proses urbanisasi dan pembangunan kawasan yang berjalan terus menerus. Istilah Conurbation diciptakan oleh Patrick Geddes tahun 1915 yang berasal dari kata "continous" dan "urban area".

Munculnya sejumlah hypercity diperkirakan akan berujung pada terbentuknya district confederations akibat meningkatnya kompetisi antar kota. Bahkan saat ini pun kota-kota besar sudah mulai berlomba-lomba meraih investasi dan sumber daya manusia terbaik untuk meningkatkan daya saing.

Revolusi Industri Keempat dan Akibatnya terhadap Perekonomian

Revolusi industri keempat diramalkan akan menjadi revolusi paling disruptif. Di era ini, transformasi dapat dikelompokkan menjadi empat dimensi yang unik dan sangat berbeda.

Creative Economy

Menggunakan kreativitas untuk memberi nilai tambah terhadap ekonomi lokal. Profesor & Head of Martin Prosperity Institute di Rotman School of Management University Toronto, Richard Florida mengaitkan bertambah makmurnya klaster-klaster teknologi tinggi, seperti Sillicon Valley di California, Austin Technology Cluster di Texas dan East London Tech City sebagai indikator kebangkitan kelas (masyarakat) kreatif.

Sharing Economy

Layanan seperti yang diberikan Airbnb dan Uber telah mengguncang pasar tradisional. Layanan-layanan baru itupun akan mempengaruhi rantai produksi dan distribusi global, serta mendorong model-model bisnis dan inovasi baru, terutama yang mendukung konsep "access over ownership".

Circular Economy

Sebuah ekonomi dimana tidak ada ruang bagi pemborosan. Hal itu dicapai melalui kesadaran mendaur ulang sumber daya untuk menjamin lingkungan yang berkelanjutan dalam jangka panjang. Hal ini tentu sangat kontras dengan model produksi linear yang kita anut saat ini. Model produksi linear akan mengubah bahan mentah menjadi barang siap pakai yang akhirnya akan menjadi limbah.

Co-Creation

Perusahaan-perusahaan startup menyambut kolaborasi dengan semua stakeholder, karyawan, supplier, pelanggan bahkan pesaing. Konsep ini dapat dikembangkan untuk merangkul co-creation warga kota dengan pengelolaan oleh publik untuk meningkatkan kualitas hidup.

Perubahan-perubahan besar ini ditandai oleh perspektif baru tentang implikasi waktu dan ruang karena kemampuan teknologi dalam menjembatani domain fisik, digital dan biologis. Teknologi hanyalah sebuah kendaraan untuk berubah. Adopsi teknologi harus dilakukan secara menyeluruh, inklusif dan komplit di setiap tingkatannya untuk meraih kesuksesan implementasi proyek Smart City.

Dikutip dari : Infokomputer, Maret 2017.

 

Filed under: Technology No Comments
12Mar/170

Pekerjaan Yang Terancam Akibat Hadirnya Robot

Petugas Call Center

Perusahaan asal New York, IPSoft menghabiskan waktu selama lima belas tahun untuk membangun Amelia. Amelia adalah platform berbasis artificial intellegence yang bisa menggantikan petugas Call Center. Amelia bisa belajar SOP berbicara dengan klien dalam hitungan detik dan berbicara dalam dua puluh bahasa berbeda. Amelia juga dibekali kemampuan untuk menangkap emosi sang penelpon dan cara menghadapinya.

Amelia memang harus belajar agar bisa bekerja dengan baik, namun waktu yang ia butuhkan juga singkat. Contohnya, saat diimplementasikan di sebuah call center, di minggu pertama, Amelia hanya bisa menangani 1 dari 10 penelepon, namun di minggu kedua, Amelia bisa menjawab 6 dari 10 penelepon. Seiring kian canggihnya Amelia, pekerjaan petugas call center yang diperkirakan mencapai 250 juta orang pun akan terancam.

Sopir Truk

Pada Oktober 2016, Otto mencatatkan sejarah untuk pertama kalinya berhasil mengantarkan produk. Keberhasilan ini menjadi spesial karena Otto adalah truk yang bisa berjalan sendiri. Dalam antaran pertamanya ini, Otto berkendara sekitar dua ratus kilometer untuk mengantarkan 50 ribu botol bir.

Keberhasilan Otto ini memang masih diganjal oleh beberapa catatan. Pertama, Otto hanya bisa beroperasi di jalan tol yang kondisi jalannya relatif sederhana, selain itu Otto tidak pernah berganti jalur kecuali terpaksa. Namun keterbatasan tersebut hanya menunggu waktu untuk diatasi.

Petugas Restoran

Meski membuat burger relatif mudah, akan sulit bagi manusia untuk membuat enam burger per menit, namun itulah yang bisa dilakukan mesin pembuat burger buatan Momentum Machine. Dengan menggunakan sistem ban berjalan, mesin ini bisa mempersiapkan semua hal yang dibutuhkan untuk membuat burger, mulai dari memanggang daging sampai memotong tomat.

Sementara di Jepang, telah dibuka restoran sushi yang tidak membutuhkan pelayan. Setiap pesanan akan dikirimkan dari dapur ke meja menggunakan ban berjalan. Ketika selesai makan, pelanggan diminta memasukkan piring dan gelas di jalur yang tersedia dan perangkat makan itu pun akan meluncur ke area cuci. Restoran ini memang masih mempekerjakan manusia, namun jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding restoran sekelasnya.

Petugas Toko

Pada Desember 2016, Amazon membuka sebuah toko retail khusus di Seattle yang tidak membutuhkan petugas. Pengunjung yang ingin membeli barang hanya perlu memasuki toko, mengambil barang yang dibutuhkan, lalu keluar tanpa harus mengantre di kasir. Mereka hanya perlu membawa smartphone dengan aplikasi Amazon Go di dalamnya.

Mengapa ini bisa dilakukan? Menurut Amazon, mereka menggunakan gabungan sensor, artificial intellegence dan machine learning untuk memonitor pergerakan pengunjung, ketika pengunjung mengambil barang tertentu, sensor akan mendeteksi pembelian tersebut dan mencatatnya di aplikasi. Sensorpun cukup canggih untuk mencoret transaksi ketika pengunjung membatalkan pembelian.

Dikutip dari : Infokomputer, Maret 2017

Filed under: Technology No Comments
12Mar/170

Mungkinkah Manusia & Robot Hidup Berdampingan?

Seberapa efisiennya robot? pertanyaa tersebut bisa dijawab sebuah pabrik di Dongguan, Tiongkok. Pabrik perakitan handphone ini sebelumnya mempekerjakan 650 pekerja. Namun setelah menggunakan robot, kini mereka hanya perlu mempekerjakan 60 pekerja saja, alias kurang dari 10%. Tiga pekerja bertugas mengawasi produc line, sedangkan sisanya bertanggung jawab di sisi sistem komputer.

Jumlah pekerja ini bahkan bisa berkurang sampai dua puluh orang saja setelah melihat efektivitas kerja robot tersebut, yang menarik produktivitas pabrik tersebut meningkat secara drastis. Jumlah produk yang dihasilkan meningkat 250%, sedangkan tingkat kesalahan menurun sampai 80%. Semua fakta tersebut menunjukkan, robot memang menawarkan efisiensi. Namun efisiensi tersebut juga harus dibayar dengan harga yang mahal, yaitu hilangnya pekerjaan kita.

Menurut studi yang dilakukan Carl Frey dan Michael Osborne dari Oxford University AS, makin matangnya teknologi robot, automasi dan artificial intellegence berpotensi menghilangkan 47% pekerjaan di AS dalam 20 tahun ke depan, untuk negara berkembang, efeknya lebih dahsyat lagi. Analisis World Bank di tahun 2016 memperkirakan sebanyak dua pertiga pekerjaan di negara berkembang terancam kelangsungannya akibat automasi.

Kekhawatiran juga disampaikan oleh Bill Gates. Pendiri Microsoft ini bahkan menyodorkan wacana pengenaan pajak bagi perusahaan yang menggunakan robot. "Ketika seorang pekerja mendapatkan penghasilan misalnya US$50 ribu, ia akan dikenai pajak penghasilan, pajak jaminan sosial dan lainnya, seharusnya ketika robot mengerjakan pekerjaan yang sama, pajak yang sama pun diterapkan". Pajak yang didapat tersebut kemudian dialokasikan untuk membiayai pendidikan anak dan perawatan manula, dua sektor yang sangat membutuhkan empati manusia. Pengenaan pajak juga bisa menjadi instrumen untuk mengerem laju perkembangan automasi. Ketika kemunculan robot dirasa akan membuat kerugian dibanding keuntungan, kita harus bisa meningkatkan tingkat pajak dan mengerem adopsi automasi.

Akan tetapi, banyak juga ilmuwan yang percaya robot dan manusia akan hidup berdampingan. Salah satunya adalah Profesor Manuela Veloso (Head of Machine Learning di Carnegie Mellon University AS). Dalam pandangannya, di masa depan akan sulit membedakan area yang ditangani manusia atau mesin. Namun baik mesin dan manusia akan saling membutuhkan dan tidak bisa bekerja tanpa bantuan. Hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah berinvestasi di sisi pendidikan. Robot akan makin canggih, tapi ketika kita fokus dengan pendidikan, peradaban manusia juga akan menjadi lebih baik.

Dikutip dari : Infokomputer, Maret 2017.

Filed under: Technology No Comments
8Feb/170

Solusi HRIS Sesuai Kebutuhan (Gadjian.com)

Administrasi HRD yang rumit tak dimungkiri memang dapat menghambat perkembangan perusahaan-perusahaan yang sedang tumbuh. Bisa dibayangkan, berapa banyak waktu dan uang yang habis hanya untuk menghitung gaji, iuran BPJS dan potongan PPh 21. Masalah pelik inilah yang lantas dilihat oleh Gadjian.com sebagai peluang emas.

Pada tahun 2014, Gadjian sudah memiliki software Human Resource Information System (HRIS) version - premise yang bernama HRD Helper. Aplikasi ini memiliki target pasar perusahaan berskala menengah hingga besar (jumlah karyawan lebih dari 500 orang). Namun, Gadjian.com juga kerap menerima permintaan dari perusahaan berskala kecil menengah yang juga ingin menggunakan HRD Helper.

Pada saat awal berdirinya, pendanaan awal Gadjian.com berasal dari dana internal alias bootsrapping. Untuk bisa merasakan layanan Gadjian.com, Afia Fitriati (Co-Founder & CEO Gadjian.com) menetapkan sistem berlangganan bulanan bagi para konsumen mereka. Harga yang dibayarkan juga bervariasi, disesuaikan dengan kompleksitas fitur dan jumlah karyawan perusahaan tersebut. Gadjian.com menggunakan role model layanan sejenis di AS seperti Gusto (sebelumnya Zen Payroll). Misalnya saja Paket Standar yang ditujukan untuk perusahaan berkembang yang sistem payrollnya masih sederhana. Ada pula Paket Sukses yang ditujukan untuk perusahaan yang membutuhkan fitur-fitur lanjutan seperti aplikasi cuti online, perhitungan BPJS dan PPh 21. Yang menarik, Gadjian.com juga menyediakan Paket Gratis untuk perusahaan dengan karyawan maksimal lima orang.

Sisi produk, disebutkan sebagai tantangan utama mereka. Visi dari Gadjian.com adalah menjadikannya benar-benar user friendly. Keinginan untuk membantu sebanyak-banyaknya UKM agar bertumbuh dengan pengelolaan administrasi SDM yang lebih baik mejadi salah satu tujuan mereka. Dengan kata lain, Gadjian.com membuat tugas-tugas administrasi ini menjadi lebih ringan dan murah. Feedback dari user merupakan pengalaman yang paling penting dan berkesan bagi team Gadjian.com karena dari merekalah inspirasi itu muncul.

Dikutip dari : Infokomputer, 2017

Filed under: Startup No Comments
1Dec/160

Plus Minus Kantor Tanpa Bos

Sistem manajemen baru yang menghapuskan hierarki tersebut adalah HOLACRACY. Dikutip dari situs resminya Holacracy.org, sistem ini menggantikan hierarki dalam manajemen tradisional dengan sebuah “sistem operasi” peer to peer yang meningkatkan transparansi, akuntabilitas dan kelincahan organisasi.

Ini terdengar menjanjikan dan cocok untuk perusahaan startup teknologi yang mencari model baru manajemen di tempat kerja untuk menjaga inovasi dan energi anak-anak muda.

Zappos (toko online yang menjual baju dan sepatu berbasis di Las Vegas) telah menerapkannya dan tetap menerapkannya hingga kini walaupun tidak sedikit menuai kontroversi. Google sempat meniadakan para bos di level manajer, namun tak lama kemudian mengadakannya kembali.

ZAPPOS

Pada tahun 2012 CEO Zappos Tony Hsieh bertemu Brian Robertson, CEO perusahaan software Conscious Capitalsm yang dikenal sebagai penemu Holacracy. Menurut Robertson, adalah masalah dalam interaksi manusia (seperti ketidakpuasan, ingin berkuasa dll) yang menghalangi bisnis mencapai potensi maksimalnya.

Hsieh yang terkenal selalu inovatif dalam pendekatan pengelolaan karyawan lansung menyukai konsep ini. Pada tahun 2013, holacracy diperkenalkan di perusahaan e-commerce yang telah diakuisisi Amazon tersebut. Gagasan utama holacracy adalah menyusun atau mengorganisasi perusahaan berdasarkan pekerjaan yang perlu dikerjakan dan bukan berdasarkan orang yang mengerjakannya. Gonzales – Black yang menangani bagian human resources di Zappos bertugas menghapus semua jabatan, termasuk jabatannya sendiri. Organisasi akan beroperasi tanpa seorangpun yang menyandang titel manajer.

Dikutip dari buku Holacracy: The New Management System for a Rapidly Changing World (Brian Robertson, 2015), holacracy membagikan otoritas dan pengambilan keputusan ke seluruh organisasi, dan menetapkan orang-orang di dalamnya bukan berdasarkan hierarki dan jabatan, melainkan berdasarkan peran. Ketika anda mulai mengikuti holacracy, anda belajar membuat struktur baru dan cara pengambilan keputusan, yang memberdayakan karyawan yang paling memahami pekerjaan anda yaitu para frontliner.

Holacracy menghapus job description dimana setiap orang hanya memiliki satu job, hal ini digantikan oleh roles (peran) dimana seseorang mengisi beberapa peran. Di dalam holacracy juga semua aturan bersifat transparan dengan tujuan menghilangkan politik kantor.

GOOGLE, MEDIUM dan GITHUB

Ketika sedang berkembang pesat, Google merasa tidak mungkin lagi memiliki struktur organisasi yang flat. Pada waktu itu direkrutlah manajer-manajer berpengalaman dari perusahaan lain yang kemudian membuat karyawan mearasa suasana tidak “Google” lagi. Pada waktu itulah, Brian dan Page memutuskan untuk menghapuskan posisi manajer. Setidaknya untuk bagian Engineering.

Kondisi tersebut mendapat tentangan dari Head of HR Google, yang merasa manajer tetap diperlukan, tetapi Page tetap bersikeras bahwa orang-orang tidak perlu diatur. Hal ini sempat menimbulkan kekacauan kecil dimana ada yang kehilangan pekerjaan dll. Kebijakan ini ternyata tidak berlangsung lama dan posisi manajer tetap sangat diperlukan karena karyawan memerlukan leader, yang bisa mengajari mereka, dan ketika mereka tidak sependapat dengan rekan kerja mereka, dibutuhkan seseorang yang dapat menengahi dan mengambil keputusan.

Permasalahan yang sering dihadapi banyak organisasi adalah banyak manajer yang tidak efektif. Mereka tidak melakukan fungsi leader dan hanya bisa menyuruh, karena itulah kemudian Google meluncurkan yang disebut project Oxygen, untuk membentuk bos-bos yang lebih baik. Mereka menemukan delapan perilaku manajer hebat yang membuat mereka hebat, yaitu :

  1. Be a good coach.
  2. Empower; don’t micromanage.
  3. Be interested in direct reports success and well being.
  4. Don’t be a sissy; be productive and results oriented.
  5. Be a good communicator and listen to your team.
  6. Help your employees with career development.
  7. Have a clear vision and strategy for the team.
  8. Have key technical skills so you can advise the team.

Kesimpulannya adalah Holacracy sangat sulit diterapkan jika perusahaan sudah berkembang dengan skala yang lebih besar, untuk inisiatif-inisiatif yang lebih besar, yang memerlukan koordinasi antar bagian, akan sulit dan memakan waktu dalam sistem tanpa hierarki.

Dikutip dari : Chandra, Meisia. 2016. Infokomputer.

Filed under: Bisnis No Comments
1Dec/160

UKM harus Kreatif Kemas Produk dan Berani Mengeksekusi

Salah satu modal utama UKM agar sukses di pasar yang kompetitif adalah kreativitas. Selain kreatif dalam strategi, pelaku UKM harus kreatif juga dalam produk yang ia jual dan pasarkan.

Manajemen produk yang kreatif bakal memberi nilai tambah dari merek yang ia tawarkan kepada konsumennya. Dalam pemasaran, diferensiasi suatu produk / jasa dapat diwujudkan dalam tiga hal yakni, konten, konteks (kemasan /cara penyajian) dan infrastruktur (toko, fasilitas dll).

Dikutip dari : Kurniawan, Sigit. 2016. Marketeers.

Filed under: Bisnis No Comments
1Dec/160

Selangkah Lebih Dekat dengan Para Advocates

Meski bukan hal baru, Community Marketing masih layak dilakukan perusahaan atau brand. Apalagi saat ini, customer path telah berubah. Advokasi lebih penting ketimbang pembelian kembali. Namun bukan hal yang mudah untuk menumbuh kembangkan advokasi. Kita sebagai perusahaan, pemilik brand atau pemasar tidak bisa meminta atau bahkan memaksa para konsumen untuk sukarela menjadi advocates kita. Apalagi jika mereka tidak cinta, belum mendapat manfaat dan nilai lebih dari produk kita.

Daripada membuang tenaga dan biaya yang berlebih, Community Marketing bisa menjadi pilihan. Ini adalah strategi marketing dengan mendekati para komunitas yang ada. Bentuknya pun beragam, mulai dari komunitas yang dibuat oleh perusahaan atau brand hingga komunitas independen, dari berbagai sektor industri. Dengan masuk ke komunitas, kita tidak perlu memilah-milah konsumen yang ada sebab, kita sudah mengetahui apa alasan mereka berkumpul. Sebagai brand pun kita harus membuka diri. Biarkanlah mereka menjadi bagian dari merek kita, menjadikan mereka sebagai sentral dan membuka kesempatan bagi mereka untuk memiliki brand mereka.

Komunitas di Indonesia tidak akan pernah mati, sehingga dengan Community Marketing, maka andapun selangkah di depan dalam mendekati dan menghasilkan advocates bagi perusahaan atau brand anda.

Dikutip dari : Setiawan, Iwan. 2016. Marketeers.

Filed under: Bisnis No Comments
11Nov/160

Cara Kreatif untuk Keuangan dan Karir

  1. Good Artist Copy, Great Artist Steal

Bos Apple Steve Jobs mengaku kalimat yang berasal dari ucapan Pablo Picasso itu jadi pegangannya saat mengembangkan komputer Macintosh. Terbukti, produk yang dihasilkan Steve Jobs sukses di pasaran. Apa sebenarnya makna kalimat itu? Mencuri ternyata lebih baik ketimbang meniru. Dalam konteks ini, mencuri itu perbuatan yang dibenarkan dengan tujuan untuk up grade skill diri sendiri. Mencuri adalah proses mengamati orang lain, memahami, dan kemudian mengembangkan dengan ciri khas sendiri.

Toh, curi-mencuri soal ini sesuatu yang lumrah kok. Tengok saja di sepakbola. Banyak yang mencuri gaya bermain Chrstiano Ronaldo, Zidane Zidane, David Becham, dan lain-lain. Lalu gaya bermain itu dikembangkan sehingga menjadi identitas diri sendiri.

      2. Routine is Killing Your Creativity

Kreatif itu selalu dekat dengan orang yang selalu melakukan hal yang baru. Sebaliknya, dia akan menjauh dengan orang yang punya aktivitas yang sama secara terus-menerus. Di situlah makna routine is killing your creativity. Orang kreatif tak pernah bisa diam. Dia selalu bergerak dinamis, berpikir terus, dan tak kapok sama tantangan. Mereka yang ingin meningkatkan ‘ilmu’ kreatif-nya mesti lewati keberanian melakukan hal-hal yang belum pernah atau jarak dilakukan sebelumnya.

      3. Do Something New

Ayo, berbuat sesuatu yang baru. Itu cukup jadi modal kreatif. Ada hasrat dan keinginantahuan yang kuat terhadap hal yang baru. Di kepala selalu muncul pertanyaan berulang-ulang tentang bagaimana dan mengapa. Jadikanlah aktivitas melakukan sesuatu yang baru sebagai kebiasaan yang selalu ditanamkan sehari-hari. Lalu tanpa di sadari, suatu hari nanti tiba-tiba bakal punya temuan yang akan menggegerkan jagad raya. Hilangkan rasa takut. Mulailah menerapkan prinsip ‘do something new’.

  1. Watch and learn from the best!

Punya kebiasaan mengamati orang lain juga jadi langkah awal menjadi orang kreatif. Pendek kata, jangan suka cuek bebek sama di sekeliling. Kembangkan sikap kepo. Dari situ tanpa disadari pula akan lahir ide-ide yang sejatinya berasal dari inspirasi yang dilakukan orang lain.

  1. Making friends with creative people

Bergaulah dengan orang-orang kreatif. Percaya deh, kreatif itu seperti virus yang menular. Kumpul-kumpul sama orang kreatif akan membantu untuk memahami bagaimana mereka berpikir, bertindak, berkreasi, dan mengeksekusi ide. 

  1. Me time

Nikmati waktu me time seoptimal mungkin. Aktivitas yang padat pasti menguras pikiran dan membuat bete otak. Kejenuhan bakal berakibat buruk sama kreativitas. Jadi, aturlah waktu untuk diri sendiri. Itu baru sebagian formulanya lho. Pasti masih banyak cara membuat diri menjadi sosok yang kreatif.

Masing-masing individu punya caranya sendiri dalam mempelajari sisi kreativitasnya. Jadi tak bisa dipukul rata. Hanya sebagai langkah awal, cobalah dengan menambah jam terbang atau pengalaman. Carilah figur idola dan kemudian modifikasikanlah sesuai dengan cara dan gaya kamu. Lalu jangan ragu dengan ide yang muncul. Kembangkan dan segera eksekusi ide itu. Siapa tahu nun jauh di luar sana, ada orang lain yang punya ide serupa dan langsung action.

Filed under: Quotes No Comments
11Nov/160

Menumbuh Suburkan Mentalitas Founder di Perusahaan

Anda mungkin sudah sering mendengar pentingnya merekrut karyawan dengan mindset founder. Hal ini cukup populer di kalangan startup teknologi. Salah satu yang sering mengkampanyekan founder’s mindset adalah Reid Hoffman (Co – Founder Linkedin).

Salah satu alasan yang membuat banyak karyawan terbaik meninggalkan perusahaan adalah mereka merasa kurangnya penghargaan dan reward atas pekerjaannya yang telah dilakukan dengan baik, selain itu juga adanya penyebab faktor internal lainnya, yakni melebarnya jarak dengan front lines, kehilangan akuntabilitas dan tumbuh suburnya birokrasi.

Setiap pemilik perusahaan pastilah senang memiliki karyawan dengan perilaku seperti founder. Beberapa contoh cara berpikir seperti founder dari pengalaman sehari-hari misalnya :

  • Founder cenderung berpikir dalam “big picture”, mereka menunjukkan rasa ingin tahu pada semua aspek dalam bisnis.
  • Founder biasanya sangat fokus pada apa yang dikerjakan dan bisa mengatakan tidak pada hal lain yang berada di luar fokus utama.
  • Founder adalah owner, tentu saja rasa memilikinya tinggi.
  • Founder juga biasanya adalah pemimpin yang hebat, yang bisa menginspirasi munculnya perilaku terbaik dari timnya.
  • Founder selalu menentang birokrasi dan tidak menerima status quo dalam mencapai visi mereka.

Melalui penelitian selama satu dekade terhadap sejumlah perusahaan di lebih dari empat puluh negara, Zook dan Allen (Bain & Company) menemukan kuatnya hubungan antara mentalitas founder dengan kemampuan perusahaan mempertahankan kinerja yang baik. Hal ini terjadi tidak hanya di perusahaan startup saja, tetapi pada berbagai tipe perusahaan yang lain. Mereka memformulasikan sifat-sifat yang termasuk dalam mentalitas founder yaitu:

  • Memiliki misi dan tujuan yang berani.
  • Obsesi yang tanpa ampun dengan barisan depan. Sebagian besar founder adalah salesperson pertama di perusahaan sehingga mereka sangat tertarik pada setiap detail dalam pengalaman customer dan cenderung menggunakan insting yang terbangun dari pengalaman front liner ini dalam membuat keputusan.
  • Memiliki mentalitas owner yang kuat.

Sebagai leader, inilah yang harus anda lakukan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung berkembangnya jiwa entrepreneurship dan mentalitas founder pada tim anda:

  • Secara aktif mendorong percakapan. Makin banyaknya hierarki, akan dapat menyulitkan seorang karyawan menyampaikan ide dan aspirasinya. Tidak jarang mereka merasa tak berdaya serta frustasi dengan politik internal sehingga dapat menyebabkan seorang karyawan yang aspiratif hengkang.
  • Menindaklanjuti ide.
  • Mengizinkan kegagalan dan resiko.
  • Memberi reward pada inovasi

Dikutip dari : Chandra, Meisia. 2016, Infokomputer.

Filed under: Bisnis No Comments
Skip to toolbar