Keberagaman Gender dan Kinerja Perusahaan

Google sejak tahun 2014 secara rutin mempublikasikan data demografi karyawannya setiap tahun, untuk menunjukkan keseriusan mereka dalam menciptakan budaya yang lebih inklusif. Suatu gerakan yang oleh karyawan Google sendiri disebut sebagai gerakan nyata walaupun bergerak lambat.

Pada tahun 2017, 31% dari total karyawan Google adalah wanita, sementara dari bagian teknologi saja hanya 20% saja pekerja wanita. Disini terjadi peningkatan dibanding tahun lalu yang hanya 17% pekerja wanita di bidang teknologi. Dari sisi leader, satu dari empat leader di Google adalah wanita atau 25%.

Raksasa teknologi Facebook pun hampir juga sama. Dari total karyawan di seluruh dunia, hanya 35% wanita pada tahun 2017. Hal ini sedikit meningkat dari tahun 2016 (33%). Di ranah teknologi, terjadi sedikit kenaikan juga, dari 17% menjadi 19%. Tidak jauh berbeda dengan angka yang ditunjukkan Google diatas.

Data dari perusahaan lain pada tahun 2016 tentang jumlah komposisi pekerja wanita dibidang teknologi yaitu Linkedin 42%, Amazon 39%, Apple 32%, Microsoft 26%, Salesforce 30% dan Uber 36%.

Berdasarkan data diatas menunjukkan bahwa keberagaman gender bukanlah sesuatu yang mudah direalisasikan, namun bukan berarti mereka menganggap remeh isu ini. Sebaliknya, mereka terus berusaha untuk meningkatkan keberagaman. Mengapa demikian???

Bukan hanya soal keadilan saja, tetapi riset menunjukkan bahwa keberagaman juga mempunyai dampak ekonomi. Hasil penelitian Morgan Stanley yang dipublikasikan pertengahan tahun lalu menunjukkan, perusahaan teknologi yang memiliki tim yang beragam secara gender akan menunjukkan performa bisnis yang lebih baik. Selama lima tahun terakhir, perusahaan yang lebih beragam gender menghasilkan hasil bisnis 5,4% lebih tinggi daripada perusahaan yang kurang beragam dari sisi gender.

Setelah menganalisis 1.600 korporasi dari berbagai sektor, Morgan Stanley menemukan bahwa perusahaan dengan keberagaman gender cenderung memiliki fundamental yang lebih kuat, dan kinerja dan penyesuaian resiko yang lebih baik. Terutama dibidang teknologi, korelasi antara keberagaman gender dan kinerja lebih tajam. Alasan yang disebutkan adalah keberagaman gender berkolerasi dengan meningkatnya produktivitas, inovasi, retensi karyawan dan manajemen resiko yang lebih baik. Semua itu adalah faktor-faktor yang penting dalam mendukung kinerja perusahaan.

Hal ini didukung oleh hasil penelitian McKinsey tentang keberagaman dan kinerja finansial. Riset yang dimulai sejak 2015 dan diupdate awal tahun 2018 ini menganalisis lebih dari 1000 perusahaan di dua belas negara. McKinsey menemukan bahwa perusahaan yang lebih beragam gender, khususnya di level eksekutif, menghasilkan probabilitas 21% lebih tinggi dibandingkan perusahaan lain.

 

Dikutip dari : Infokomputer. April 2018.

categories Bisnis | comments Comments (1)

Mengasah Kemampuan “Narrative Storytelling” Calon Data Scientist

Data scientist adalah individu dengan kemampuan mengumpulkan data, memproses data sampai mengekstraksi informasi di dalamnya, serta mampu memvisualisasikan dan mengkomunikasikan hal-hal yang berharga dari informasi tersebut.

Lebih Menyenangkan Dengan Cerita

Pada satu sesi perkuliahan, ditampilkan sebuah gambar kemudian melontarkan pertanyaan tentang informasi apa yang diperoleh dari gambar tersebut. Segera terlontarlah jawaban “korelasinya positif dan ragam datanya besar”, “X yang makin besar diikuti kecenderungan Y nya juga besar” dan lain-lain.

Penggunaan jargon teknis tersebut tidaklah sepenuhnya salah, tetapi tidak selalu mudah bagi orang lain untuk mengerti dan penyampaian seperti itu cenderung tidak menarik. Mereka kemudian diminta memikirkan kalimat yang terdengar lebih menarik dan dapat memberikan insight baru. Kemudian hasilnya adalah “suami umumnya lebih tinggi dibandingkan istrinya”, “laki-laki yang tidak terlalu tinggi umumnya beristri pendek” dan lain sebagainya.

Pengalaman ini memberikan pelajaran bagi mahasiswa yang juga calon data scientis bahwa menyampaikan informasi yang mudah dicerna oleh orang lain itu menyenangkan. Kemampuan teknis seperti menangani data, permodelan dan komputasi modern jelas menjadi kompetensi utama yang harus dimiliki. Namun tidak itu saja, data dan informasi akan bernilai jika organisasi atau perusahaan dapat menmbuatnya sebagai rencana aksi bagi peningkatan performa organisasi.

Berikut ini adalah beberapa langkah yang dapat mengasah kemampuan calon data scientist dalam storytelling:

1. Memberikan pengalaman berhadapan dengan kasus nyata

Kasus nyata yang berasal dari organisasi akan membuat para calon data scientist yaitu mahasiswa lebih antusias dibanding dibanding kasus rekaan yang imajiner.

2. Menyodorkan data yang masih mentah

Tahapan kritis pada proses storytelling berawal dari pemahaman terhadap data. Dengan pengalaman menggunakan data mentah, mahasiswa terlibat sejak proses penyiapan data. Para calon data scientist akan memahami pentingnya validitas data, perlunya mencari tahu sumber data, bagaimana data dihasilkan dan apakah relevan digunakan. Semuanya penting dalam membangun cerita.

3. Menyediakan kesempatan berlatih presentasi

Pada latihan ini dipraktikkan kaidah-kaidah storytelling, misalnya memahami siapa pendengar dan latar belakangnya, apa yang menjadi perhatian pendengar, menggunakan pilihan kata yang tepat serta terstruktur dan tidak bertele-tele. Termasuk di dalamnya adalah kemampuan memilih dan menggunakan teknik visualisasi yang tepat.

4. Memberikan bimbingan

Instruktur perlu membimbing agar calon data scientist dapat menyusun narasi secara runtut dan memuat informasi secara utuh. Umumnya narasi diawali dengan cerita singkat untuk menarik perhatian pendengar, dilanjutkan dengan deskripsi masalah secara jelas, paparan solusi dan diakhiri dengan action call.

 

Dikutip dari : Infokomputer. April 2018.

categories Bisnis | comments Comments (0)

Warung Pintar : Menjaga Tradisi Ngumpul

Warung memang telah lama  menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia. Di wilayah Jakarta dan sekitarnya, jumlah warung mencapai 2,1 juta. Namun di era digitalisasi saat ini, warung praktis belum mendapatkan sentuhan teknologi. Oleh sebab itu pada bulan September 2017 hadirlah Warung Pintar yang bertujuan untuk membantu para pemilik warung yang selama ini termarginalkan secara ekonomi dan teknologi karena anggapan bisnisnya yang kecil.

Untuk menyulap Warung menjadi “Pintar”, Agung Bezharie CEO Warung Pintar, akan melakukan pembenahan dalam dua hal yaitu yang terlihat dari sisi konsumen adalah aspek fasilitas mulai dari wifi gratis, televisi sampai colokan listrik dan sisi internal. Jika diidentifikasi, sebenarnya ada tiga masalah utama yang harus dihadapi bisnis warung yaitu [1] buying, [2] selling dan [3] monitoring.

Disisi buying, pemilik warung kesulitan membeli supply dengan harga yang murah. Hal ini kemudian berpengaruh ke sisi selling, karena warung tidak bisa berkompetisi dengan minimarket modern. Sedangkan dari sisi monitoring, pemilik warung tidak pernah mengetahui persis pendapatan maupun keuntungan yang mereka dapat.

Solusi yang ditawarkan untuk sisi buying adalah Warung Pintar akan menjadi distributor bagi pemilik warung, dengan membuat supply order system yang terhubung ke principal, karena membeli dalam volume yang besar, Warung Pintar akan memiliki posisi tawar yang tinggi sehingga mendapatkan harga kompetitif. Alhasil ketika produk sudah sampai ke warung harganya bisa kompetitif. Disisi selling adalah menyediakan fasilitas yang membuat konsumen betah berlama-lama di warung. Warung juga dilengkapi dengan kemampuan menjual produk berbasis digital seperti pulsa telepon, pulsa listrik atau pembayaran BPJS. Dari sisi monitoring adalah pemilik warung akan dilengkapi dengan POS dan aplikasi manajemen keuangan.

 

Dikutip dari : Infokomputer. April 2018.

categories Bisnis | comments Comments (0)

Startup Unicorn dari Asia Tenggara

Gelar Unicorn atau Kuda Bertanduk Satu yang dalam tradisi Eropa disebut sebagai simbol kesucian dan keanggunan. Gelar ini diberikan kepada perusahaan startup yang memiliki nilai valuasi sebesar $1 miliar. Berikut ini adalah perusahaan startup di Asia Tenggara yang termasuk dalam kategori unicorn.

  1. Grab (Malaysia)

Merupakan perusahaan ridesharing dan rival terkuat Gojek di pasar Indonesia saat ini. Grab telah beroperasi di 30 kota diseluruh negara yaitu Malaysia, Filipina, Thailand, India, Singapura, Vietnam dan Indonesia. Sampai saat ini, total valuasi Grab telah mencapai US$ 6 miliar.

  1. Lazada (Singapura)

Setelah mengalami kerugian yang cukup besar, akhirnya Lazada diakuisisi oleh Alibaba pada April 2016. Jika dilihat dari nilai valuasi Lazada saat ini sudah mencapai nilai US$ 3,2 miliar.

  1. SEA Group (Singapura)

Awalnya startup ini bernama Garena dan hanya fokus pada platform game saja. Namun kini perusahaan ini telah berubah nama menjadi SEA Group, dan telah memiliki lini bisnis diantaranya Garena, Shopee, dan  Airpay. Perusahaan ini didirikan oleh Forrest LI pada tahun 2009 dan nilai total valuasinya senilai US$ 4,5 miliar.

  1. VNG Corporation (Vietnam)

Pada awalnya perusahaan ini hanya berfokus pada games saja, tetapi melihat perkembangan dunia digital saat ini perusahaan VNG berkembang mulai dari aplikasi streaming musik dan video, media sosial, e-commerce dan sebagainya. Meskipun memiliki banyak platform tetapi perusahaan ini hanya berkembang di negaranya saja yakni Vietnam. Nilai valuasinya bernilai lebih dari US$ 1 miliar.

  1. Revolution Precrafted (Filipina)

Sebuah perusahaan startup yang didirikan oleh Robbie Antonio yang memang telah terkenal pemain hebat dalam bidang real estate di Filipina. Nilai valuasi untuk perusahaan ini adalah lebih dari US$ 1 triliun.

  1. Gojek (Indonesia)

Merupakan startup pertama di Indonesia yang memiliki predikat unicorn, bagaimana tidak Gojek berkali-kali mendapatkan suntikan dana dari dua investor yaitu Astra Internasional dan Djarum awal tahun 2018. Nilai total valuasinya diperkirakan US$ 4 miliar atau sekitar Rp. 53,4 triliun.

  1. Tokopedia (Indonesia)

Tokopedia memiliki nilai valuasi sebesar US$ 1,2 miliar.

  1. Bukalapak (Indonesia)

Dibanding startup yang disebutkan sebelumnya, Bukalapak merupakan startup yang baru mendapatkan gelar unicorn. Sampai saat ini belum diketahui berapa nilai valuasi dari perusahaan ini karena pihak Bukalapak sendiri belum ingin memberikan informasi.

  1. Traveloka (Indonesia)

Startup yang bergerak dibidang reservasi pesawat dan hotel ini memiliki nilai valuasi US$ 2 miliar.

 

Dikutip dari : Infokomputer. April 2018.

categories Startup | comments Comments (2)

Ladang Data di Facebook

Jika anda sakit dan pergi berobat, dokter akan memberikan serangkaian pertanyaan. Namun, pertanyaan yang diajukan paling banyak 3-4 pertanyaan, lebih dari itu anda mungkin merasa tidak nyaman dan mulai berpikir bahwa dokter tersebut “kepo”.

Ironisnya, kebanyakan dari kita justru tidak terganggu ketika Facebook menanyakan banyak hal tentang diri kita, yang sebenarnya cukup pribadi, contohnya tanggal lahir, tempat tinggal, sejarah sekolah, nama teman dekat kita dan lain-lain. Tak heran jika Facebook kemudian bisa melakukan profiling secara mendetail terhadap pengguna.

Berikut adalah beberapa kategori yang mungkin bisa menyadarkan betapa Facebook sangat memahami anda. Beberapa data yang tertulis disini mengacu pada akun Facebook penulis.

  1. Kontak

Facebook memiliki semua kontak yang ada di smartphone anda, baik itu alamat, email maupun nomor telepon. Facebook juga memiliki log telepon masuk dan keluar yang pernah anda lakukan. Pada kasus ini datanya tercatat mulai dari 2016.

  1. Topik terkait iklan

Berdasarkan profil anda, Facebook akan mencatat topik iklan yang sesuai. Dalam kasus ini, profil iklan meliputi toko online, produsen notebook dan lain-lain.

  1. Messege

Setiap pesan yang anda kirim di platform Facebook akan disimpan oleh Facebook.

  1. Lokasi

Setiap kali anda melakukan check in, Facebook akan mencatat lokasi anda.

  1. Apps

Ketika anda menggunakan Facebook login untuk masuk ke aplikasi, semuanya dicatat oleh Facebook.

  1. Foto, Video dan Music

Termasuk stasiun radio yang didengarkan oleh pengguna.

  1. Search dan Browsing History

Semua situs yang memiliki tombol Facebook Like akan memberitahu Facebook tentang browsing history anda.

 

Dikutip dari : Infokomputer. April 2018.

categories Technology | comments Comments (0)

Ampuhnya Seorang “Evangelist”

Di era digital, sebuah merek sangat mudah untuk dibicarakan dimana saja dan ketika sebuah brand diserang oleh para haters, para evangelist atau advocates yang akan membela produk anda. Tak hanya membela, pada advocates ini juga tak ragu untuk merekomendasikan produk anda ketika mereka mendapatkan pertanyaan “produk mana yang terbaik?”.

Consumer path memang telah berubah dari 4A menjadi 5A, yaitu Aware (mengenal), Appeal (tertarik), Ask (melakukan riset), Act (membeli dan menggunakan), dan Advocate (merekomendasikan). Advocate menjadi lebih penting daripada Act Again karena sangat powerful dan bersifat jangka panjang.

Menurut analis Marketeers, setidaknya ada tiga hal yang menjadi kunci agar sebuah brand bisa memiliki Brand Advocacy Ratio (BAR) yang baik, yaitu [1] Merek harus memiliki diferensiasi, [2] Memperkuat distribusi, [3] Bersahabat dengan digitalisasi atau 3D.

 

Dikutip dari : Marketeers. March 2018.

categories Bisnis | comments Comments (0)

Kelangkaan Talenta “Ilmuwan Data” (Data Scientist) di Dunia

Berdasarkan survei yang diadakan oleh Sharing Vision di Indonesia tahun lalu, 74% dari 35 orang responden mengaku berpotensi mengadopsi Big Data. Namun, 48% diantara responden mengatakan bahwa kendala utama dalam mengadopsinya adalah SDM. Dan untuk itu, kompetensi yang paling dibutuhkan adalah kemampuan menganalisa big data.

Disebut langka karena bursa tenaga kerja belum mampu memasok sumber daya manusia yang sesuai kebutuhan industri, terutama dalam hal skillset. Bursa tenaga kerja lebih banyak didominasi oleh SDM yang unggul dalam hal teknis tapi business acumen-nya masih perlu diasah lagi.

Dua Cara Atasi Kelangkaan Data Scientist

Yang dibutuhkan oleh industri saat ini adalah SDM yang memiliki keseimbangan antara pengetahuan, teknis dan soft skill. Soft Skill ini antara lain kemampuan komunikasi, problem solving, dan tentunya sense of business.

Melihat tantangan tersebut, ada dua cara yang bisa dilakukan oleh industri dan institusi akademis, yaitu (1) Dari jalur akademis / formal, kalau memang calon data scientist ingin digodok dengan serius di kampus, desain kurikulum harus melibatkan kalangan praktisi, (2) Dengan memberdayakan kekuatan komunitas. Poinnya adalah setelah lulus kuliah, bagaimana talenta ini bisa terhubung satu sama lain, belajar real use case dari para praktisi langsung dan juga cara berpikir sebagai seorang data scientist.

Selain itu peran pemerintah dalam mem-proteksi para data scientist juga diperlukan, misalnya saja ketika ada perusahaan-perusahaan di Indonesia yang membutuhkan tenaga data scientist, pemerintah lewat regulasinya membantu memastikan bahwa project-project perusahaan tersebut dikerjakan oleh SDM lokal.

Dukungan Manajemen

Memasuki lingkungan bisnis, data scientist juga mungkin menghadapi tantangan antara lain, menyebarkan awareness di kalangan user, karena pemanfaatan data adalah sesuatu yang baru dan cenderung bersifat kompleks.

Dengan pertumbuhan jumlah data yang dihasilkan oleh bisnis, ke depannya proses pengambilan keputusan akan mengarah pada data oriented atau data driven decision making. Data dimanfaatkan tidak hanya untuk kebutuhan pelaporan saja. Untuk itu, tim data science harus mampu memetakan problem yang sedang dihadapi bisnis secara menyeluruh, sebelum memecahnya ke masalah-masalah yang lebih kecil di setiap divisi. Dan ini membutuhkan kerjasama antar bagian yang ada di perusahaan. Setelah itu tim data science akan memfasilitasi pemecahan masalah dengan menggunakan data yang ada.

 

Dikutip dari : Threestayanti, Liana. 2017. Oktober, Infokomputer.

categories Bisnis | comments Comments (0)

Strategi Teknologi Industri Retail untuk Kembali Bersinar

Badai tengah mengguncang bisnis retail dunia. Beberapa nama besar di bidang retail sudah mengumumkan penutupan gerai mereka. Business of Fashion mengabarkan bahwa Ralph Lauren secara resmi mengumumkan akan menutup gerainya di Fifth Avenue, NY. Padahal, lokasi tersebut merupakan simbol kebesaran merek Ralph Lauren.

Di Indonesia sendiri, beberapa peritel sudah dan akan menutup beberapa gerai, seperti 7-Eleven dan PT. Matahari Department Store. Menurut Nielsen, gerai-gerai tersebut terpaksa ditutup karena turunnya daya beli masyarakat, sedangkan menurut beberapa ahli, penurunan daya beli ini akibat terjadinya pergeseran pola konsumsi masyarakat dari good based consumption menjadi experience based consumption.

WALMART (Menjadi Perusahaan Digital)

Menyadari perubahan yang terjadi, Walmart membuat langkah berani dengan membuat platform e-commerce sendiri pada tahun 2009 yaitu Walmart Marketplace. Sejak saat itu, Walmart sudah menghasilkan berbagai layanan digital untuk keperluan belanja. Aplikasi mobile Walmart, mesin pencari dan Shopycat adalah beberapa diantaranya. Aplikasi Walmart dapat digunakan pelanggan untuk membuat daftar belanja dengan input suara, menawarkan kupon digital, penawaran tertarget dan melakukan navigasi dalam ruangan.

Salah satunya, Savings Catcher mencocokkan harga dari toko online lainnya dengan harga Walmart saat ini. Jika menemukan penawaran yang lebih murah, sistem mengeluarkan kupon sepadan dengan perbedaannya sehingga pengguna mendapatkan produk dengan harga terendah. Saat ini, pendapatan dari bisnis e-commerce menyentuh angka 3% dari total pendapatan Walmart.

Perubahan ke arah digital yang dilakukan Walmart dilakukan untuk menambah pengalaman pelanggan ketika berbelanja. Walmart secara aktif menggunakan data pelanggan untuk mempersonalisasi pengalaman berbelanja, memberi penawaran, kupon, rekomendasi produk yang lebih relevan, dan mempermudah checkout dan pembayaran.

ALIBABA (Dari Online ke Offline)

Alibaba melakukan hal berbeda, disaat banyak peritel beralih ke online, Alibaba justru menyasar pasar offline dengan membuka 60 kios sementara. Hal ini dilakukan mengingat baru ada 18% toko ritel di Tiongkok yang sudah online. Alibaba menyebut konsep ini sebagai New Retail, dimana ada integrasi proses belanja offline dan online.

Kios sementara tersebut memiliki magic mirror yang bisa digunakan oleh pelanggan untuk mencoba secara virtual. Untuk proses pembayaran, mereka menggunakan QR code yang terhubung dengan Alipay.

STARBUCKS (Membangun Keterikatan)

Dalam industri ritel makanan dan minuman, Starbucks adalah contoh terbaik. Pada tahun 2009, Starbucks membangun Starbucks Digital Ventures dan produk pertamanya adalah aplikasi mobile Starbuks. Aplikasi tersebut menyediakan sistem loyalitas digital yang mudah digunakan. Pelanggan bisa menukarkan poin loyalitas tersebut dengan produk-produk Starbucks. Program loyalitas baru ini menggantikan jenis keanggotaan kuno yang mengharuskan verifikasi nomor telepon. Hasilnya adalah lebih dari 12 juta pelanggan bisa digaet Starbucks di USA.

Inovasi digital lain yang diperkenalkan oleh Starbucks adalah Mobile Order & Pay (MOP). Pelanggan bisa memesan minuman terlebih dahulu dan membayarnya melalui aplikasi, dan mengambil pesanannya di toko. Sudah jelas, Pelanggan dan toko akan terbantu karena berkurangnya antrean dan waktu tunggu bagi pelanggan. Selain itu, Starbucks juga tengah mendorong pembayaran digitalnya dengan mempersiapkan peluncuran kartu prabayar Rewards dengan Chase Bank.

DOMINO’S PIZZA (Pioner Retail on Demand)

Merupakan salah satu pemain awal di era transformasi digital industri retail. Diantara inovasi digital Domino’s Pizza yang paling signifikan adalah program loyalitas Piece of the Pie Rewards dan Aplikasi mobile Point of Sales (PULSE).

Aplikasi PULSE memiliki berbagai macam fitur canggih seperti rute driver otomatis, pemesanan persediaan, pelacakan pizza, pemesanan pizza, dan pizza custom secara online. Dominos juga memiliki aplikasi Anyware yang  membuat pelanggan dapat memesan lebih dari tiga belas juta kombinasi pizza, menggunakan hampir semua perangkat, termasuk Smartwatch, TV Pintar, Google Home atau Amazon Echo. Layanan ini juga terintegrasi dengan layanan pihak ketiga, memungkinkan pelanggan untuk melakukan pemesanan menggunakan pesan teks, obrolan Facebook Messenger bahkan Twitter.

Perusahaan ini juga memperluas kemitraannya dengan perusahaan teknologi lainnya dan menguji teknologi eksperimental, termasuk pengiriman pizza menggunakan drone.

 

Dikutip dari : Husni, Afit. 2017. Oktober, Infokomputer.

categories Technology | comments Comments (0)

Sebutan Festival Belanja Online Terbesar di Setiap Negara

1. Single’s Day

Pertama kali muncul di China pada tahun 1990 dan awalnya hanya merupakan sebuah acara sekolah yang diperuntukkan bagi para jomblo untuk mencari pasangannya. Namun, pada tahun 2009, istilah ini dipopulerkan sebagai Online Sale oleh Alibaba ke seluruh dunia dan hingga saat ini diperingati setiap tanggal 11 November. Saking populernya, Online Sale ini mampu mengalahkan penjualan Cyber Monday di tahun 2012.

2. Cyber Monday

Istilah ini dipopulerkan pertama kali oleh Shop.org pada tahun 2005. Dinamakan Cyber Monday karena menurut riset yang dilakukan, hari paling populer untuk belanja online adalah hari Senin. Acara ini diperingati setiap tanggal 27 November setiap tahunnya.

3. Online Revolution

Festival ini muncul pada tahun 2012 dengan Lazada Indonesia sebagai pelopor kampanye online nasionalnya, sehingga istilah Online Revolution sendiri lebih populer dibandingkan dengan Single’s Day di Indonesia. Acara ini diperingati pada tanggal 11 November.

4. Black Friday

Awalnya, istilah ini memang tidak ada hubungannya dengan belanja online. Namun, pada akhirnya istilah ini diperingati sebagai hari diskon terbesar bagi para pemilik retail, dimana umumnya akan terjadi antrian pengunjung yang sangat besar. Dari fenomena inilah akhirnya Black Friday diadaptasikan sebagai online shopping yang diselenggarakan pada tanggal 24 November oleh para penggiat e-commerce untuk meningkatkan penjualan pada periode tersebut.

5. Festival Belanja Online

Dimulai pada tahun 2014 yang didirikan atas kerjasama para penggiat industri e-commerce di Indonesia. Menariknya, acara tahunan ini turut mendapatkan dukungan dari UNICEF pada festival belanja online tahun 2015. Acara ini diselenggarakan selama satu minggu setiap tanggal 23-30 November. Festival yang diikuti oleh 75 partisipan ini memiliki total transaksi penjualan tiga kali lebih besar daripada penjualan biasanya berkat promo potongan harga hingga 90% yang ditawarkan.

6. Hari Belanja Online Nasional (HARBOLNAS)

Lahir pada tanggal 12 Desember 2012 sekaligus dikenal sebagai puncak festival belanja online terbesar di Indonesia, meskipun awal kemunculannya hanya diikuti oleh 7 e-commerce, tetapi saat ini sudah diikuti oleh 72 e-commerce yang ada di Indonesia.

 

Dikutip dari : Infokomputer. Desember, 2017.

categories Technology | comments Comments (0)

Masa Depan Perkantoran Dibayangi Tren Gig Economy

Bila kita melihat dunia pekerjaan sebagai sebuah spektrum, dimana ujung yang satu adalah pekerjaan dan jenjang karir, dan ujung yang lain adalah pengangguran. Maka bisa dikatakan Gig Economy berada diantaranya.

Di dunia pekerjaan tradisional pekerja biasanya diminta datang ke kantor lima hari seminggu, delapan jam sehari. Sementara pemberi kerja di Gig Economy berfokus sepenuhnya pada KINERJA, bukan kehadiran di kantor.

Perusahaan saat ini lebih memilih melakukan kontrak dalam jangka waktu tertentu dengan karyawan, daripada mengikat karyawan secara Full Time dengan pengabdian jangka panjang. Di sisi lain, karyawan generasi sekarang juga mendambakan fleksibilitas yang tinggi. Banyak yang rela mengorbankan kompensasi ekonomi demi otonomi dan keselarasan dengan misi pribadi.

Untuk sukses di Gig Economy, dibutuhkan pola pikir yang baru, keahlian yang spesifik dan perangkat pendukung yang update. Gig Economy adalah ekonomi keahlian, dimana para pekerja dengan keahlian adalah pemenangnya. Semua dimulai dengan mengubah mindset anda dan mungkin, berhenti mencari pekerjaan.

 

Dikutip dari : Infokomputer. Oktober, 2017.

categories Bisnis | comments Comments (0)